alexametrics
24 C
Jember
Saturday, 13 August 2022

Guling Dapat Perhatian Menteri

Hanya Fokus di Sekolah Blank Spot dan Akreditasi C

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Aktivitas sekolah di tengah pandemi kali ini mulai mendapat sorotan. Tak tanggung-tanggung, langsung oleh Kemendikbud RI, melalui perwakilan mahasiswa pada sejumlah perguruan tinggi. Mereka diutus untuk mengurus problem sekolah daring dengan program Kampus Mengajar Perintis (KMP).

Dalam KMP tersebut, SDN Slawu 2 Desa Sumberlangon, Kecamatan Patrang, menjadi salah satu bidikan program tersebut. Para mahasiswa mendapat tugas mengajar dengan model guru keliling atau guling. “Ini bentuk sumbangsih almamater kami, sekaligus membantu siswa bersekolah di masa pandemi ini,” kata Koordinator KMP dari FKIP Universitas Muhammadiyah Jember, Fitri Amilia.

Diketahui, sekitar 12 mahasiswa FKIP Universitas Muhammadiyah Jember mendapat mandat program Kemendikbud RI. Mereka diturunkan pada Senin (12/10) lalu hingga beberapa pekan ke depan. Menurut Fitri, dipilihnya sekolah bidikan Kemendikbud RI itu bukan tanpa alasan. “Karena di sekolah itu masuk kawasan sulit sinyal. Banyak yang belum punya smartphone, dan sekolahnya baru terakreditasi C,” bebernya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Minimnya sarana sekolah daring belakangan ini memang masih jadi keluhan. Apalagi di Jember cukup banyak sekolah yang masuk kawasan tidak terjangkau sinyal telekomunikasi atau blank spot area. “Kalau pembelajaran, dilaksanakan seperti biasanya. Hanya saja, berjalan dengan cara berbeda,” jelas Kepala SDN Slawu 2 Patrang Subaik.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Aktivitas sekolah di tengah pandemi kali ini mulai mendapat sorotan. Tak tanggung-tanggung, langsung oleh Kemendikbud RI, melalui perwakilan mahasiswa pada sejumlah perguruan tinggi. Mereka diutus untuk mengurus problem sekolah daring dengan program Kampus Mengajar Perintis (KMP).

Dalam KMP tersebut, SDN Slawu 2 Desa Sumberlangon, Kecamatan Patrang, menjadi salah satu bidikan program tersebut. Para mahasiswa mendapat tugas mengajar dengan model guru keliling atau guling. “Ini bentuk sumbangsih almamater kami, sekaligus membantu siswa bersekolah di masa pandemi ini,” kata Koordinator KMP dari FKIP Universitas Muhammadiyah Jember, Fitri Amilia.

Diketahui, sekitar 12 mahasiswa FKIP Universitas Muhammadiyah Jember mendapat mandat program Kemendikbud RI. Mereka diturunkan pada Senin (12/10) lalu hingga beberapa pekan ke depan. Menurut Fitri, dipilihnya sekolah bidikan Kemendikbud RI itu bukan tanpa alasan. “Karena di sekolah itu masuk kawasan sulit sinyal. Banyak yang belum punya smartphone, dan sekolahnya baru terakreditasi C,” bebernya.

Minimnya sarana sekolah daring belakangan ini memang masih jadi keluhan. Apalagi di Jember cukup banyak sekolah yang masuk kawasan tidak terjangkau sinyal telekomunikasi atau blank spot area. “Kalau pembelajaran, dilaksanakan seperti biasanya. Hanya saja, berjalan dengan cara berbeda,” jelas Kepala SDN Slawu 2 Patrang Subaik.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Aktivitas sekolah di tengah pandemi kali ini mulai mendapat sorotan. Tak tanggung-tanggung, langsung oleh Kemendikbud RI, melalui perwakilan mahasiswa pada sejumlah perguruan tinggi. Mereka diutus untuk mengurus problem sekolah daring dengan program Kampus Mengajar Perintis (KMP).

Dalam KMP tersebut, SDN Slawu 2 Desa Sumberlangon, Kecamatan Patrang, menjadi salah satu bidikan program tersebut. Para mahasiswa mendapat tugas mengajar dengan model guru keliling atau guling. “Ini bentuk sumbangsih almamater kami, sekaligus membantu siswa bersekolah di masa pandemi ini,” kata Koordinator KMP dari FKIP Universitas Muhammadiyah Jember, Fitri Amilia.

Diketahui, sekitar 12 mahasiswa FKIP Universitas Muhammadiyah Jember mendapat mandat program Kemendikbud RI. Mereka diturunkan pada Senin (12/10) lalu hingga beberapa pekan ke depan. Menurut Fitri, dipilihnya sekolah bidikan Kemendikbud RI itu bukan tanpa alasan. “Karena di sekolah itu masuk kawasan sulit sinyal. Banyak yang belum punya smartphone, dan sekolahnya baru terakreditasi C,” bebernya.

Minimnya sarana sekolah daring belakangan ini memang masih jadi keluhan. Apalagi di Jember cukup banyak sekolah yang masuk kawasan tidak terjangkau sinyal telekomunikasi atau blank spot area. “Kalau pembelajaran, dilaksanakan seperti biasanya. Hanya saja, berjalan dengan cara berbeda,” jelas Kepala SDN Slawu 2 Patrang Subaik.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/