alexametrics
26.5 C
Jember
Thursday, 11 August 2022

Perlu Perhatian, 10 Tahun Hidup di Gubuk Derita

Kondisi perekonomian Suryadi jatuh akibat ulahnya sendiri. Rumahnya dirobohkan, sepuluh tahun yang lalu, lantaran ada persoalan. Kini, dia tinggal di tengah puing-puing dan bertahan hidup dengan membuat patung.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Rumah itu telah runtuh. Panas dan hujan pun telah merapuhkan puing-puing rumah yang ambruk. Seakan mustahil ditempati oleh seorang warga. Akan tetapi, fakta berkata lain. Suryadi tiba-tiba muncul dari sebuah gubuk yang ada di tengah rumah. Dia pun menyapa Jawa Pos Radar Jember yang memanggil-manggil namanya.

“Siapa? Ada apa ya?” kata Suryadi, yang keluar dari dalam gubuk di reruntuhan rumahnya. Dia pun mengulurkan tangan untuk bersalaman. Tanpa kata, Suryadi kemudian menutup sebuah patung yang belum selesai dengan kertas. “Ini belum kering, takut terkena injak,” ucapnya.

Lantaran rumahnya telah ambruk, Jawa Pos Radar Jember dan Suryadi pun sama-sama tetap berdiri dan berbincang. Suryadi tampak kaku, tetapi akhirnya suasana cukup cair. Dia pun menceritakan perjalanan hidupnya hingga menjadi seorang perajin pembuat patung.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dulu, sekitar 12 tahun yang lalu, Suryadi harus tinggal sendiri di sebuah rumah yang terletak di Jalan Nanas RT 5 RW 18. Hal itu terjadi karena keluarganya lebih memilih untuk pindah ke Madura. Sementara, Suryadi tetap bertahan.

Pada 2011 lalu, pria yang kini berusia 40-an tahun itu mengaku, ada permasalahan yang dihadapinya. Karena permasalahan itulah rumah permanen yang sempat dia tempati, kini hanya tersisa puing-puing. Ya, rumah itu akhirnya dirobohkan. “Saya sendiri yang merobohkan,” ulasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Rumah itu telah runtuh. Panas dan hujan pun telah merapuhkan puing-puing rumah yang ambruk. Seakan mustahil ditempati oleh seorang warga. Akan tetapi, fakta berkata lain. Suryadi tiba-tiba muncul dari sebuah gubuk yang ada di tengah rumah. Dia pun menyapa Jawa Pos Radar Jember yang memanggil-manggil namanya.

“Siapa? Ada apa ya?” kata Suryadi, yang keluar dari dalam gubuk di reruntuhan rumahnya. Dia pun mengulurkan tangan untuk bersalaman. Tanpa kata, Suryadi kemudian menutup sebuah patung yang belum selesai dengan kertas. “Ini belum kering, takut terkena injak,” ucapnya.

Lantaran rumahnya telah ambruk, Jawa Pos Radar Jember dan Suryadi pun sama-sama tetap berdiri dan berbincang. Suryadi tampak kaku, tetapi akhirnya suasana cukup cair. Dia pun menceritakan perjalanan hidupnya hingga menjadi seorang perajin pembuat patung.

Dulu, sekitar 12 tahun yang lalu, Suryadi harus tinggal sendiri di sebuah rumah yang terletak di Jalan Nanas RT 5 RW 18. Hal itu terjadi karena keluarganya lebih memilih untuk pindah ke Madura. Sementara, Suryadi tetap bertahan.

Pada 2011 lalu, pria yang kini berusia 40-an tahun itu mengaku, ada permasalahan yang dihadapinya. Karena permasalahan itulah rumah permanen yang sempat dia tempati, kini hanya tersisa puing-puing. Ya, rumah itu akhirnya dirobohkan. “Saya sendiri yang merobohkan,” ulasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Rumah itu telah runtuh. Panas dan hujan pun telah merapuhkan puing-puing rumah yang ambruk. Seakan mustahil ditempati oleh seorang warga. Akan tetapi, fakta berkata lain. Suryadi tiba-tiba muncul dari sebuah gubuk yang ada di tengah rumah. Dia pun menyapa Jawa Pos Radar Jember yang memanggil-manggil namanya.

“Siapa? Ada apa ya?” kata Suryadi, yang keluar dari dalam gubuk di reruntuhan rumahnya. Dia pun mengulurkan tangan untuk bersalaman. Tanpa kata, Suryadi kemudian menutup sebuah patung yang belum selesai dengan kertas. “Ini belum kering, takut terkena injak,” ucapnya.

Lantaran rumahnya telah ambruk, Jawa Pos Radar Jember dan Suryadi pun sama-sama tetap berdiri dan berbincang. Suryadi tampak kaku, tetapi akhirnya suasana cukup cair. Dia pun menceritakan perjalanan hidupnya hingga menjadi seorang perajin pembuat patung.

Dulu, sekitar 12 tahun yang lalu, Suryadi harus tinggal sendiri di sebuah rumah yang terletak di Jalan Nanas RT 5 RW 18. Hal itu terjadi karena keluarganya lebih memilih untuk pindah ke Madura. Sementara, Suryadi tetap bertahan.

Pada 2011 lalu, pria yang kini berusia 40-an tahun itu mengaku, ada permasalahan yang dihadapinya. Karena permasalahan itulah rumah permanen yang sempat dia tempati, kini hanya tersisa puing-puing. Ya, rumah itu akhirnya dirobohkan. “Saya sendiri yang merobohkan,” ulasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/