alexametrics
24.3 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Pekerjaan “Nyetrum” yang Illegal Makin Marak di Jember

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejak lima tahun belakangan, praktik illegal fishing makin marak. Tak hanya di laut, tapi juga di aliran sungai. Biasanya para pelaku mengambil ikan dengan cara-cara lancung. Misalnya dengan peralatan setrum dan racun. Cara semacam ini dinilai membahayakan habitat ikan dan lingkungan.

PENEBARAN BENIH IKAN: Sebanyak 77 ribu ikan wader ditebarkan di tiga titik sungai. Salah satunya di sungai kawasan Jalan Imam Bonjol, Tegalbesar, Kaliwates, kemarin (13/12).

Pengurus Universal Finishing Community (UFC) Andre Setiawan mengeluhkan hal ini. Menurut dia, dalam kurun waktu lima tahun terakhir, ia dan komunitasnya cukup kesulitan mendapatkan ikan ketika memancing di aliran sungai perkotaan. Jika dibandingkan dengan kondisi normal, dalam kurun waktu setengah hari, Andre biasanya mendapat lima ikan wader dengan ukuran telapak tangan. Namun saat ini, dalam waktu setengah hari hanya mendapatkan antara dua hingga tiga ikan saja.

Dia menjelaskan, praktik illegal fishing yang masif dilakukan biasanya berupa penangkapan ikan dengan menggunakan alat setrum. Tak hanya di perkotaan Jember, hal ini juga marak terjadi di desa-desa Jember. Imbasnya, populasi ikan di sungai menjadi minim dan tak dapat bertumbuh menjadi besar. “Di desa-desa malahan sudah kolektif. Ada sekelompok orang nyetrum. Saya untuk mendapatkan ikan mancing ukuran besar di kota saja sulit,” ungkapnya, kemarin (13/12).

Mobile_AP_Rectangle 2

Selanjutnya, Andre menuturkan, adanya penangkapan ikan dengan alat bertegangan listrik itu kini sudah banyak dijadikan sebuah pekerjaan oleh sebagian orang. Hasil tangkapan ikan itu akan dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan ikan wader di sejumlah warung-warung di Jember. “Jadi, sudah ada pasokannya untuk wader-wader di warung lalapan itu,” tuturnya.

Ia berharap, Jember memiliki peraturan daerah yang mengikat. Tujuannya agar ikan-ikan endemik yang ada di Jember bisa lestari. Sedangkan di beberapa desa, aturan semacam ini sudah diberlakukan. Yaitu pelarangan aktivitas illegal fishing dengan penyetruman. “Minimal kalau sudah besar kita pancing bersama. Kalau di desa-desa Jember sudah berjalan. Misalnya, daerah Ambulu dan Balung,” tuturnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejak lima tahun belakangan, praktik illegal fishing makin marak. Tak hanya di laut, tapi juga di aliran sungai. Biasanya para pelaku mengambil ikan dengan cara-cara lancung. Misalnya dengan peralatan setrum dan racun. Cara semacam ini dinilai membahayakan habitat ikan dan lingkungan.

PENEBARAN BENIH IKAN: Sebanyak 77 ribu ikan wader ditebarkan di tiga titik sungai. Salah satunya di sungai kawasan Jalan Imam Bonjol, Tegalbesar, Kaliwates, kemarin (13/12).

Pengurus Universal Finishing Community (UFC) Andre Setiawan mengeluhkan hal ini. Menurut dia, dalam kurun waktu lima tahun terakhir, ia dan komunitasnya cukup kesulitan mendapatkan ikan ketika memancing di aliran sungai perkotaan. Jika dibandingkan dengan kondisi normal, dalam kurun waktu setengah hari, Andre biasanya mendapat lima ikan wader dengan ukuran telapak tangan. Namun saat ini, dalam waktu setengah hari hanya mendapatkan antara dua hingga tiga ikan saja.

