alexametrics
28.3 C
Jember
Saturday, 22 January 2022

Latih Kesabaran Melalui Batik, Kok Bisa ?

Mobile_AP_Rectangle 1

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – SETIAP orang memiliki alasan tersendiri dalam mengikuti berbagai lomba membatik, tak terkecuali bagi Fitriah Kumala Sari. Wanita yang juga berprofesi sebagai guru di beberapa yayasan ini menunjukkan semangatnya berpartisipasi demi menyukseskan lomba desain motif dan fashion batik yang digelar oleh Pemkab Jember melalui Dinas Koperasi dan UMKM bekerja sama dengan Jawa Pos Radar Jember.

Menurut dia, lomba tersebut menjadi ajang pengembangan diri, terutama dalam meningkatkan kreativitas dan skill yang dia miliki. Apalagi, batik bukan sekadar seni rupa yang indah dilihat secara estetika. Namun, juga menjadi media untuk melatih kesabaran dan ketekunan. “Seni itu butuh penilaian orang lain. Selain untuk mengasah kemampuan dan kreativitas, karya batik yang dikompetisikan nantinya juga bisa dinilai. Hasil penilaian ini menjadi catatan, dan memberi semangat bagi saya untuk belajar lebih banyak lagi,” ungkap Fifi, sapaan dia.

Dia mengaku, ini merupakan kali pertama dirinya mengikuti kompetisi membatik. Meski demikian, kiprahnya dalam dunia batik sudah melanglang buana. Karya batiknya tak hanya diminati masyarakat sekitar, namun juga sampai di tangan masyarakat luar kota, seperti akademisi asal Surabaya. Bahkan, beberapa yayasan mempercayai desain motif batik milik Fifi untuk dijadikan seragam harian. “Alhamdulillah, sampai sekarang dipercayai oleh yayasan Al-Baitul Amien untuk membuat seragam almamaternya,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Di samping menekuni bisnis, Fifi juga menyempatkan dirinya mengajar membatik di beberapa sekolah. Batik karya anak-anak didiknya pun ia pasarkan ke masyarakat luas. Kemudian, uang hasil penjualannya ia kembalikan ke siswa yang membuatnya. Salah satu keistimewaan batik milik Fifi juga terletak pada penentuan harganya yang sangat customize. Dalam menentukan harga, dia selalu mendiskusikan dengan pembeli agar sesuai dengan kantong yang mereka miliki. “Dulunya saya sempat tidak pernah mematok harga. Dengan karya saya dibeli itu sudah sangat bangga. Artinya, karya saya dihargai dan ada yang berminat untuk memilikinya,” imbuhnya.

Usaha batik milik Fifi berfokus pada batik tulis. Sebab, dalam membuatnya dia merasa tertantang untuk melatih kesabaran dan keuletan saat mencanting. “Membuat batik tulis itu terasa asyik. Saat mencanting itu bisa sambil berzikir dan salawatan. Jadi, terasa tenang gitu,” ujarnya.

Di balik kesuksesannya dalam usaha batik, ada cerita berkesan yang terkenang dalam benaknya. Saat belum lama ia menekuni dunia melukis di atas kain itu, dia sempat mendapat pesanan dari Kementerian Agama (Kemenag) Jember. Hal itu memang menjadi kebahagiaan bagi Fifi pada waktu itu. Namun, di saat yang bersamaan, dia juga sedang sakit dan tak dapat membuatkan pesanan itu. Akhirnya, ia menolaknya dan memilih memproduksi dalam jumlah kecil karena mempertimbangkan kondisi kesehatan.

Selang beberapa waktu, ia pun mendatangi masjid yang terletak di pusat kota untuk mendoakan anaknya yang juga sakit. Di sana ia bertemu dengan tokoh agama, seorang kiai sekaligus ketua di suatu yayasan. Sejak saat itulah, dia kenal dan banyak berbincang dengan kiai tersebut, termasuk menanyakan profesinya yang sebagai pembatik. Mendengar hal itu, ketua yayasan itu pun seketika memesan dalam jumlah banyak dan meminta untuk bekerja sama dengan Fifi.

“Awalnya saya bilang kalau tidak perlu pakai MoU. Saya akhirnya mendesain dan saya buat diniatkan untuk sedekah karena batiknya mau dipakai anak sekolah. Gambarnya kubah masjid sesuai yang diminta. Warnanya juga sesuai permintaan,” kenangnya.

Bahkan, baru beberapa bulan yang lalu, pihak yayasan menanyakan apa keinginan terbesarnya saat ini. Ia mengatakan, dirinya ingin beribadah umrah. Dan seketika itu juga, tanpa disangka ia pun mendapatkan hadiah tiket umrah dari sang kiai. “Alhamdulillah, saat itu juga saya didaftarkan umrah. Tapi, belum bisa berangkat karena masih pandemi ini,” ujarnya.

