alexametrics
27.8 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Sudah Kalah, Diabaikan Pemerintah

Sektor pertanian, terutama komoditas hortikultura, tak lagi semanis dan sepedas dulu. Di tengah pandemi korona, komoditas ini seolah tak berharga lagi. Jika awalnya menjadi langganan penyumbang inflasi, kini justru berbalik jadi pelanggan tetap deflasi. Apa problem mendasar yang memengaruhi harga jual tomat, cabai, hingga kubis tersebut?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – “Apa Cong, mau foto-foto ya? Ibuk eksyen dulu,” ucap Jumaani, ketika bertemu Jawa Pos Radar Jember, belum lama ini. Jumaani adalah buruh tani yang kala itu bersama enam perempuan lainnya sedang memetik cabai rawit di areal persawahan Lingkungan Pelindu, Kelurahan Karangrejo, Sumbersari.

Walau siang nan terik, mereka tak mengeluh kepanasan. Raut wajahnya juga tak begitu serius seperti masa panen pada umumnya. Suasananya hangat, gayeng, bahkan kerap bercerita kondisi rumah tangga mereka masing-masing. “Kerja itu dibuat santai saja, jangan keburu. Karena harga lombok murah sekarang,” ucap Jumaani.

Harga cabai rawit dari di tingkatan petani hanya Rp 5.000 – 6.000 per kilogram. Merosotnya harga cabai rawit membuatnya galau. Bila dipanen, akan mengeluarkan biaya lagi. Jika tidak dipanen, tanaman cabai akan rusak dan buahnya membusuk. Solusinya, pekerja diberi upah 50 persen dari hasil cabai yang dipanen. Kalau sehari dapat 12 kilogram, maka setengahnya atau 6 kilogram bagian yang memetik.

Mobile_AP_Rectangle 2

Rupanya selisih harga cabai jenis yang sama antara di petani dengan di konsumen berbeda jauh. Berdasarkan data Siskaperbapo, sistem berbasis website tentang daftar harga terkini kebutuhan pokok yang dikelola Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pemprov Jawa Timur, harga cabai rawit di Jember rata-rata Rp 14-15 ribu per kilogram. Artinya, antara harga dari petani ke konsumen bisa naik 200 persen.

Derita anjloknya komoditas sayuran hortikultura, tidak hanya di cabai saja. Menurut Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (KHTI) Jember Jumantoro, ada yang lebih parah, yaitu kubis dan tomat. Harga kubis di tingkatan petani sekitar tiga minggu lalu, masih menyentuh Rp 1.000 – 2.000 per kilogram, tapi sekarang cuma Rp 150 – 200 per kilogram. “Sedangkan harga di pasar atau konsumen Rp 4.000 sampai Rp 5.000 per kilogram. Selisihnya jauh sekali,” ungkapnya.

Sementara itu, untuk tomat jenis ranti yang biasanya sebagai bahan sambal, dari petani hanya Rp 500 per kilogram. “Kalau tomat buah masih agak naik dari sebelumnya. Sekarang berkisar seribu atau dua ribu rupiah per kilogram,” jelasnya.

Jumantoro mengaku heran, petani seolah dibiarkan bertarung bebas dengan mekanisme pasar. Pada kondisi ini, pemerintah juga terkesan abai dan membiarkan keadaan tersebut. Padahal, saat semua orang bekerja di rumah akibat pandemi, petani tetap bekerja di sawah demi mencukupi kebutuhan pangan warga yang lain. “Petani saat pandemi dituntut terus produksi untuk menjaga pasokan pangan. Tapi ending-nya petani rugi, harganya nggak cocok,” ucapnya.

Pria asal Arjasa ini memahami pada awal korona, karena semua daerah melakukan pengetatan masuk, sehingga mengganggu distribusi. Apalagi sayuran hortikultura itu juga kejar-kejaran dengan waktu. Bila telat, bisa busuk dan tak diterima oleh pasar. Tapi nyatanya, meski telah masuk era kebiasaan adaptasi baru, tetap saja harga tidak berpihak ke petani.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – “Apa Cong, mau foto-foto ya? Ibuk eksyen dulu,” ucap Jumaani, ketika bertemu Jawa Pos Radar Jember, belum lama ini. Jumaani adalah buruh tani yang kala itu bersama enam perempuan lainnya sedang memetik cabai rawit di areal persawahan Lingkungan Pelindu, Kelurahan Karangrejo, Sumbersari.

Walau siang nan terik, mereka tak mengeluh kepanasan. Raut wajahnya juga tak begitu serius seperti masa panen pada umumnya. Suasananya hangat, gayeng, bahkan kerap bercerita kondisi rumah tangga mereka masing-masing. “Kerja itu dibuat santai saja, jangan keburu. Karena harga lombok murah sekarang,” ucap Jumaani.

Harga cabai rawit dari di tingkatan petani hanya Rp 5.000 – 6.000 per kilogram. Merosotnya harga cabai rawit membuatnya galau. Bila dipanen, akan mengeluarkan biaya lagi. Jika tidak dipanen, tanaman cabai akan rusak dan buahnya membusuk. Solusinya, pekerja diberi upah 50 persen dari hasil cabai yang dipanen. Kalau sehari dapat 12 kilogram, maka setengahnya atau 6 kilogram bagian yang memetik.

Rupanya selisih harga cabai jenis yang sama antara di petani dengan di konsumen berbeda jauh. Berdasarkan data Siskaperbapo, sistem berbasis website tentang daftar harga terkini kebutuhan pokok yang dikelola Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pemprov Jawa Timur, harga cabai rawit di Jember rata-rata Rp 14-15 ribu per kilogram. Artinya, antara harga dari petani ke konsumen bisa naik 200 persen.