Dia menjelaskan, praktik illegal fishing yang masif dilakukan biasanya berupa penangkapan ikan dengan menggunakan alat setrum. Tak hanya di perkotaan Jember, hal ini juga marak terjadi di desa-desa Jember. Imbasnya, populasi ikan di sungai menjadi minim dan tak dapat bertumbuh menjadi besar. “Di desa-desa malahan sudah kolektif. Ada sekelompok orang nyetrum. Saya untuk mendapatkan ikan mancing ukuran besar di kota saja sulit,” ungkapnya, kemarin (13/12).

Selanjutnya, Andre menuturkan, adanya penangkapan ikan dengan alat bertegangan listrik itu kini sudah banyak dijadikan sebuah pekerjaan oleh sebagian orang. Hasil tangkapan ikan itu akan dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan ikan wader di sejumlah warung-warung di Jember. “Jadi, sudah ada pasokannya untuk wader-wader di warung lalapan itu,” tuturnya.

Ia berharap, Jember memiliki peraturan daerah yang mengikat. Tujuannya agar ikan-ikan endemik yang ada di Jember bisa lestari. Sedangkan di beberapa desa, aturan semacam ini sudah diberlakukan. Yaitu pelarangan aktivitas illegal fishing dengan penyetruman. “Minimal kalau sudah besar kita pancing bersama. Kalau di desa-desa Jember sudah berjalan. Misalnya, daerah Ambulu dan Balung,” tuturnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejak lima tahun belakangan, praktik illegal fishing makin marak. Tak hanya di laut, tapi juga di aliran sungai. Biasanya para pelaku mengambil ikan dengan cara-cara lancung. Misalnya dengan peralatan setrum dan racun. Cara semacam ini dinilai membahayakan habitat ikan dan lingkungan.

PENEBARAN BENIH IKAN: Sebanyak 77 ribu ikan wader ditebarkan di tiga titik sungai. Salah satunya di sungai kawasan Jalan Imam Bonjol, Tegalbesar, Kaliwates, kemarin (13/12).

Pengurus Universal Finishing Community (UFC) Andre Setiawan mengeluhkan hal ini. Menurut dia, dalam kurun waktu lima tahun terakhir, ia dan komunitasnya cukup kesulitan mendapatkan ikan ketika memancing di aliran sungai perkotaan. Jika dibandingkan dengan kondisi normal, dalam kurun waktu setengah hari, Andre biasanya mendapat lima ikan wader dengan ukuran telapak tangan. Namun saat ini, dalam waktu setengah hari hanya mendapatkan antara dua hingga tiga ikan saja.

Dia menjelaskan, praktik illegal fishing yang masif dilakukan biasanya berupa penangkapan ikan dengan menggunakan alat setrum. Tak hanya di perkotaan Jember, hal ini juga marak terjadi di desa-desa Jember. Imbasnya, populasi ikan di sungai menjadi minim dan tak dapat bertumbuh menjadi besar. “Di desa-desa malahan sudah kolektif. Ada sekelompok orang nyetrum. Saya untuk mendapatkan ikan mancing ukuran besar di kota saja sulit,” ungkapnya, kemarin (13/12).

Selanjutnya, Andre menuturkan, adanya penangkapan ikan dengan alat bertegangan listrik itu kini sudah banyak dijadikan sebuah pekerjaan oleh sebagian orang. Hasil tangkapan ikan itu akan dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan ikan wader di sejumlah warung-warung di Jember. “Jadi, sudah ada pasokannya untuk wader-wader di warung lalapan itu,” tuturnya.

Ia berharap, Jember memiliki peraturan daerah yang mengikat. Tujuannya agar ikan-ikan endemik yang ada di Jember bisa lestari. Sedangkan di beberapa desa, aturan semacam ini sudah diberlakukan. Yaitu pelarangan aktivitas illegal fishing dengan penyetruman. “Minimal kalau sudah besar kita pancing bersama. Kalau di desa-desa Jember sudah berjalan. Misalnya, daerah Ambulu dan Balung,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/