alexametrics
23.2 C
Jember
Friday, 19 August 2022

Wajah Parpol Terselamatkan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kontestasi pemilihan Bupati Jember telah usai. Nuansa pemilihan bupati kali ini berbeda dengan periode sebelumnya. Sebab, calon petahana memutuskan maju lewat jalur perseorangan. Tidak menggunakan kendaraan parpol. Sejatinya keputusan itu sudah bisa dibaca sebelumnya. Indikasinya, selama ini petahana tak mampu menjalin komunikasi efektif dengan legislatif. Seolah seluruh kebijakan yang dibuat tak mau terintervensi oleh legislatif.

Tiga hari sebelum Pilbup Jember, Politika Research and Consultant (PRC) merilis hasil survei elektabilitas ketiga calon. Dari hasil survei tersebut, petahana unggul, disusul paslon dua dan paslon tiga. Selisih antara paslon pertama dan kedua sangat tipis. Tak sampai satu persen. Banyak pengamat yang memprediksi petahana akan meraup suara paling banyak. Sebab, basis kekuatan petahana cukup banyak dan fanatik. Tapi ternyata, hasil hitung cepat berbeda. Paslon dua unggul atas dua kandidat lainnya.

Peneliti dan Co-Founder Pusat Studi Gastrodiplomasi Universitas Jember Agus Trihartono menilai, pemilihan bupati tahun ini sejatinya bukanlah pertarungan antar paslon. Namun, pertarungan antara mazhab otonom dan mazhab mesin partai.

Mobile_AP_Rectangle 2

Secara teoritis, kata dia, ada dua keyakinan dalam kontestasi pemilihan. Yakni, massa yang meyakini bahwa kalah menangnya kontestasi politik ditentukan secara independen. Yakni, murni dari suara masyarakat. Sementara itu, keyakinan kedua yang menyebut bahwa mesin parpol punya andil besar dalam menentukan pemenangan kontestasi politik.

“Tapi, kemarin parpol telah menampilkan performa yang maksimal. Kemenangan suara berdasar hitung cepat menunjukan bahwa partai politik di mata publik masih eksis,” papar Agus melalui sambungan telepon, Sabtu (13/12).

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kontestasi pemilihan Bupati Jember telah usai. Nuansa pemilihan bupati kali ini berbeda dengan periode sebelumnya. Sebab, calon petahana memutuskan maju lewat jalur perseorangan. Tidak menggunakan kendaraan parpol. Sejatinya keputusan itu sudah bisa dibaca sebelumnya. Indikasinya, selama ini petahana tak mampu menjalin komunikasi efektif dengan legislatif. Seolah seluruh kebijakan yang dibuat tak mau terintervensi oleh legislatif.

Tiga hari sebelum Pilbup Jember, Politika Research and Consultant (PRC) merilis hasil survei elektabilitas ketiga calon. Dari hasil survei tersebut, petahana unggul, disusul paslon dua dan paslon tiga. Selisih antara paslon pertama dan kedua sangat tipis. Tak sampai satu persen. Banyak pengamat yang memprediksi petahana akan meraup suara paling banyak. Sebab, basis kekuatan petahana cukup banyak dan fanatik. Tapi ternyata, hasil hitung cepat berbeda. Paslon dua unggul atas dua kandidat lainnya.

Peneliti dan Co-Founder Pusat Studi Gastrodiplomasi Universitas Jember Agus Trihartono menilai, pemilihan bupati tahun ini sejatinya bukanlah pertarungan antar paslon. Namun, pertarungan antara mazhab otonom dan mazhab mesin partai.

Secara teoritis, kata dia, ada dua keyakinan dalam kontestasi pemilihan. Yakni, massa yang meyakini bahwa kalah menangnya kontestasi politik ditentukan secara independen. Yakni, murni dari suara masyarakat. Sementara itu, keyakinan kedua yang menyebut bahwa mesin parpol punya andil besar dalam menentukan pemenangan kontestasi politik.

“Tapi, kemarin parpol telah menampilkan performa yang maksimal. Kemenangan suara berdasar hitung cepat menunjukan bahwa partai politik di mata publik masih eksis,” papar Agus melalui sambungan telepon, Sabtu (13/12).

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kontestasi pemilihan Bupati Jember telah usai. Nuansa pemilihan bupati kali ini berbeda dengan periode sebelumnya. Sebab, calon petahana memutuskan maju lewat jalur perseorangan. Tidak menggunakan kendaraan parpol. Sejatinya keputusan itu sudah bisa dibaca sebelumnya. Indikasinya, selama ini petahana tak mampu menjalin komunikasi efektif dengan legislatif. Seolah seluruh kebijakan yang dibuat tak mau terintervensi oleh legislatif.

Tiga hari sebelum Pilbup Jember, Politika Research and Consultant (PRC) merilis hasil survei elektabilitas ketiga calon. Dari hasil survei tersebut, petahana unggul, disusul paslon dua dan paslon tiga. Selisih antara paslon pertama dan kedua sangat tipis. Tak sampai satu persen. Banyak pengamat yang memprediksi petahana akan meraup suara paling banyak. Sebab, basis kekuatan petahana cukup banyak dan fanatik. Tapi ternyata, hasil hitung cepat berbeda. Paslon dua unggul atas dua kandidat lainnya.

Peneliti dan Co-Founder Pusat Studi Gastrodiplomasi Universitas Jember Agus Trihartono menilai, pemilihan bupati tahun ini sejatinya bukanlah pertarungan antar paslon. Namun, pertarungan antara mazhab otonom dan mazhab mesin partai.

Secara teoritis, kata dia, ada dua keyakinan dalam kontestasi pemilihan. Yakni, massa yang meyakini bahwa kalah menangnya kontestasi politik ditentukan secara independen. Yakni, murni dari suara masyarakat. Sementara itu, keyakinan kedua yang menyebut bahwa mesin parpol punya andil besar dalam menentukan pemenangan kontestasi politik.

“Tapi, kemarin parpol telah menampilkan performa yang maksimal. Kemenangan suara berdasar hitung cepat menunjukan bahwa partai politik di mata publik masih eksis,” papar Agus melalui sambungan telepon, Sabtu (13/12).

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/