alexametrics
23.3 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Prihatin Pohon Dipaku, Satu per Satu Dicabuti

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk merawat lingkungan. Seperti yang dilakukan  oleh mahasiswa pecinta alam ini. Mereka dengan sabar mencabut paku yang ada pada pohon di pinggir jalan. 

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pohon yang ada di pinggir jalan, sering kali dijadikan tempat untuk menempelkan banner. Ironisnya, bukan ditempel, tapi dipaku. Tentu saja, selain membuat risi, juga merusak kelestarian tanaman itu sendiri.

Melihat maraknya fenomena tersebut, mahasiswa pecinta alam ini melakukan gerakan mencabut paku di pohon. Paku-paku yang menempel di pepohonan itu  merusak pohon. “Memaku pohon sama halnya menyakiti pohon,” kata Dimas Khoirul Amin, ketua umum mahasiswa pecinta alam STIE Mandala Jember.

Menurutnya, paku yang menempel di pohon itu dipakai untuk keperluan iklan oleh oknum ataupun perusahaan yang enggan berbayar. Dimas meyakini, berbagai banner yang dipaku di pepohonan itu tak memiliki izin.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pemuda 21 tahun ini tak mau bertindak gegabah. Dia mencabut paku sesuai prosedur. Yakni meminta izin pada pemerintah. Namun, tak semudah yang dibayangkan. Sebab, harus dilempar ke berbagai tempat. “Mulai dari polres, ke Dinas Lingkungan Hidup, hingga berakhir ke Dinas PU Cipta Karya,” tuturnya.

Saat itu dia bersama temannya mendapat arahan dari PU Cipta Karya mengenai administrasi tersebut. Salah satunya membuat tembusan ke Bupati Jember yang menunjukkan bahwa kegiatan mereka sudah mendapat persetujuan dari bupati. “Jadi lumayan lama, kami habiskan satu bulan lebih hanya mengurus perizinan saja,” paparnya.

Meskipun cukup lama, kegiatan mereka yang berlangsung selama setengah hari itu cukup memuaskan. Sempat diterpa kekhawatiran untuk mencopot banner-banner liar tersebut, namun tak menciutkan nyali mereka untuk mencabut paku dari pohon tersebut. “Makanya kami urus peizinan itu, biar kalau ada pihak yang menggugat kita, bisa ada sesuatu yang menguatkan,” ungkapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pohon yang ada di pinggir jalan, sering kali dijadikan tempat untuk menempelkan banner. Ironisnya, bukan ditempel, tapi dipaku. Tentu saja, selain membuat risi, juga merusak kelestarian tanaman itu sendiri.

Melihat maraknya fenomena tersebut, mahasiswa pecinta alam ini melakukan gerakan mencabut paku di pohon. Paku-paku yang menempel di pepohonan itu  merusak pohon. “Memaku pohon sama halnya menyakiti pohon,” kata Dimas Khoirul Amin, ketua umum mahasiswa pecinta alam STIE Mandala Jember.

Menurutnya, paku yang menempel di pohon itu dipakai untuk keperluan iklan oleh oknum ataupun perusahaan yang enggan berbayar. Dimas meyakini, berbagai banner yang dipaku di pepohonan itu tak memiliki izin.

Pemuda 21 tahun ini tak mau bertindak gegabah. Dia mencabut paku sesuai prosedur. Yakni meminta izin pada pemerintah. Namun, tak semudah yang dibayangkan. Sebab, harus dilempar ke berbagai tempat. “Mulai dari polres, ke Dinas Lingkungan Hidup, hingga berakhir ke Dinas PU Cipta Karya,” tuturnya.

Saat itu dia bersama temannya mendapat arahan dari PU Cipta Karya mengenai administrasi tersebut. Salah satunya membuat tembusan ke Bupati Jember yang menunjukkan bahwa kegiatan mereka sudah mendapat persetujuan dari bupati. “Jadi lumayan lama, kami habiskan satu bulan lebih hanya mengurus perizinan saja,” paparnya.

Meskipun cukup lama, kegiatan mereka yang berlangsung selama setengah hari itu cukup memuaskan. Sempat diterpa kekhawatiran untuk mencopot banner-banner liar tersebut, namun tak menciutkan nyali mereka untuk mencabut paku dari pohon tersebut. “Makanya kami urus peizinan itu, biar kalau ada pihak yang menggugat kita, bisa ada sesuatu yang menguatkan,” ungkapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pohon yang ada di pinggir jalan, sering kali dijadikan tempat untuk menempelkan banner. Ironisnya, bukan ditempel, tapi dipaku. Tentu saja, selain membuat risi, juga merusak kelestarian tanaman itu sendiri.

Melihat maraknya fenomena tersebut, mahasiswa pecinta alam ini melakukan gerakan mencabut paku di pohon. Paku-paku yang menempel di pepohonan itu  merusak pohon. “Memaku pohon sama halnya menyakiti pohon,” kata Dimas Khoirul Amin, ketua umum mahasiswa pecinta alam STIE Mandala Jember.

Menurutnya, paku yang menempel di pohon itu dipakai untuk keperluan iklan oleh oknum ataupun perusahaan yang enggan berbayar. Dimas meyakini, berbagai banner yang dipaku di pepohonan itu tak memiliki izin.

Pemuda 21 tahun ini tak mau bertindak gegabah. Dia mencabut paku sesuai prosedur. Yakni meminta izin pada pemerintah. Namun, tak semudah yang dibayangkan. Sebab, harus dilempar ke berbagai tempat. “Mulai dari polres, ke Dinas Lingkungan Hidup, hingga berakhir ke Dinas PU Cipta Karya,” tuturnya.

Saat itu dia bersama temannya mendapat arahan dari PU Cipta Karya mengenai administrasi tersebut. Salah satunya membuat tembusan ke Bupati Jember yang menunjukkan bahwa kegiatan mereka sudah mendapat persetujuan dari bupati. “Jadi lumayan lama, kami habiskan satu bulan lebih hanya mengurus perizinan saja,” paparnya.

Meskipun cukup lama, kegiatan mereka yang berlangsung selama setengah hari itu cukup memuaskan. Sempat diterpa kekhawatiran untuk mencopot banner-banner liar tersebut, namun tak menciutkan nyali mereka untuk mencabut paku dari pohon tersebut. “Makanya kami urus peizinan itu, biar kalau ada pihak yang menggugat kita, bisa ada sesuatu yang menguatkan,” ungkapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/