alexametrics
23 C
Jember
Thursday, 11 August 2022

Perlu Bangun Kemitraan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Beberapa pekan terakhir, banyak petani nyesek akibat harga panen tanaman hortikultura anjlok. Modal tak kembali, bahkan beberapa petani tak mau memanen tanamannya. Untuk itu, perlu terobosan agar ke depan petani kita tidak terus-terusan merugi.

Tanaman hortikultura ini sejatinya tak bisa dilepaskan dari hukum pasar. Bila barang banyak, harganya bisa menjadi murah. Apalagi, jika permintaan sedikit, maka harganya bisa anjlok. “Ini yang harus dipahami petani dan menjadi tugas pemerintah melakukan pendampingan,” kata Nyoman Aribowo, anggota Komisi B DPRD Jember.

Menurutnya, tanaman hortikultura tidak bisa disamaratakan. Baik ketahanan maupun penyamaan harganya. Untuk itu, melakukan spekulasi tidak seluruhnya bisa diterapkan pada tanaman. Terlebih, untuk tanaman yang sifatnya mudah membusuk alias cepat rusak.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Tanaman hortikultura yang tidak bisa digudangkan, ini rentan mengalami fluktuasi naik turunnya harga. Itu terjadi karena hasil panen tidak bisa disimpan dalam waktu yang lama. Jadi, sayur apa pun memiliki sifat segar. Saat sayur layu, harga bisa berbeda,” ucapnya.

Fenomena hortikultura yang tidak mampu bertahan lama membuat petani kerap dipermainkan harganya sehingga jatuh. Petani mau tidak mau akan menjual, karena barang tersebut sudah harus dikeluarkan pasca-dipanen. “Hukum pasar berlaku di sini. Kita tidak bisa menyalahkan tengkulak bila selisih harganya jauh dengan di pasar. Karena tengkulak pun tidak wajib membeli milik petani. Sementara petani, tetap butuh mengeluarkan barangnya,” ulas Nyoman.

Khusus bagi tanaman yang tidak bisa digudangkan, menurut Nyoman, lebih baik tidak bermain spekulasi. Termasuk, prediksi-prediksi apakah saat panen harganya akan mahal atau tidak. Sebab, ada risiko yang harus ditanggung. Yaitu, hortikultura sayuran atau buah-buahan yang mudah rusak, harganya bisa sewaktu-waktu anjlok.

“Petani sebenarnya sudah tahu karena mereka pernah mengalami penjualan tanaman hortikultura yang tinggi. Petani juga tahu risiko harganya. Untuk itu, jangan berspekulasi untuk tanaman hortikultura yang tidak bisa digudangkan,” ulasnya.

Nyoman mencontohkan, tanaman kubis, tomat, atau apa pun jenisnya, yang tidak dapat disimpan secara lama, akan mudah berubah harga. “Solusinya, bangun kemitraan untuk melindungi saat harga jatuh. Kalau harga anjlok, tetapi sudah ada kontrak kemitraan, maka petani tidak akan rugi. Tetapi, saat harga tinggi pun, petani tidak untung besar karena harga juga harus disepakati di awal,” bebernya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Beberapa pekan terakhir, banyak petani nyesek akibat harga panen tanaman hortikultura anjlok. Modal tak kembali, bahkan beberapa petani tak mau memanen tanamannya. Untuk itu, perlu terobosan agar ke depan petani kita tidak terus-terusan merugi.

Tanaman hortikultura ini sejatinya tak bisa dilepaskan dari hukum pasar. Bila barang banyak, harganya bisa menjadi murah. Apalagi, jika permintaan sedikit, maka harganya bisa anjlok. “Ini yang harus dipahami petani dan menjadi tugas pemerintah melakukan pendampingan,” kata Nyoman Aribowo, anggota Komisi B DPRD Jember.

Menurutnya, tanaman hortikultura tidak bisa disamaratakan. Baik ketahanan maupun penyamaan harganya. Untuk itu, melakukan spekulasi tidak seluruhnya bisa diterapkan pada tanaman. Terlebih, untuk tanaman yang sifatnya mudah membusuk alias cepat rusak.

“Tanaman hortikultura yang tidak bisa digudangkan, ini rentan mengalami fluktuasi naik turunnya harga. Itu terjadi karena hasil panen tidak bisa disimpan dalam waktu yang lama. Jadi, sayur apa pun memiliki sifat segar. Saat sayur layu, harga bisa berbeda,” ucapnya.

