alexametrics
29.6 C
Jember
Sunday, 14 August 2022

Pantang Jual Barang ke Tengkulak dan Pasar

Fluktuasi harga komoditas pertanian, belakangan ini, membuat petani merugi. Biaya perawatan tanaman dan harga jual saat panen kerap jomplang. Melihat itu, ada warga yang berinisiatif memotong rantai permainan pasar dengan melakukan pemberdayaan. Meski masih terbatas pada produksi tanaman pangan. 

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, sejumlah warga terlihat sibuk. Mereka menurunkan barang dari sebuah mobil boks bermuatan jagung yang baru saja datang. Mereka tak hanya menurunkan, bapak-bapak itu juga menjemur jagung tersebut ke tempat penjemuran di lokasi yang sama.

Sementara ada yang menjemur, beberapa pekerja lain terlihat menyiapkan jagung yang siap digiling. Tumpukan limbah jagung seperti janggel, dedak, atau bubuk jagung, juga tertumpuk rapi di satu lokasi. Aktivitas seperti ini hampir tiap hari berjalan di tempat penjemuran dan pemrosesan jagung milik Sofyan Yakub, warga Dusun Tegal Gayam, Desa Kemuningsari Kidul, Kecamatan Jenggawah.

Tak hanya jadi tempat pemrosesan, di lokasi itu pula jagung bakal dijual kembali. Biasanya, Sofyan, pemilik usaha itu, menjualnya ke tetangga sekitar rumah. Padahal saat mendatangkan jagung itu, sekali datang bisa sampai 6-12 ton, tiap tiga hari sekali.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kendati dijual eceran, tapi bagi Sofyan hal itu tidak masalah. Prinsip dia, sedikit-sedikit asal menghasilkan dan bisa membagi hasil itu bersama warga di sekitar rumahnya. Sebab, Sofyan sendiri mempunyai dua pelanggan tetap. Yakni pelanggan rumahan atau toko pakan ternak dan perusahaan pengolah jagung yang berlokasi di Desa Karangsemanding, Kecamatan Balung.

Untuk bahannya, jagung milik Sofyan itu didatangkan dari sebuah perusahaan pembenihan pertanian di Desa Ajung. Ia sendiri mengambil barang bekas untuk diolah kembali. Selain itu, ia juga mengambil jagung milik tetangga di sekitar rumahnya.

Sebenarnya, Sofyan tidak pernah meminta, ia hanya sering didatangi petani dan tetangganya, lalu meminta Sofyan agar menjualkan jagungnya. Dari situ ia kemudian membeli jagung tersebut dan diproses di gudangnya untuk dijual eceran.

Jawa Pos Radar Jember sempat menanyakan, kenapa dia enggan menjual ke pasar atau melalui tengkulak dan makelar. Padahal keuntungannya bisa lebih cepat dan besar. Namun, Sofyan menjawab sederhana. “Saya menghindari makelar sama pasar. Sasarannya adalah warga konsumen atau PT sekalian,” ujarnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, sejumlah warga terlihat sibuk. Mereka menurunkan barang dari sebuah mobil boks bermuatan jagung yang baru saja datang. Mereka tak hanya menurunkan, bapak-bapak itu juga menjemur jagung tersebut ke tempat penjemuran di lokasi yang sama.

Sementara ada yang menjemur, beberapa pekerja lain terlihat menyiapkan jagung yang siap digiling. Tumpukan limbah jagung seperti janggel, dedak, atau bubuk jagung, juga tertumpuk rapi di satu lokasi. Aktivitas seperti ini hampir tiap hari berjalan di tempat penjemuran dan pemrosesan jagung milik Sofyan Yakub, warga Dusun Tegal Gayam, Desa Kemuningsari Kidul, Kecamatan Jenggawah.

Tak hanya jadi tempat pemrosesan, di lokasi itu pula jagung bakal dijual kembali. Biasanya, Sofyan, pemilik usaha itu, menjualnya ke tetangga sekitar rumah. Padahal saat mendatangkan jagung itu, sekali datang bisa sampai 6-12 ton, tiap tiga hari sekali.

