alexametrics
30.2 C
Jember
Tuesday, 9 August 2022

Petani Tembakau Galau

Cuaca Tak Mendukung Penjemuran

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBR.ID – Sejak beberapa waktu lalu, cuaca di Jember sama sekali tak bisa diprediksi. Panas terik terkadang mendera, namun selama beberapa hari kemarin awan mendung dan hujan mengguyur Kota Jember.

Kondisi ini membuat petani tembakau galau. Pasalnya, kondisi tembakau mereka terancam menguning, sehingga menghambat pertumbuhan tembakau. Paling buruk, hal tersebut berpengaruh pada penurunan harga tembakau.

Selain itu, cuaca yang tak menentu ini juga bakal berdampak pada tembakau yang sedang dalam proses penjemuran. Sebabnya, tembakau yang sudah ditata untuk dijemur tidak bisa mengering karena matahari tertutup mendung.

Mobile_AP_Rectangle 2

Seperti disampaikan Rifa’i, petani asal Pakusari. Dia menjelaskan, teriknya matahari sangat berpengaruh terhadap kualitas tembakau saat hendak dijual. “Harus kering, betul-betul kering. Kalau tidak ada matahari apalagi kena hujan, bisa saja setelah disimpan sehari, tembakaunya nanti berubah hitam,” ujar Rifa’i kepada Jawa Pos Radar Jember.

Lebih lanjut, Rifai’ menjelaskan bahwa tahun ini harga tembakau mengalami penurunan yang sangat drastis. Saat ini, satu kuintal tembakau dipukul dengan harga Rp 2,1 juta, atau sekitar Rp 21 ribu per kilogram. Padahal tahun lalu, harga satu kuintal bisa mencapai Rp 4,2 juta. “Itu sekarang separuh penurunannya, baik yang kualitas baik maupun yang sedang. Pokoknya rata-rata segitu,” kata Rifa’i.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBR.ID – Sejak beberapa waktu lalu, cuaca di Jember sama sekali tak bisa diprediksi. Panas terik terkadang mendera, namun selama beberapa hari kemarin awan mendung dan hujan mengguyur Kota Jember.

Kondisi ini membuat petani tembakau galau. Pasalnya, kondisi tembakau mereka terancam menguning, sehingga menghambat pertumbuhan tembakau. Paling buruk, hal tersebut berpengaruh pada penurunan harga tembakau.

Selain itu, cuaca yang tak menentu ini juga bakal berdampak pada tembakau yang sedang dalam proses penjemuran. Sebabnya, tembakau yang sudah ditata untuk dijemur tidak bisa mengering karena matahari tertutup mendung.

Seperti disampaikan Rifa’i, petani asal Pakusari. Dia menjelaskan, teriknya matahari sangat berpengaruh terhadap kualitas tembakau saat hendak dijual. “Harus kering, betul-betul kering. Kalau tidak ada matahari apalagi kena hujan, bisa saja setelah disimpan sehari, tembakaunya nanti berubah hitam,” ujar Rifa’i kepada Jawa Pos Radar Jember.

Lebih lanjut, Rifai’ menjelaskan bahwa tahun ini harga tembakau mengalami penurunan yang sangat drastis. Saat ini, satu kuintal tembakau dipukul dengan harga Rp 2,1 juta, atau sekitar Rp 21 ribu per kilogram. Padahal tahun lalu, harga satu kuintal bisa mencapai Rp 4,2 juta. “Itu sekarang separuh penurunannya, baik yang kualitas baik maupun yang sedang. Pokoknya rata-rata segitu,” kata Rifa’i.

JEMBER, RADARJEMBR.ID – Sejak beberapa waktu lalu, cuaca di Jember sama sekali tak bisa diprediksi. Panas terik terkadang mendera, namun selama beberapa hari kemarin awan mendung dan hujan mengguyur Kota Jember.

Kondisi ini membuat petani tembakau galau. Pasalnya, kondisi tembakau mereka terancam menguning, sehingga menghambat pertumbuhan tembakau. Paling buruk, hal tersebut berpengaruh pada penurunan harga tembakau.

Selain itu, cuaca yang tak menentu ini juga bakal berdampak pada tembakau yang sedang dalam proses penjemuran. Sebabnya, tembakau yang sudah ditata untuk dijemur tidak bisa mengering karena matahari tertutup mendung.

Seperti disampaikan Rifa’i, petani asal Pakusari. Dia menjelaskan, teriknya matahari sangat berpengaruh terhadap kualitas tembakau saat hendak dijual. “Harus kering, betul-betul kering. Kalau tidak ada matahari apalagi kena hujan, bisa saja setelah disimpan sehari, tembakaunya nanti berubah hitam,” ujar Rifa’i kepada Jawa Pos Radar Jember.

Lebih lanjut, Rifai’ menjelaskan bahwa tahun ini harga tembakau mengalami penurunan yang sangat drastis. Saat ini, satu kuintal tembakau dipukul dengan harga Rp 2,1 juta, atau sekitar Rp 21 ribu per kilogram. Padahal tahun lalu, harga satu kuintal bisa mencapai Rp 4,2 juta. “Itu sekarang separuh penurunannya, baik yang kualitas baik maupun yang sedang. Pokoknya rata-rata segitu,” kata Rifa’i.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/