alexametrics
22.3 C
Jember
Tuesday, 9 August 2022

Awal Bertugas Takut Terpapar, Pasien Sembuh Jadi Semangat

Mobile_AP_Rectangle 1

Bagi petugas kesehatan, tak ada yang lebih membahagiakan selain kesehatan pasien. Inilah yang dirasakan Helfaya Nauri, perawat khusus pasien Covid-19 di ruang isolasi RSD dr Soebandi. Meski awalnya dia sempat ragu, tapi kini sudah tidak lagi. Bahkan, dia merasa semakin bersemangat melayani ketika ada pasien yang dinyatakan sembuh.

ISNEIN PURNOMO, Patrang, Radar Jember

Kala itu, Helfaya Nauri begitu gerah lantaran seharian mengenakan alat pelindung diri (APD). Pakaian semacam itu wajib dia kenakan ketika melayani dan merawat pasien di ruang isolasi. Dari atas hingga bawah bagian tubuhnya terbungkus APD itu. Mirip astronot. Hanya tatapan mata yang samar-samar tampak. Wajar jika terkadang dirinya merasa gerah.

Mobile_AP_Rectangle 2

Meski begitu, senyumnya tetap merekah karena hari itu ada pasien yang dinyatakan sembuh dari Covid-19. Seolah rasa lelahnya lunas terbayar setelah mendengar kabar itu. Semangatnya kembali bangkit dalam menangani mereka yang sakit. “Awalnya saya sering stres saat merawat pasien Covid-19,” ujar warga Jalan Lettu Mulyadi, Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, itu.

Helfa tak bisa langsung menerima begitu saja ketika dirinya ditugaskan merawat pasien Covid-19. Ada perjuangan panjang dan beragam alasan yang menguatkan dirinya hingga legawa mengurus pasien yang terpapar virus tersebut. Apalagi, saat itu, dia juga belum memiliki pengalaman dan mental yang cukup. “Ketakutan bakal terpapar tentu saja terus membayangi,” ujarnya.

Namun, setelah menjalaninya secara langsung, Helfa menjadi tahu langkah-langkah yang harus dilakukan dalam menangani pasien. Termasuk upaya melindungi diri dari paparan virus pasca-merawat pasien. “Lambat laun, saya lebih paham daripada sebelumnya. Salah satunya, terkait apa saja proteksi yang harus dipersiapkan,” imbuh perempuan kelahiran 11 Juli 1984 tersebut.

- Advertisement -

Bagi petugas kesehatan, tak ada yang lebih membahagiakan selain kesehatan pasien. Inilah yang dirasakan Helfaya Nauri, perawat khusus pasien Covid-19 di ruang isolasi RSD dr Soebandi. Meski awalnya dia sempat ragu, tapi kini sudah tidak lagi. Bahkan, dia merasa semakin bersemangat melayani ketika ada pasien yang dinyatakan sembuh.

ISNEIN PURNOMO, Patrang, Radar Jember

Kala itu, Helfaya Nauri begitu gerah lantaran seharian mengenakan alat pelindung diri (APD). Pakaian semacam itu wajib dia kenakan ketika melayani dan merawat pasien di ruang isolasi. Dari atas hingga bawah bagian tubuhnya terbungkus APD itu. Mirip astronot. Hanya tatapan mata yang samar-samar tampak. Wajar jika terkadang dirinya merasa gerah.

Meski begitu, senyumnya tetap merekah karena hari itu ada pasien yang dinyatakan sembuh dari Covid-19. Seolah rasa lelahnya lunas terbayar setelah mendengar kabar itu. Semangatnya kembali bangkit dalam menangani mereka yang sakit. “Awalnya saya sering stres saat merawat pasien Covid-19,” ujar warga Jalan Lettu Mulyadi, Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, itu.

Helfa tak bisa langsung menerima begitu saja ketika dirinya ditugaskan merawat pasien Covid-19. Ada perjuangan panjang dan beragam alasan yang menguatkan dirinya hingga legawa mengurus pasien yang terpapar virus tersebut. Apalagi, saat itu, dia juga belum memiliki pengalaman dan mental yang cukup. “Ketakutan bakal terpapar tentu saja terus membayangi,” ujarnya.

Namun, setelah menjalaninya secara langsung, Helfa menjadi tahu langkah-langkah yang harus dilakukan dalam menangani pasien. Termasuk upaya melindungi diri dari paparan virus pasca-merawat pasien. “Lambat laun, saya lebih paham daripada sebelumnya. Salah satunya, terkait apa saja proteksi yang harus dipersiapkan,” imbuh perempuan kelahiran 11 Juli 1984 tersebut.

Bagi petugas kesehatan, tak ada yang lebih membahagiakan selain kesehatan pasien. Inilah yang dirasakan Helfaya Nauri, perawat khusus pasien Covid-19 di ruang isolasi RSD dr Soebandi. Meski awalnya dia sempat ragu, tapi kini sudah tidak lagi. Bahkan, dia merasa semakin bersemangat melayani ketika ada pasien yang dinyatakan sembuh.

ISNEIN PURNOMO, Patrang, Radar Jember

Kala itu, Helfaya Nauri begitu gerah lantaran seharian mengenakan alat pelindung diri (APD). Pakaian semacam itu wajib dia kenakan ketika melayani dan merawat pasien di ruang isolasi. Dari atas hingga bawah bagian tubuhnya terbungkus APD itu. Mirip astronot. Hanya tatapan mata yang samar-samar tampak. Wajar jika terkadang dirinya merasa gerah.

Meski begitu, senyumnya tetap merekah karena hari itu ada pasien yang dinyatakan sembuh dari Covid-19. Seolah rasa lelahnya lunas terbayar setelah mendengar kabar itu. Semangatnya kembali bangkit dalam menangani mereka yang sakit. “Awalnya saya sering stres saat merawat pasien Covid-19,” ujar warga Jalan Lettu Mulyadi, Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, itu.

Helfa tak bisa langsung menerima begitu saja ketika dirinya ditugaskan merawat pasien Covid-19. Ada perjuangan panjang dan beragam alasan yang menguatkan dirinya hingga legawa mengurus pasien yang terpapar virus tersebut. Apalagi, saat itu, dia juga belum memiliki pengalaman dan mental yang cukup. “Ketakutan bakal terpapar tentu saja terus membayangi,” ujarnya.

Namun, setelah menjalaninya secara langsung, Helfa menjadi tahu langkah-langkah yang harus dilakukan dalam menangani pasien. Termasuk upaya melindungi diri dari paparan virus pasca-merawat pasien. “Lambat laun, saya lebih paham daripada sebelumnya. Salah satunya, terkait apa saja proteksi yang harus dipersiapkan,” imbuh perempuan kelahiran 11 Juli 1984 tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/