Kendati dijual eceran, tapi bagi Sofyan hal itu tidak masalah. Prinsip dia, sedikit-sedikit asal menghasilkan dan bisa membagi hasil itu bersama warga di sekitar rumahnya. Sebab, Sofyan sendiri mempunyai dua pelanggan tetap. Yakni pelanggan rumahan atau toko pakan ternak dan perusahaan pengolah jagung yang berlokasi di Desa Karangsemanding, Kecamatan Balung.

Untuk bahannya, jagung milik Sofyan itu didatangkan dari sebuah perusahaan pembenihan pertanian di Desa Ajung. Ia sendiri mengambil barang bekas untuk diolah kembali. Selain itu, ia juga mengambil jagung milik tetangga di sekitar rumahnya.

Sebenarnya, Sofyan tidak pernah meminta, ia hanya sering didatangi petani dan tetangganya, lalu meminta Sofyan agar menjualkan jagungnya. Dari situ ia kemudian membeli jagung tersebut dan diproses di gudangnya untuk dijual eceran.

Jawa Pos Radar Jember sempat menanyakan, kenapa dia enggan menjual ke pasar atau melalui tengkulak dan makelar. Padahal keuntungannya bisa lebih cepat dan besar. Namun, Sofyan menjawab sederhana. “Saya menghindari makelar sama pasar. Sasarannya adalah warga konsumen atau PT sekalian,” ujarnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, sejumlah warga terlihat sibuk. Mereka menurunkan barang dari sebuah mobil boks bermuatan jagung yang baru saja datang. Mereka tak hanya menurunkan, bapak-bapak itu juga menjemur jagung tersebut ke tempat penjemuran di lokasi yang sama.

Sementara ada yang menjemur, beberapa pekerja lain terlihat menyiapkan jagung yang siap digiling. Tumpukan limbah jagung seperti janggel, dedak, atau bubuk jagung, juga tertumpuk rapi di satu lokasi. Aktivitas seperti ini hampir tiap hari berjalan di tempat penjemuran dan pemrosesan jagung milik Sofyan Yakub, warga Dusun Tegal Gayam, Desa Kemuningsari Kidul, Kecamatan Jenggawah.

Tak hanya jadi tempat pemrosesan, di lokasi itu pula jagung bakal dijual kembali. Biasanya, Sofyan, pemilik usaha itu, menjualnya ke tetangga sekitar rumah. Padahal saat mendatangkan jagung itu, sekali datang bisa sampai 6-12 ton, tiap tiga hari sekali.

Kendati dijual eceran, tapi bagi Sofyan hal itu tidak masalah. Prinsip dia, sedikit-sedikit asal menghasilkan dan bisa membagi hasil itu bersama warga di sekitar rumahnya. Sebab, Sofyan sendiri mempunyai dua pelanggan tetap. Yakni pelanggan rumahan atau toko pakan ternak dan perusahaan pengolah jagung yang berlokasi di Desa Karangsemanding, Kecamatan Balung.

Untuk bahannya, jagung milik Sofyan itu didatangkan dari sebuah perusahaan pembenihan pertanian di Desa Ajung. Ia sendiri mengambil barang bekas untuk diolah kembali. Selain itu, ia juga mengambil jagung milik tetangga di sekitar rumahnya.

Sebenarnya, Sofyan tidak pernah meminta, ia hanya sering didatangi petani dan tetangganya, lalu meminta Sofyan agar menjualkan jagungnya. Dari situ ia kemudian membeli jagung tersebut dan diproses di gudangnya untuk dijual eceran.

Jawa Pos Radar Jember sempat menanyakan, kenapa dia enggan menjual ke pasar atau melalui tengkulak dan makelar. Padahal keuntungannya bisa lebih cepat dan besar. Namun, Sofyan menjawab sederhana. “Saya menghindari makelar sama pasar. Sasarannya adalah warga konsumen atau PT sekalian,” ujarnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/