alexametrics
31.2 C
Jember
Monday, 4 July 2022

Dua Gerakan Penentu Kemenangan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Majunya petahana Faida dalam Pilkada Jember 2020 menjadi perhatian para peneliti politik. Sebab, ada fenomena baru. Petahana yang dulu mencalonkan diri lewat jalur parpol kini justru berubah haluan melalui jalur perseorangan. Berdasar pada hasil hitung cepat, Faida kalah dari penantangnya yang diusung oleh parpol. Benarkah kekalahan calon petahana ini karena maju lewat jalur independen?

Direktur Utama Politika Research and Consultant (PRC) Rio Prayogo menjelaskan, banyak faktor yang memengaruhi kekalahan petahana. Menurut dia, bukan hanya karena maju lewat jalur independen, melainkan karena posisi petahana yang penuh dengan kontroversi hingga menjadi berita utama di sejumlah media. Baik di tingkat daerah maupun nasional.

Sumbangsih lain yang membuat petahana kalah, Rio menyebut, karena ada dua gerakan. Pertama, gerakan kelas menengah seperti jurnalis, NGO, atau LSM, hingga tokoh masyarakat yang punya pengaruh. Gerakan itu yang selalu dinamis dalam mengkritisi pemerintahan Faida. Gerakan kedua adalah politik formal. Yaitu, munculnya dua penantang yang maju lewat jalur partai dengan gagasan dan visi misi mereka masing-masing.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia menjelaskan, dua gerakan tersebut tentu sangat berbeda. Gerakan kelompok menengah tersebut adalah civil society, sedangkan gerakan satunya adalah politik prosedural. Gerakan civil society tidak akan terganggu dengan waktu. Gerakan itu disebutnya bebas ruang dan masa.

Walaupun sudah ada gerakan civil society, para kandidat penantang Faida justru lambat menangkap peluang tersebut. Bahkan, pada H-7 popularitas dua penantang Faida masih kalah. Catatan PRC, Hendy popularitasnya hanya 75 persen dan Salam 67 persen. Sementara itu, Faida jauh di atas mereka, yaitu 97 persen.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Majunya petahana Faida dalam Pilkada Jember 2020 menjadi perhatian para peneliti politik. Sebab, ada fenomena baru. Petahana yang dulu mencalonkan diri lewat jalur parpol kini justru berubah haluan melalui jalur perseorangan. Berdasar pada hasil hitung cepat, Faida kalah dari penantangnya yang diusung oleh parpol. Benarkah kekalahan calon petahana ini karena maju lewat jalur independen?

Direktur Utama Politika Research and Consultant (PRC) Rio Prayogo menjelaskan, banyak faktor yang memengaruhi kekalahan petahana. Menurut dia, bukan hanya karena maju lewat jalur independen, melainkan karena posisi petahana yang penuh dengan kontroversi hingga menjadi berita utama di sejumlah media. Baik di tingkat daerah maupun nasional.

Sumbangsih lain yang membuat petahana kalah, Rio menyebut, karena ada dua gerakan. Pertama, gerakan kelas menengah seperti jurnalis, NGO, atau LSM, hingga tokoh masyarakat yang punya pengaruh. Gerakan itu yang selalu dinamis dalam mengkritisi pemerintahan Faida. Gerakan kedua adalah politik formal. Yaitu, munculnya dua penantang yang maju lewat jalur partai dengan gagasan dan visi misi mereka masing-masing.

Dia menjelaskan, dua gerakan tersebut tentu sangat berbeda. Gerakan kelompok menengah tersebut adalah civil society, sedangkan gerakan satunya adalah politik prosedural. Gerakan civil society tidak akan terganggu dengan waktu. Gerakan itu disebutnya bebas ruang dan masa.

Walaupun sudah ada gerakan civil society, para kandidat penantang Faida justru lambat menangkap peluang tersebut. Bahkan, pada H-7 popularitas dua penantang Faida masih kalah. Catatan PRC, Hendy popularitasnya hanya 75 persen dan Salam 67 persen. Sementara itu, Faida jauh di atas mereka, yaitu 97 persen.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Majunya petahana Faida dalam Pilkada Jember 2020 menjadi perhatian para peneliti politik. Sebab, ada fenomena baru. Petahana yang dulu mencalonkan diri lewat jalur parpol kini justru berubah haluan melalui jalur perseorangan. Berdasar pada hasil hitung cepat, Faida kalah dari penantangnya yang diusung oleh parpol. Benarkah kekalahan calon petahana ini karena maju lewat jalur independen?

Direktur Utama Politika Research and Consultant (PRC) Rio Prayogo menjelaskan, banyak faktor yang memengaruhi kekalahan petahana. Menurut dia, bukan hanya karena maju lewat jalur independen, melainkan karena posisi petahana yang penuh dengan kontroversi hingga menjadi berita utama di sejumlah media. Baik di tingkat daerah maupun nasional.

Sumbangsih lain yang membuat petahana kalah, Rio menyebut, karena ada dua gerakan. Pertama, gerakan kelas menengah seperti jurnalis, NGO, atau LSM, hingga tokoh masyarakat yang punya pengaruh. Gerakan itu yang selalu dinamis dalam mengkritisi pemerintahan Faida. Gerakan kedua adalah politik formal. Yaitu, munculnya dua penantang yang maju lewat jalur partai dengan gagasan dan visi misi mereka masing-masing.

Dia menjelaskan, dua gerakan tersebut tentu sangat berbeda. Gerakan kelompok menengah tersebut adalah civil society, sedangkan gerakan satunya adalah politik prosedural. Gerakan civil society tidak akan terganggu dengan waktu. Gerakan itu disebutnya bebas ruang dan masa.

Walaupun sudah ada gerakan civil society, para kandidat penantang Faida justru lambat menangkap peluang tersebut. Bahkan, pada H-7 popularitas dua penantang Faida masih kalah. Catatan PRC, Hendy popularitasnya hanya 75 persen dan Salam 67 persen. Sementara itu, Faida jauh di atas mereka, yaitu 97 persen.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/