29.3 C
Jember
Friday, 2 December 2022

Budidaya Maggot di Jember, Solusi Atasi Sampah Organik Warga Perkotaan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Selain bernilai ekonomi, budidaya maggot ternyata juga bisa menjadi solusi mengatasi sampah. Karena larva yang berasal dari lalat jenis Black Soldier Fly (BSF) ini, mampu mengurai sampah organik yang kerap menjadi masalah lingkungan di perkotaan.

Risal Abdillah, 45, warga Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, Jember, merupakan salah satu pembudidaya belatung tersebut. Dia mulai mengembangkan budidaya maggot karena resah semakin banyak sampah organik yang dihasilkan di sekitar tempat tinggalnya.

Menjalin kerja sama dengan para pelaku usaha rumah makan dan penjual sayur, Risal mengambil dan mengolah sisa-sisa makanan dan sayuran busuk untuk pembudidayaan maggot. Pembudidayaan ini dilakukan di belakang kedai milik saudaranya yang juga menyetorkan sampah organik yang dihasilkan.

Mobile_AP_Rectangle 2

BACA JUGA: 1.002 Ton Sampah Tak Terangkut, Minim Truk Sampah

Setiap 20 hari, ia dapat menghasilkan 150 kilogram maggot yang kemudian dijual kepada orang-orang yang sudah memesan. “Biasanya peternak lele yang beli. Karena maggot ini bisa membuat kualitas lele lebih bagus daripada yang diberi makan pelet,” jelas Risal, Rabu (14/9).

Pembudidayaan maggot dilakukan Risal secara terintegrasi. Sehingga mulai dari peneluran, penetasan, perawatan sampai penjualan maggot ia lakukan dalam satu lokasi. “Selain menjadi pemasok pakan lele, kami juga pelihara lele yang makanannya adalah maggot,” urainya.

Menurutnya, maggot memiliki manfaat dalam pengolahan sampah, karena memiliki kemampuan mengurai limbah-limbah organik tersebut. “Sampah sayur, buah, seperti itu sekarang kan semakin banyak. Jika dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) hanya menumpuk saja. Tidak bermanfaat,” ujar Risal.

Sehingga dengan budidaya maggot, penguraian bahan-bahan organik dapat dilakukan tanpa membawa bibit penyakit yang lain. Hal ini karena maggot merupakan larva yang bersih dan tidak bisa menjadi media berkembangnya penyakit.

Risal yang juga ketua Komunitas Maggot Jember (KMJ) menyampaikan, kesadaran pemilahan sampah di masyarakat harus terus digalakkan. Selain memudahkan para pembudidaya maggot dalam pengambilan limbah, hal tersebut juga bermanfaat dalam meningkatkan kualitas lingkungan.

“Mudah-mudahan dengan dikembangkannya budidaya maggot di Jember ini, juga meningkatkan pemahaman masyarakat dalam pentingnya memilah sampah,” harap Risal.

Ia menambahkan, setelah banyaknya pembudidaya maggot di Jember, sampah yang dibawa ke TPA mulai berkurang. Karena sampah-sampah organik sudah terlebih dahulu dibawa ke tempat produksi maggot. “Kurang lebih di TPA yang awalnya sampah itu bisa 80 ton per hari, sekarang berkurang jadi 60 ton. Masih termasuk banyak, namun sudah lebih baik,” tandas Risal. (*)

Foto   : Noer Fajriyatul Maslahah untuk Radar Jember

Editor: Mahrus Sholih

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Selain bernilai ekonomi, budidaya maggot ternyata juga bisa menjadi solusi mengatasi sampah. Karena larva yang berasal dari lalat jenis Black Soldier Fly (BSF) ini, mampu mengurai sampah organik yang kerap menjadi masalah lingkungan di perkotaan.

Risal Abdillah, 45, warga Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, Jember, merupakan salah satu pembudidaya belatung tersebut. Dia mulai mengembangkan budidaya maggot karena resah semakin banyak sampah organik yang dihasilkan di sekitar tempat tinggalnya.

Menjalin kerja sama dengan para pelaku usaha rumah makan dan penjual sayur, Risal mengambil dan mengolah sisa-sisa makanan dan sayuran busuk untuk pembudidayaan maggot. Pembudidayaan ini dilakukan di belakang kedai milik saudaranya yang juga menyetorkan sampah organik yang dihasilkan.

BACA JUGA: 1.002 Ton Sampah Tak Terangkut, Minim Truk Sampah

Setiap 20 hari, ia dapat menghasilkan 150 kilogram maggot yang kemudian dijual kepada orang-orang yang sudah memesan. “Biasanya peternak lele yang beli. Karena maggot ini bisa membuat kualitas lele lebih bagus daripada yang diberi makan pelet,” jelas Risal, Rabu (14/9).

Pembudidayaan maggot dilakukan Risal secara terintegrasi. Sehingga mulai dari peneluran, penetasan, perawatan sampai penjualan maggot ia lakukan dalam satu lokasi. “Selain menjadi pemasok pakan lele, kami juga pelihara lele yang makanannya adalah maggot,” urainya.

Menurutnya, maggot memiliki manfaat dalam pengolahan sampah, karena memiliki kemampuan mengurai limbah-limbah organik tersebut. “Sampah sayur, buah, seperti itu sekarang kan semakin banyak. Jika dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) hanya menumpuk saja. Tidak bermanfaat,” ujar Risal.

Sehingga dengan budidaya maggot, penguraian bahan-bahan organik dapat dilakukan tanpa membawa bibit penyakit yang lain. Hal ini karena maggot merupakan larva yang bersih dan tidak bisa menjadi media berkembangnya penyakit.

Risal yang juga ketua Komunitas Maggot Jember (KMJ) menyampaikan, kesadaran pemilahan sampah di masyarakat harus terus digalakkan. Selain memudahkan para pembudidaya maggot dalam pengambilan limbah, hal tersebut juga bermanfaat dalam meningkatkan kualitas lingkungan.

“Mudah-mudahan dengan dikembangkannya budidaya maggot di Jember ini, juga meningkatkan pemahaman masyarakat dalam pentingnya memilah sampah,” harap Risal.

Ia menambahkan, setelah banyaknya pembudidaya maggot di Jember, sampah yang dibawa ke TPA mulai berkurang. Karena sampah-sampah organik sudah terlebih dahulu dibawa ke tempat produksi maggot. “Kurang lebih di TPA yang awalnya sampah itu bisa 80 ton per hari, sekarang berkurang jadi 60 ton. Masih termasuk banyak, namun sudah lebih baik,” tandas Risal. (*)

Foto   : Noer Fajriyatul Maslahah untuk Radar Jember

Editor: Mahrus Sholih

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Selain bernilai ekonomi, budidaya maggot ternyata juga bisa menjadi solusi mengatasi sampah. Karena larva yang berasal dari lalat jenis Black Soldier Fly (BSF) ini, mampu mengurai sampah organik yang kerap menjadi masalah lingkungan di perkotaan.

Risal Abdillah, 45, warga Kelurahan/Kecamatan Sumbersari, Jember, merupakan salah satu pembudidaya belatung tersebut. Dia mulai mengembangkan budidaya maggot karena resah semakin banyak sampah organik yang dihasilkan di sekitar tempat tinggalnya.

Menjalin kerja sama dengan para pelaku usaha rumah makan dan penjual sayur, Risal mengambil dan mengolah sisa-sisa makanan dan sayuran busuk untuk pembudidayaan maggot. Pembudidayaan ini dilakukan di belakang kedai milik saudaranya yang juga menyetorkan sampah organik yang dihasilkan.

BACA JUGA: 1.002 Ton Sampah Tak Terangkut, Minim Truk Sampah

Setiap 20 hari, ia dapat menghasilkan 150 kilogram maggot yang kemudian dijual kepada orang-orang yang sudah memesan. “Biasanya peternak lele yang beli. Karena maggot ini bisa membuat kualitas lele lebih bagus daripada yang diberi makan pelet,” jelas Risal, Rabu (14/9).

Pembudidayaan maggot dilakukan Risal secara terintegrasi. Sehingga mulai dari peneluran, penetasan, perawatan sampai penjualan maggot ia lakukan dalam satu lokasi. “Selain menjadi pemasok pakan lele, kami juga pelihara lele yang makanannya adalah maggot,” urainya.

Menurutnya, maggot memiliki manfaat dalam pengolahan sampah, karena memiliki kemampuan mengurai limbah-limbah organik tersebut. “Sampah sayur, buah, seperti itu sekarang kan semakin banyak. Jika dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) hanya menumpuk saja. Tidak bermanfaat,” ujar Risal.

Sehingga dengan budidaya maggot, penguraian bahan-bahan organik dapat dilakukan tanpa membawa bibit penyakit yang lain. Hal ini karena maggot merupakan larva yang bersih dan tidak bisa menjadi media berkembangnya penyakit.

Risal yang juga ketua Komunitas Maggot Jember (KMJ) menyampaikan, kesadaran pemilahan sampah di masyarakat harus terus digalakkan. Selain memudahkan para pembudidaya maggot dalam pengambilan limbah, hal tersebut juga bermanfaat dalam meningkatkan kualitas lingkungan.

“Mudah-mudahan dengan dikembangkannya budidaya maggot di Jember ini, juga meningkatkan pemahaman masyarakat dalam pentingnya memilah sampah,” harap Risal.

Ia menambahkan, setelah banyaknya pembudidaya maggot di Jember, sampah yang dibawa ke TPA mulai berkurang. Karena sampah-sampah organik sudah terlebih dahulu dibawa ke tempat produksi maggot. “Kurang lebih di TPA yang awalnya sampah itu bisa 80 ton per hari, sekarang berkurang jadi 60 ton. Masih termasuk banyak, namun sudah lebih baik,” tandas Risal. (*)

Foto   : Noer Fajriyatul Maslahah untuk Radar Jember

Editor: Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

ODGJ Ditampung Bersama Gepeng

Usulkan Listrik Gratis dari Panas Bumi

Atlet Bridge Jember Gacor di Kejurnas

Wajib Dibaca

/