Fenomena hortikultura yang tidak mampu bertahan lama membuat petani kerap dipermainkan harganya sehingga jatuh. Petani mau tidak mau akan menjual, karena barang tersebut sudah harus dikeluarkan pasca-dipanen. “Hukum pasar berlaku di sini. Kita tidak bisa menyalahkan tengkulak bila selisih harganya jauh dengan di pasar. Karena tengkulak pun tidak wajib membeli milik petani. Sementara petani, tetap butuh mengeluarkan barangnya,” ulas Nyoman.

Khusus bagi tanaman yang tidak bisa digudangkan, menurut Nyoman, lebih baik tidak bermain spekulasi. Termasuk, prediksi-prediksi apakah saat panen harganya akan mahal atau tidak. Sebab, ada risiko yang harus ditanggung. Yaitu, hortikultura sayuran atau buah-buahan yang mudah rusak, harganya bisa sewaktu-waktu anjlok.

“Petani sebenarnya sudah tahu karena mereka pernah mengalami penjualan tanaman hortikultura yang tinggi. Petani juga tahu risiko harganya. Untuk itu, jangan berspekulasi untuk tanaman hortikultura yang tidak bisa digudangkan,” ulasnya.

Nyoman mencontohkan, tanaman kubis, tomat, atau apa pun jenisnya, yang tidak dapat disimpan secara lama, akan mudah berubah harga. “Solusinya, bangun kemitraan untuk melindungi saat harga jatuh. Kalau harga anjlok, tetapi sudah ada kontrak kemitraan, maka petani tidak akan rugi. Tetapi, saat harga tinggi pun, petani tidak untung besar karena harga juga harus disepakati di awal,” bebernya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Beberapa pekan terakhir, banyak petani nyesek akibat harga panen tanaman hortikultura anjlok. Modal tak kembali, bahkan beberapa petani tak mau memanen tanamannya. Untuk itu, perlu terobosan agar ke depan petani kita tidak terus-terusan merugi.

Tanaman hortikultura ini sejatinya tak bisa dilepaskan dari hukum pasar. Bila barang banyak, harganya bisa menjadi murah. Apalagi, jika permintaan sedikit, maka harganya bisa anjlok. “Ini yang harus dipahami petani dan menjadi tugas pemerintah melakukan pendampingan,” kata Nyoman Aribowo, anggota Komisi B DPRD Jember.

Menurutnya, tanaman hortikultura tidak bisa disamaratakan. Baik ketahanan maupun penyamaan harganya. Untuk itu, melakukan spekulasi tidak seluruhnya bisa diterapkan pada tanaman. Terlebih, untuk tanaman yang sifatnya mudah membusuk alias cepat rusak.

“Tanaman hortikultura yang tidak bisa digudangkan, ini rentan mengalami fluktuasi naik turunnya harga. Itu terjadi karena hasil panen tidak bisa disimpan dalam waktu yang lama. Jadi, sayur apa pun memiliki sifat segar. Saat sayur layu, harga bisa berbeda,” ucapnya.

Fenomena hortikultura yang tidak mampu bertahan lama membuat petani kerap dipermainkan harganya sehingga jatuh. Petani mau tidak mau akan menjual, karena barang tersebut sudah harus dikeluarkan pasca-dipanen. “Hukum pasar berlaku di sini. Kita tidak bisa menyalahkan tengkulak bila selisih harganya jauh dengan di pasar. Karena tengkulak pun tidak wajib membeli milik petani. Sementara petani, tetap butuh mengeluarkan barangnya,” ulas Nyoman.

Khusus bagi tanaman yang tidak bisa digudangkan, menurut Nyoman, lebih baik tidak bermain spekulasi. Termasuk, prediksi-prediksi apakah saat panen harganya akan mahal atau tidak. Sebab, ada risiko yang harus ditanggung. Yaitu, hortikultura sayuran atau buah-buahan yang mudah rusak, harganya bisa sewaktu-waktu anjlok.

“Petani sebenarnya sudah tahu karena mereka pernah mengalami penjualan tanaman hortikultura yang tinggi. Petani juga tahu risiko harganya. Untuk itu, jangan berspekulasi untuk tanaman hortikultura yang tidak bisa digudangkan,” ulasnya.

Nyoman mencontohkan, tanaman kubis, tomat, atau apa pun jenisnya, yang tidak dapat disimpan secara lama, akan mudah berubah harga. “Solusinya, bangun kemitraan untuk melindungi saat harga jatuh. Kalau harga anjlok, tetapi sudah ada kontrak kemitraan, maka petani tidak akan rugi. Tetapi, saat harga tinggi pun, petani tidak untung besar karena harga juga harus disepakati di awal,” bebernya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/