alexametrics
24.1 C
Jember
Tuesday, 16 August 2022

Mesin Nonpartisan Lebih Dinamis

Mobile_AP_Rectangle 1

Sebenarnya, beberapa faktor lain juga membalut kemenangan paslon 02 ini. Selain faktor pergerakan kelompok atau komunitas, ada faktor ketokohan personal masing-masing kandidat yang juga dinilai memiliki public impact atau dampak ke masyarakat luas yang cukup signifikan. Meski begitu, faktor ketokohan juga banyak ditopang pergerakan kelompok-kelompok dan komunitas tersebut.

Dosen Komunikasi Politik Fakultas Dakwah IAIN Jember Kun Waziz membenarkan adanya hal tersebut. Menurut dia, keterlibatan kelompok atau komunitas dalam paslon pilkada itu jelas cukup besar. Sebab, di dalamnya terdapat berbagai unsur yang membawahi lumbung-lumbung suara. Misalnya, kelompok kalangan akademisi, kiai, atau pengasuh pondok pesantren, birokrat, pengusaha, yang kesemuanya terdapat dan tersebar di tiga paslon.

Dia mencontohkan seperti kelompok kalangan pesantren di tubuh 02 yang secara terbuka menginstruksikan alumni, santri, dan jajaran di pesantren agar memilih dan mendukung paslon 02. “Sebagai kekuatan simpul masyarakat, instruksi kiai pesantren masih tetap menjadi preferensi masyarakat, khususnya alumni pesantren. Apalagi, didukung kredibilitas kiai yang memiliki basis massa kuat,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Meski secara modal politik, lanjut Kun Waziz, paslon 02 juga diunggulkan karena memiliki 28 kursi dengan estimasi lebih dari 600 ribu suara, tapi kekuatan dan pergerakan kelompok di tubuh paslon 02 jelas lebih unggul jika dibandingkan dengan paslon 01 dan 03.

Kaprodi S2 Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) IAIN Jember itu menambahkan, basis-basis lumbung suara yang ada pada kelompok 02 tersebut bukan ada tanpa alasan. Namun, seperti halnya pendukung lain, mereka memiliki misi yang sama dan harapan yang sama, yaitu menang. “Keberadaan kelompok menengah atau komunitas di barisan paslon 02 itu menandakan bahwa mereka bekerja dengan rasionalitas dan harapan bahwa Hendi-Firjaun bisa membawa perubahan yang mereka harapkan,” tukasnya.

- Advertisement -

Sebenarnya, beberapa faktor lain juga membalut kemenangan paslon 02 ini. Selain faktor pergerakan kelompok atau komunitas, ada faktor ketokohan personal masing-masing kandidat yang juga dinilai memiliki public impact atau dampak ke masyarakat luas yang cukup signifikan. Meski begitu, faktor ketokohan juga banyak ditopang pergerakan kelompok-kelompok dan komunitas tersebut.

Dosen Komunikasi Politik Fakultas Dakwah IAIN Jember Kun Waziz membenarkan adanya hal tersebut. Menurut dia, keterlibatan kelompok atau komunitas dalam paslon pilkada itu jelas cukup besar. Sebab, di dalamnya terdapat berbagai unsur yang membawahi lumbung-lumbung suara. Misalnya, kelompok kalangan akademisi, kiai, atau pengasuh pondok pesantren, birokrat, pengusaha, yang kesemuanya terdapat dan tersebar di tiga paslon.

Dia mencontohkan seperti kelompok kalangan pesantren di tubuh 02 yang secara terbuka menginstruksikan alumni, santri, dan jajaran di pesantren agar memilih dan mendukung paslon 02. “Sebagai kekuatan simpul masyarakat, instruksi kiai pesantren masih tetap menjadi preferensi masyarakat, khususnya alumni pesantren. Apalagi, didukung kredibilitas kiai yang memiliki basis massa kuat,” ungkapnya.

Meski secara modal politik, lanjut Kun Waziz, paslon 02 juga diunggulkan karena memiliki 28 kursi dengan estimasi lebih dari 600 ribu suara, tapi kekuatan dan pergerakan kelompok di tubuh paslon 02 jelas lebih unggul jika dibandingkan dengan paslon 01 dan 03.

Kaprodi S2 Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) IAIN Jember itu menambahkan, basis-basis lumbung suara yang ada pada kelompok 02 tersebut bukan ada tanpa alasan. Namun, seperti halnya pendukung lain, mereka memiliki misi yang sama dan harapan yang sama, yaitu menang. “Keberadaan kelompok menengah atau komunitas di barisan paslon 02 itu menandakan bahwa mereka bekerja dengan rasionalitas dan harapan bahwa Hendi-Firjaun bisa membawa perubahan yang mereka harapkan,” tukasnya.

Sebenarnya, beberapa faktor lain juga membalut kemenangan paslon 02 ini. Selain faktor pergerakan kelompok atau komunitas, ada faktor ketokohan personal masing-masing kandidat yang juga dinilai memiliki public impact atau dampak ke masyarakat luas yang cukup signifikan. Meski begitu, faktor ketokohan juga banyak ditopang pergerakan kelompok-kelompok dan komunitas tersebut.

Dosen Komunikasi Politik Fakultas Dakwah IAIN Jember Kun Waziz membenarkan adanya hal tersebut. Menurut dia, keterlibatan kelompok atau komunitas dalam paslon pilkada itu jelas cukup besar. Sebab, di dalamnya terdapat berbagai unsur yang membawahi lumbung-lumbung suara. Misalnya, kelompok kalangan akademisi, kiai, atau pengasuh pondok pesantren, birokrat, pengusaha, yang kesemuanya terdapat dan tersebar di tiga paslon.

Dia mencontohkan seperti kelompok kalangan pesantren di tubuh 02 yang secara terbuka menginstruksikan alumni, santri, dan jajaran di pesantren agar memilih dan mendukung paslon 02. “Sebagai kekuatan simpul masyarakat, instruksi kiai pesantren masih tetap menjadi preferensi masyarakat, khususnya alumni pesantren. Apalagi, didukung kredibilitas kiai yang memiliki basis massa kuat,” ungkapnya.

Meski secara modal politik, lanjut Kun Waziz, paslon 02 juga diunggulkan karena memiliki 28 kursi dengan estimasi lebih dari 600 ribu suara, tapi kekuatan dan pergerakan kelompok di tubuh paslon 02 jelas lebih unggul jika dibandingkan dengan paslon 01 dan 03.

Kaprodi S2 Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) IAIN Jember itu menambahkan, basis-basis lumbung suara yang ada pada kelompok 02 tersebut bukan ada tanpa alasan. Namun, seperti halnya pendukung lain, mereka memiliki misi yang sama dan harapan yang sama, yaitu menang. “Keberadaan kelompok menengah atau komunitas di barisan paslon 02 itu menandakan bahwa mereka bekerja dengan rasionalitas dan harapan bahwa Hendi-Firjaun bisa membawa perubahan yang mereka harapkan,” tukasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/