Derita anjloknya komoditas sayuran hortikultura, tidak hanya di cabai saja. Menurut Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (KHTI) Jember Jumantoro, ada yang lebih parah, yaitu kubis dan tomat. Harga kubis di tingkatan petani sekitar tiga minggu lalu, masih menyentuh Rp 1.000 – 2.000 per kilogram, tapi sekarang cuma Rp 150 – 200 per kilogram. “Sedangkan harga di pasar atau konsumen Rp 4.000 sampai Rp 5.000 per kilogram. Selisihnya jauh sekali,” ungkapnya.

Sementara itu, untuk tomat jenis ranti yang biasanya sebagai bahan sambal, dari petani hanya Rp 500 per kilogram. “Kalau tomat buah masih agak naik dari sebelumnya. Sekarang berkisar seribu atau dua ribu rupiah per kilogram,” jelasnya.

Jumantoro mengaku heran, petani seolah dibiarkan bertarung bebas dengan mekanisme pasar. Pada kondisi ini, pemerintah juga terkesan abai dan membiarkan keadaan tersebut. Padahal, saat semua orang bekerja di rumah akibat pandemi, petani tetap bekerja di sawah demi mencukupi kebutuhan pangan warga yang lain. “Petani saat pandemi dituntut terus produksi untuk menjaga pasokan pangan. Tapi ending-nya petani rugi, harganya nggak cocok,” ucapnya.

Pria asal Arjasa ini memahami pada awal korona, karena semua daerah melakukan pengetatan masuk, sehingga mengganggu distribusi. Apalagi sayuran hortikultura itu juga kejar-kejaran dengan waktu. Bila telat, bisa busuk dan tak diterima oleh pasar. Tapi nyatanya, meski telah masuk era kebiasaan adaptasi baru, tetap saja harga tidak berpihak ke petani.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – “Apa Cong, mau foto-foto ya? Ibuk eksyen dulu,” ucap Jumaani, ketika bertemu Jawa Pos Radar Jember, belum lama ini. Jumaani adalah buruh tani yang kala itu bersama enam perempuan lainnya sedang memetik cabai rawit di areal persawahan Lingkungan Pelindu, Kelurahan Karangrejo, Sumbersari.

Walau siang nan terik, mereka tak mengeluh kepanasan. Raut wajahnya juga tak begitu serius seperti masa panen pada umumnya. Suasananya hangat, gayeng, bahkan kerap bercerita kondisi rumah tangga mereka masing-masing. “Kerja itu dibuat santai saja, jangan keburu. Karena harga lombok murah sekarang,” ucap Jumaani.

Harga cabai rawit dari di tingkatan petani hanya Rp 5.000 – 6.000 per kilogram. Merosotnya harga cabai rawit membuatnya galau. Bila dipanen, akan mengeluarkan biaya lagi. Jika tidak dipanen, tanaman cabai akan rusak dan buahnya membusuk. Solusinya, pekerja diberi upah 50 persen dari hasil cabai yang dipanen. Kalau sehari dapat 12 kilogram, maka setengahnya atau 6 kilogram bagian yang memetik.

Rupanya selisih harga cabai jenis yang sama antara di petani dengan di konsumen berbeda jauh. Berdasarkan data Siskaperbapo, sistem berbasis website tentang daftar harga terkini kebutuhan pokok yang dikelola Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pemprov Jawa Timur, harga cabai rawit di Jember rata-rata Rp 14-15 ribu per kilogram. Artinya, antara harga dari petani ke konsumen bisa naik 200 persen.

Derita anjloknya komoditas sayuran hortikultura, tidak hanya di cabai saja. Menurut Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (KHTI) Jember Jumantoro, ada yang lebih parah, yaitu kubis dan tomat. Harga kubis di tingkatan petani sekitar tiga minggu lalu, masih menyentuh Rp 1.000 – 2.000 per kilogram, tapi sekarang cuma Rp 150 – 200 per kilogram. “Sedangkan harga di pasar atau konsumen Rp 4.000 sampai Rp 5.000 per kilogram. Selisihnya jauh sekali,” ungkapnya.

Sementara itu, untuk tomat jenis ranti yang biasanya sebagai bahan sambal, dari petani hanya Rp 500 per kilogram. “Kalau tomat buah masih agak naik dari sebelumnya. Sekarang berkisar seribu atau dua ribu rupiah per kilogram,” jelasnya.

Jumantoro mengaku heran, petani seolah dibiarkan bertarung bebas dengan mekanisme pasar. Pada kondisi ini, pemerintah juga terkesan abai dan membiarkan keadaan tersebut. Padahal, saat semua orang bekerja di rumah akibat pandemi, petani tetap bekerja di sawah demi mencukupi kebutuhan pangan warga yang lain. “Petani saat pandemi dituntut terus produksi untuk menjaga pasokan pangan. Tapi ending-nya petani rugi, harganya nggak cocok,” ucapnya.

Pria asal Arjasa ini memahami pada awal korona, karena semua daerah melakukan pengetatan masuk, sehingga mengganggu distribusi. Apalagi sayuran hortikultura itu juga kejar-kejaran dengan waktu. Bila telat, bisa busuk dan tak diterima oleh pasar. Tapi nyatanya, meski telah masuk era kebiasaan adaptasi baru, tetap saja harga tidak berpihak ke petani.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/