- Advertisement -

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – SETIAP orang memiliki alasan tersendiri dalam mengikuti berbagai lomba membatik, tak terkecuali bagi Fitriah Kumala Sari. Wanita yang juga berprofesi sebagai guru di beberapa yayasan ini menunjukkan semangatnya berpartisipasi demi menyukseskan lomba desain motif dan fashion batik yang digelar oleh Pemkab Jember melalui Dinas Koperasi dan UMKM bekerja sama dengan Jawa Pos Radar Jember.

Menurut dia, lomba tersebut menjadi ajang pengembangan diri, terutama dalam meningkatkan kreativitas dan skill yang dia miliki. Apalagi, batik bukan sekadar seni rupa yang indah dilihat secara estetika. Namun, juga menjadi media untuk melatih kesabaran dan ketekunan. “Seni itu butuh penilaian orang lain. Selain untuk mengasah kemampuan dan kreativitas, karya batik yang dikompetisikan nantinya juga bisa dinilai. Hasil penilaian ini menjadi catatan, dan memberi semangat bagi saya untuk belajar lebih banyak lagi,” ungkap Fifi, sapaan dia.

Dia mengaku, ini merupakan kali pertama dirinya mengikuti kompetisi membatik. Meski demikian, kiprahnya dalam dunia batik sudah melanglang buana. Karya batiknya tak hanya diminati masyarakat sekitar, namun juga sampai di tangan masyarakat luar kota, seperti akademisi asal Surabaya. Bahkan, beberapa yayasan mempercayai desain motif batik milik Fifi untuk dijadikan seragam harian. “Alhamdulillah, sampai sekarang dipercayai oleh yayasan Al-Baitul Amien untuk membuat seragam almamaternya,” ungkapnya.

Di samping menekuni bisnis, Fifi juga menyempatkan dirinya mengajar membatik di beberapa sekolah. Batik karya anak-anak didiknya pun ia pasarkan ke masyarakat luas. Kemudian, uang hasil penjualannya ia kembalikan ke siswa yang membuatnya. Salah satu keistimewaan batik milik Fifi juga terletak pada penentuan harganya yang sangat customize. Dalam menentukan harga, dia selalu mendiskusikan dengan pembeli agar sesuai dengan kantong yang mereka miliki. “Dulunya saya sempat tidak pernah mematok harga. Dengan karya saya dibeli itu sudah sangat bangga. Artinya, karya saya dihargai dan ada yang berminat untuk memilikinya,” imbuhnya.

Usaha batik milik Fifi berfokus pada batik tulis. Sebab, dalam membuatnya dia merasa tertantang untuk melatih kesabaran dan keuletan saat mencanting. “Membuat batik tulis itu terasa asyik. Saat mencanting itu bisa sambil berzikir dan salawatan. Jadi, terasa tenang gitu,” ujarnya.

Di balik kesuksesannya dalam usaha batik, ada cerita berkesan yang terkenang dalam benaknya. Saat belum lama ia menekuni dunia melukis di atas kain itu, dia sempat mendapat pesanan dari Kementerian Agama (Kemenag) Jember. Hal itu memang menjadi kebahagiaan bagi Fifi pada waktu itu. Namun, di saat yang bersamaan, dia juga sedang sakit dan tak dapat membuatkan pesanan itu. Akhirnya, ia menolaknya dan memilih memproduksi dalam jumlah kecil karena mempertimbangkan kondisi kesehatan.

Selang beberapa waktu, ia pun mendatangi masjid yang terletak di pusat kota untuk mendoakan anaknya yang juga sakit. Di sana ia bertemu dengan tokoh agama, seorang kiai sekaligus ketua di suatu yayasan. Sejak saat itulah, dia kenal dan banyak berbincang dengan kiai tersebut, termasuk menanyakan profesinya yang sebagai pembatik. Mendengar hal itu, ketua yayasan itu pun seketika memesan dalam jumlah banyak dan meminta untuk bekerja sama dengan Fifi.

“Awalnya saya bilang kalau tidak perlu pakai MoU. Saya akhirnya mendesain dan saya buat diniatkan untuk sedekah karena batiknya mau dipakai anak sekolah. Gambarnya kubah masjid sesuai yang diminta. Warnanya juga sesuai permintaan,” kenangnya.

Bahkan, baru beberapa bulan yang lalu, pihak yayasan menanyakan apa keinginan terbesarnya saat ini. Ia mengatakan, dirinya ingin beribadah umrah. Dan seketika itu juga, tanpa disangka ia pun mendapatkan hadiah tiket umrah dari sang kiai. “Alhamdulillah, saat itu juga saya didaftarkan umrah. Tapi, belum bisa berangkat karena masih pandemi ini,” ujarnya.

