alexametrics
24.1 C
Jember
Friday, 1 July 2022

Banjir Rendam 5.611 KK

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jember dikepung banjir. Data yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), total ada enam kecamatan yang terendam. Enam wilayah itu adalah Kecamatan Tanggul, Bangsalsari, Gumukmas, Puger, Ambulu, dan Tempurejo. Bencana ini mengakibatkan 5.611 kepala keluarga (KK) terdampak. Terbanyak berada di Tempurejo dengan jumlah 3.920 KK.

Banjir yang melanda Dusun Kraton dan Dusun Curahlele, Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo, misalnya. Di desa ini sebanyak 1.800 KK terdampak. Air mulai naik begitu cepat sekitar pukul 11.00. Ketinggian air yang masuk ke dalam rumah warga hingga 1,5 meter. Terparah di Gang III Dusun Kraton. “Sekarang ini banjir yang paling parah. Sebelumnya tidak separah ini,” kata Misri, warga setempat.

Saat air mulai naik, perangkat desa segera melaporkan ke pemerintah kecamatan yang diteruskan ke BPBD Jember. Petugas gabungan yang berasal dari unsur TNI, polisi, BPBD, Tagana, Basarnas, dan relawan kebencanaan segera turun ke lokasi. Mereka melakukan evakuasi kepada kelompok rentan. Seperti lansia, perempuan, dan anak. “Terutama warga yang rumahnya di pinggir kebun di ujung selatan sendiri. Soalnya, posisi bangunan rumah memang berdekatan dengan sungai dan rendah,” ujarnya.

TEROBOS BANJIR: Seorang bapak sambil menggendong putranya yang masih balita didampingi istrinya berupaya menyelamatkan diri dari bencana banjir.
Mobile_AP_Rectangle 2

Petugas gabungan juga melakukan evakuasi terhadap puluhan warga yang tinggal di Gang III Dusun Kraton. Bahkan, petugas sampai menerjunkan perahu karet milik BPBD Jember untuk menjemput warga ke rumah-rumah yang terendam banjir. Mereka kemudian dibawa ke lokasi yang lebih aman di Balai Desa Wonoasri. Di lokasi itu juga didirikan posko kesehatan dari Puskesmas Curahnongko.

Warga juga bergotong royong menyelamatkan penduduk yang terdampak dan harta bendanya. Setelah mengetahui air naik cukup cepat, warga membawa kendaraan bermotor dan ternak ke lokasi aman atau ke saudara terdekat yang rumahnya tak terdampak. Mereka menggunakan gerobak yang dipasang jeriken untuk mengangkut motor tersebut.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jember dikepung banjir. Data yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), total ada enam kecamatan yang terendam. Enam wilayah itu adalah Kecamatan Tanggul, Bangsalsari, Gumukmas, Puger, Ambulu, dan Tempurejo. Bencana ini mengakibatkan 5.611 kepala keluarga (KK) terdampak. Terbanyak berada di Tempurejo dengan jumlah 3.920 KK.

Banjir yang melanda Dusun Kraton dan Dusun Curahlele, Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo, misalnya. Di desa ini sebanyak 1.800 KK terdampak. Air mulai naik begitu cepat sekitar pukul 11.00. Ketinggian air yang masuk ke dalam rumah warga hingga 1,5 meter. Terparah di Gang III Dusun Kraton. “Sekarang ini banjir yang paling parah. Sebelumnya tidak separah ini,” kata Misri, warga setempat.

Saat air mulai naik, perangkat desa segera melaporkan ke pemerintah kecamatan yang diteruskan ke BPBD Jember. Petugas gabungan yang berasal dari unsur TNI, polisi, BPBD, Tagana, Basarnas, dan relawan kebencanaan segera turun ke lokasi. Mereka melakukan evakuasi kepada kelompok rentan. Seperti lansia, perempuan, dan anak. “Terutama warga yang rumahnya di pinggir kebun di ujung selatan sendiri. Soalnya, posisi bangunan rumah memang berdekatan dengan sungai dan rendah,” ujarnya.

TEROBOS BANJIR: Seorang bapak sambil menggendong putranya yang masih balita didampingi istrinya berupaya menyelamatkan diri dari bencana banjir.

Petugas gabungan juga melakukan evakuasi terhadap puluhan warga yang tinggal di Gang III Dusun Kraton. Bahkan, petugas sampai menerjunkan perahu karet milik BPBD Jember untuk menjemput warga ke rumah-rumah yang terendam banjir. Mereka kemudian dibawa ke lokasi yang lebih aman di Balai Desa Wonoasri. Di lokasi itu juga didirikan posko kesehatan dari Puskesmas Curahnongko.

Warga juga bergotong royong menyelamatkan penduduk yang terdampak dan harta bendanya. Setelah mengetahui air naik cukup cepat, warga membawa kendaraan bermotor dan ternak ke lokasi aman atau ke saudara terdekat yang rumahnya tak terdampak. Mereka menggunakan gerobak yang dipasang jeriken untuk mengangkut motor tersebut.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jember dikepung banjir. Data yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), total ada enam kecamatan yang terendam. Enam wilayah itu adalah Kecamatan Tanggul, Bangsalsari, Gumukmas, Puger, Ambulu, dan Tempurejo. Bencana ini mengakibatkan 5.611 kepala keluarga (KK) terdampak. Terbanyak berada di Tempurejo dengan jumlah 3.920 KK.

Banjir yang melanda Dusun Kraton dan Dusun Curahlele, Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo, misalnya. Di desa ini sebanyak 1.800 KK terdampak. Air mulai naik begitu cepat sekitar pukul 11.00. Ketinggian air yang masuk ke dalam rumah warga hingga 1,5 meter. Terparah di Gang III Dusun Kraton. “Sekarang ini banjir yang paling parah. Sebelumnya tidak separah ini,” kata Misri, warga setempat.

Saat air mulai naik, perangkat desa segera melaporkan ke pemerintah kecamatan yang diteruskan ke BPBD Jember. Petugas gabungan yang berasal dari unsur TNI, polisi, BPBD, Tagana, Basarnas, dan relawan kebencanaan segera turun ke lokasi. Mereka melakukan evakuasi kepada kelompok rentan. Seperti lansia, perempuan, dan anak. “Terutama warga yang rumahnya di pinggir kebun di ujung selatan sendiri. Soalnya, posisi bangunan rumah memang berdekatan dengan sungai dan rendah,” ujarnya.

TEROBOS BANJIR: Seorang bapak sambil menggendong putranya yang masih balita didampingi istrinya berupaya menyelamatkan diri dari bencana banjir.

Petugas gabungan juga melakukan evakuasi terhadap puluhan warga yang tinggal di Gang III Dusun Kraton. Bahkan, petugas sampai menerjunkan perahu karet milik BPBD Jember untuk menjemput warga ke rumah-rumah yang terendam banjir. Mereka kemudian dibawa ke lokasi yang lebih aman di Balai Desa Wonoasri. Di lokasi itu juga didirikan posko kesehatan dari Puskesmas Curahnongko.

Warga juga bergotong royong menyelamatkan penduduk yang terdampak dan harta bendanya. Setelah mengetahui air naik cukup cepat, warga membawa kendaraan bermotor dan ternak ke lokasi aman atau ke saudara terdekat yang rumahnya tak terdampak. Mereka menggunakan gerobak yang dipasang jeriken untuk mengangkut motor tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/