alexametrics
29.5 C
Jember
Wednesday, 10 August 2022

Permintaan Hewan Kurban Merosot

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat di Jember tampaknya berimbas terhadap penjualan hewan kurban, meski saat ini menjelang perayaan Idul Adha. Tingkat penjualan anjlok karena jarang ada pembeli. Jika hingga H-1 nanti kondisinya tetap sama, para pedagang hewan kurban terancam merugi lantaran biaya operasional yang mereka keluarkan cukup tinggi.

Seperti yang dialami Lasim, 56, salah seorang penjual sapi di Kecamatan Pakusari. Setelah 20 hari membuka lapak, dia mengaku, sapi miliknya sempat tak laku selama beberapa hari. “Lima hari pertama tidak ada yang beli satu pun. Biasanya, sebelum saya buka sudah banyak pesanan,” ungkapnya, kemarin (13/7).

Padahal, pada tahun sebelumnya, ia mampu menjual tiga hingga lima ekor sapi setiap harinya meski dalam keadaan pandemi Covid-19 seperti saat ini. Bahkan, pembelinya ada yang datang dari luar kota. Namun, tahun ini kondisinya berbeda. Sapi milik Lasim hanya terjual sebanyak dua hingga tiga ekor setiap harinya. “Yang banyak dari perusahaan luar Jember, seperti Lumajang, Banyuwangi, Probolinggo, kadang juga Malang,” ujarnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Senasib dengan Lasim, Wahyudi, penjual kambing di Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, juga mengaku kehilangan pelanggan. Akibat PPKM darurat yang telah berlangsung hampir dua pekan ini, permintaan turun hingga 30 persen. “Ada yang sampai membatalkan pesanan. Ada dua orang. Padahal sudah saya kasih harga terendah,” katanya.

Agar bisnisnya tetap berjalan, Wahyudi berinisiatif tetap membuka dagangannya di pinggir jalan saat malam hari. “Malam kami tetap buka pakai penerangan sendiri. Karena lampu di jalan raya dimatikan,” ucapnya.

Harga Tetap Stabil

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat di Jember tampaknya berimbas terhadap penjualan hewan kurban, meski saat ini menjelang perayaan Idul Adha. Tingkat penjualan anjlok karena jarang ada pembeli. Jika hingga H-1 nanti kondisinya tetap sama, para pedagang hewan kurban terancam merugi lantaran biaya operasional yang mereka keluarkan cukup tinggi.

Seperti yang dialami Lasim, 56, salah seorang penjual sapi di Kecamatan Pakusari. Setelah 20 hari membuka lapak, dia mengaku, sapi miliknya sempat tak laku selama beberapa hari. “Lima hari pertama tidak ada yang beli satu pun. Biasanya, sebelum saya buka sudah banyak pesanan,” ungkapnya, kemarin (13/7).

Padahal, pada tahun sebelumnya, ia mampu menjual tiga hingga lima ekor sapi setiap harinya meski dalam keadaan pandemi Covid-19 seperti saat ini. Bahkan, pembelinya ada yang datang dari luar kota. Namun, tahun ini kondisinya berbeda. Sapi milik Lasim hanya terjual sebanyak dua hingga tiga ekor setiap harinya. “Yang banyak dari perusahaan luar Jember, seperti Lumajang, Banyuwangi, Probolinggo, kadang juga Malang,” ujarnya.

Senasib dengan Lasim, Wahyudi, penjual kambing di Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, juga mengaku kehilangan pelanggan. Akibat PPKM darurat yang telah berlangsung hampir dua pekan ini, permintaan turun hingga 30 persen. “Ada yang sampai membatalkan pesanan. Ada dua orang. Padahal sudah saya kasih harga terendah,” katanya.

Agar bisnisnya tetap berjalan, Wahyudi berinisiatif tetap membuka dagangannya di pinggir jalan saat malam hari. “Malam kami tetap buka pakai penerangan sendiri. Karena lampu di jalan raya dimatikan,” ucapnya.

Harga Tetap Stabil

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat di Jember tampaknya berimbas terhadap penjualan hewan kurban, meski saat ini menjelang perayaan Idul Adha. Tingkat penjualan anjlok karena jarang ada pembeli. Jika hingga H-1 nanti kondisinya tetap sama, para pedagang hewan kurban terancam merugi lantaran biaya operasional yang mereka keluarkan cukup tinggi.

Seperti yang dialami Lasim, 56, salah seorang penjual sapi di Kecamatan Pakusari. Setelah 20 hari membuka lapak, dia mengaku, sapi miliknya sempat tak laku selama beberapa hari. “Lima hari pertama tidak ada yang beli satu pun. Biasanya, sebelum saya buka sudah banyak pesanan,” ungkapnya, kemarin (13/7).

Padahal, pada tahun sebelumnya, ia mampu menjual tiga hingga lima ekor sapi setiap harinya meski dalam keadaan pandemi Covid-19 seperti saat ini. Bahkan, pembelinya ada yang datang dari luar kota. Namun, tahun ini kondisinya berbeda. Sapi milik Lasim hanya terjual sebanyak dua hingga tiga ekor setiap harinya. “Yang banyak dari perusahaan luar Jember, seperti Lumajang, Banyuwangi, Probolinggo, kadang juga Malang,” ujarnya.

Senasib dengan Lasim, Wahyudi, penjual kambing di Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, juga mengaku kehilangan pelanggan. Akibat PPKM darurat yang telah berlangsung hampir dua pekan ini, permintaan turun hingga 30 persen. “Ada yang sampai membatalkan pesanan. Ada dua orang. Padahal sudah saya kasih harga terendah,” katanya.

Agar bisnisnya tetap berjalan, Wahyudi berinisiatif tetap membuka dagangannya di pinggir jalan saat malam hari. “Malam kami tetap buka pakai penerangan sendiri. Karena lampu di jalan raya dimatikan,” ucapnya.

Harga Tetap Stabil

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/