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – SETIAP orang memiliki alasan tersendiri dalam mengikuti berbagai lomba membatik, tak terkecuali bagi Fitriah Kumala Sari. Wanita yang juga berprofesi sebagai guru di beberapa yayasan ini menunjukkan semangatnya berpartisipasi demi menyukseskan lomba desain motif dan fashion batik yang digelar oleh Pemkab Jember melalui Dinas Koperasi dan UMKM bekerja sama dengan Jawa Pos Radar Jember.

Menurut dia, lomba tersebut menjadi ajang pengembangan diri, terutama dalam meningkatkan kreativitas dan skill yang dia miliki. Apalagi, batik bukan sekadar seni rupa yang indah dilihat secara estetika. Namun, juga menjadi media untuk melatih kesabaran dan ketekunan. “Seni itu butuh penilaian orang lain. Selain untuk mengasah kemampuan dan kreativitas, karya batik yang dikompetisikan nantinya juga bisa dinilai. Hasil penilaian ini menjadi catatan, dan memberi semangat bagi saya untuk belajar lebih banyak lagi,” ungkap Fifi, sapaan dia.

Dia mengaku, ini merupakan kali pertama dirinya mengikuti kompetisi membatik. Meski demikian, kiprahnya dalam dunia batik sudah melanglang buana. Karya batiknya tak hanya diminati masyarakat sekitar, namun juga sampai di tangan masyarakat luar kota, seperti akademisi asal Surabaya. Bahkan, beberapa yayasan mempercayai desain motif batik milik Fifi untuk dijadikan seragam harian. “Alhamdulillah, sampai sekarang dipercayai oleh yayasan Al-Baitul Amien untuk membuat seragam almamaternya,” ungkapnya.

Di samping menekuni bisnis, Fifi juga menyempatkan dirinya mengajar membatik di beberapa sekolah. Batik karya anak-anak didiknya pun ia pasarkan ke masyarakat luas. Kemudian, uang hasil penjualannya ia kembalikan ke siswa yang membuatnya. Salah satu keistimewaan batik milik Fifi juga terletak pada penentuan harganya yang sangat customize. Dalam menentukan harga, dia selalu mendiskusikan dengan pembeli agar sesuai dengan kantong yang mereka miliki. “Dulunya saya sempat tidak pernah mematok harga. Dengan karya saya dibeli itu sudah sangat bangga. Artinya, karya saya dihargai dan ada yang berminat untuk memilikinya,” imbuhnya.

Usaha batik milik Fifi berfokus pada batik tulis. Sebab, dalam membuatnya dia merasa tertantang untuk melatih kesabaran dan keuletan saat mencanting. “Membuat batik tulis itu terasa asyik. Saat mencanting itu bisa sambil berzikir dan salawatan. Jadi, terasa tenang gitu,” ujarnya.

Di balik kesuksesannya dalam usaha batik, ada cerita berkesan yang terkenang dalam benaknya. Saat belum lama ia menekuni dunia melukis di atas kain itu, dia sempat mendapat pesanan dari Kementerian Agama (Kemenag) Jember. Hal itu memang menjadi kebahagiaan bagi Fifi pada waktu itu. Namun, di saat yang bersamaan, dia juga sedang sakit dan tak dapat membuatkan pesanan itu. Akhirnya, ia menolaknya dan memilih memproduksi dalam jumlah kecil karena mempertimbangkan kondisi kesehatan.

Selang beberapa waktu, ia pun mendatangi masjid yang terletak di pusat kota untuk mendoakan anaknya yang juga sakit. Di sana ia bertemu dengan tokoh agama, seorang kiai sekaligus ketua di suatu yayasan. Sejak saat itulah, dia kenal dan banyak berbincang dengan kiai tersebut, termasuk menanyakan profesinya yang sebagai pembatik. Mendengar hal itu, ketua yayasan itu pun seketika memesan dalam jumlah banyak dan meminta untuk bekerja sama dengan Fifi.

“Awalnya saya bilang kalau tidak perlu pakai MoU. Saya akhirnya mendesain dan saya buat diniatkan untuk sedekah karena batiknya mau dipakai anak sekolah. Gambarnya kubah masjid sesuai yang diminta. Warnanya juga sesuai permintaan,” kenangnya.

Bahkan, baru beberapa bulan yang lalu, pihak yayasan menanyakan apa keinginan terbesarnya saat ini. Ia mengatakan, dirinya ingin beribadah umrah. Dan seketika itu juga, tanpa disangka ia pun mendapatkan hadiah tiket umrah dari sang kiai. “Alhamdulillah, saat itu juga saya didaftarkan umrah. Tapi, belum bisa berangkat karena masih pandemi ini,” ujarnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca