alexametrics
26 C
Jember
Thursday, 23 September 2021
spot_imgspot_img

Di Jember Marak Buah Luar Daerah Kuasai Pasar Lokal

Mobile_AP_Rectangle 1

KEPATIHAN, RADARJEMBER.ID – Belakangan ini marak dijumpai pedagang buah yang mangkal di sepanjang jalan. Jumlahnya lebih banyak dari biasanya. Jika sebelumnya mereka hanya menggelar lapak terpusat di satu kawasan, kini hampir merata di semua jalan. Ternyata, buah-buahan itu bukanlah produksi lokal, melainkan didatangkan dari luar daerah.

Toro Hasanudin, salah seorang pedagang buah di pertigaan Jalan Kartini, Kecamatan Kepatihan Jember arah menuju Polres Jember, mengatakan, ia berjualan nanas madu asal Pemalang, Jawa Tengah, sejak sekitar enam bulan belakangan. Dia juga asli dari Pemalang. “Pemalang selama ini dikenal sebagai kabupaten penghasil nanas dan rasanya manis sekali. Karena itu, dinamai nanas madu. Awalnya saya sekadar iseng mencoba mengenalkan buah ini ke warga Jember. Namun, ternyata sangat diminati,” katanya.

Selain nanas, masih banyak lagi buah asal luar daerah yang melapak di Jember. Ada salak, pepaya, jeruk, semangka, apel, anggur, mangga, dan jenis buah lainnya. Padahal, beberapa di antaranya ada yang ditanam oleh petani lokal. Seperti jeruk, pepaya, dan salak. Otomatis, serbuan buah dari luar daerah tersebut membuat petani merasa terancam. Sebab, mereka selama ini tidak pernah absen menanam buah-buahan. Belum lagi dipusingkan dengan buah impor yang dijual di pusat perbelanjaan modern.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut petani, bila buah impor dan buah dari daerah lain dibiarkan masuk ke Jember, praktis hal itu bakal menggeser keberadaan buah lokal. Karenanya, petani meminta pemerintah daerah memberikan proteksi untuk melindungi produksi buah yang ditanam oleh petani Jember. “Petani dari dulu menginginkan di Jember ada pasar yang menjadi sentra buah-buahan. Pasar itu untuk menampung hasil tanaman buah petani lokal,” kata Jumantoro, Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Jember.

- Advertisement -

KEPATIHAN, RADARJEMBER.ID – Belakangan ini marak dijumpai pedagang buah yang mangkal di sepanjang jalan. Jumlahnya lebih banyak dari biasanya. Jika sebelumnya mereka hanya menggelar lapak terpusat di satu kawasan, kini hampir merata di semua jalan. Ternyata, buah-buahan itu bukanlah produksi lokal, melainkan didatangkan dari luar daerah.

Toro Hasanudin, salah seorang pedagang buah di pertigaan Jalan Kartini, Kecamatan Kepatihan Jember arah menuju Polres Jember, mengatakan, ia berjualan nanas madu asal Pemalang, Jawa Tengah, sejak sekitar enam bulan belakangan. Dia juga asli dari Pemalang. “Pemalang selama ini dikenal sebagai kabupaten penghasil nanas dan rasanya manis sekali. Karena itu, dinamai nanas madu. Awalnya saya sekadar iseng mencoba mengenalkan buah ini ke warga Jember. Namun, ternyata sangat diminati,” katanya.

Selain nanas, masih banyak lagi buah asal luar daerah yang melapak di Jember. Ada salak, pepaya, jeruk, semangka, apel, anggur, mangga, dan jenis buah lainnya. Padahal, beberapa di antaranya ada yang ditanam oleh petani lokal. Seperti jeruk, pepaya, dan salak. Otomatis, serbuan buah dari luar daerah tersebut membuat petani merasa terancam. Sebab, mereka selama ini tidak pernah absen menanam buah-buahan. Belum lagi dipusingkan dengan buah impor yang dijual di pusat perbelanjaan modern.

Menurut petani, bila buah impor dan buah dari daerah lain dibiarkan masuk ke Jember, praktis hal itu bakal menggeser keberadaan buah lokal. Karenanya, petani meminta pemerintah daerah memberikan proteksi untuk melindungi produksi buah yang ditanam oleh petani Jember. “Petani dari dulu menginginkan di Jember ada pasar yang menjadi sentra buah-buahan. Pasar itu untuk menampung hasil tanaman buah petani lokal,” kata Jumantoro, Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Jember.

KEPATIHAN, RADARJEMBER.ID – Belakangan ini marak dijumpai pedagang buah yang mangkal di sepanjang jalan. Jumlahnya lebih banyak dari biasanya. Jika sebelumnya mereka hanya menggelar lapak terpusat di satu kawasan, kini hampir merata di semua jalan. Ternyata, buah-buahan itu bukanlah produksi lokal, melainkan didatangkan dari luar daerah.

Toro Hasanudin, salah seorang pedagang buah di pertigaan Jalan Kartini, Kecamatan Kepatihan Jember arah menuju Polres Jember, mengatakan, ia berjualan nanas madu asal Pemalang, Jawa Tengah, sejak sekitar enam bulan belakangan. Dia juga asli dari Pemalang. “Pemalang selama ini dikenal sebagai kabupaten penghasil nanas dan rasanya manis sekali. Karena itu, dinamai nanas madu. Awalnya saya sekadar iseng mencoba mengenalkan buah ini ke warga Jember. Namun, ternyata sangat diminati,” katanya.

Selain nanas, masih banyak lagi buah asal luar daerah yang melapak di Jember. Ada salak, pepaya, jeruk, semangka, apel, anggur, mangga, dan jenis buah lainnya. Padahal, beberapa di antaranya ada yang ditanam oleh petani lokal. Seperti jeruk, pepaya, dan salak. Otomatis, serbuan buah dari luar daerah tersebut membuat petani merasa terancam. Sebab, mereka selama ini tidak pernah absen menanam buah-buahan. Belum lagi dipusingkan dengan buah impor yang dijual di pusat perbelanjaan modern.

Menurut petani, bila buah impor dan buah dari daerah lain dibiarkan masuk ke Jember, praktis hal itu bakal menggeser keberadaan buah lokal. Karenanya, petani meminta pemerintah daerah memberikan proteksi untuk melindungi produksi buah yang ditanam oleh petani Jember. “Petani dari dulu menginginkan di Jember ada pasar yang menjadi sentra buah-buahan. Pasar itu untuk menampung hasil tanaman buah petani lokal,” kata Jumantoro, Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Jember.


BERITA TERKINI

Wajib Dibaca