alexametrics
21.6 C
Jember
Wednesday, 29 June 2022

Nasib Penyintas Long Covid yang “Dicuekin” Pemerintah

Dalam skema penanggulangan pandemi, penyintas yang mengalami long Covid tidak masuk dalam peta penanganan. Pemerintah lebih mengutamakan pencegahan dan pengobatan bagi mereka yang positif saja. Padahal, dampak long Covid juga berbahaya. Bahkan, bisa mengakibatkan kematian. Mengapa kasus ini cenderung diabaikan?

Mobile_AP_Rectangle 1

Padahal, sejak terkena Covid-19, dirinya selalu rutin mengonsumsi vitamin. Baik sebelum maupun sesudah bertemu dengan banyak orang atau di forum. Selain itu, tidak pernah mengeluarkan semua tenaganya. “Jadi, kalau kerja jangan sampai mengeluarkan tenaga full seratus persen. Sisakan 20 persen untuk disimpan agar pemulihan tenaga itu cepat,” terangnya.

Dia menuturkan, kala terinfeksi korona di saat kondisi tubuh drop karena riset di luar kota, tidak semua teman yang bersamanya tertular virus tersebut. “Teman saya dalam satu mobil itu tidak kena. Berarti di masa pandemi seperti ini, istirahat itu penting. Jangan begadang,” pesannya.

Bila Soetriono terkena korona dengan napas yang pendek-pendek hingga dilarikan ke rumah sakit, berbeda dengan Elfrida Anugrah Heni, warga Kelurahan Tegalbesar, Kaliwates. Perempuan 31 tahun itu hanya melakukan isolasi mandiri. Mulai Februari hingga Maret kemarin. Gejala yang ditimbulkan tidak sampai sesak napas. Hanya batuk dan pilek. Badan terasa panas juga hanya beberapa hari. “Mulai gregesi itu Jumat. Senin, hilang indera penciuman,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Walau gejala ringan, tapi hingga kini ada yang aneh dalam indera penciumannya. Terkadang dia mencium bau-bau aneh seperti bau ikan asap. Bahkan, untuk mencium bau wangi menyengat, seperti sabun hingga parfum, dia juga merasakan hal aneh. Tak seperti biasanya. “Sampai sekarang tidak mengenali bau parfumku sendiri. Padahal hafal banget dengan bau parfum yang dipakai setiap hari,” terangnya.

Bahkan, untuk mengenali bau wangi, Elfrida harus mencium berkali-kali baru mengetahui itu bau harum atau bukan. Hingga tiga bulan setelah sembuh, dia masih merasa fisik mudah lelah. Hal yang disayangkan dirinya adalah ketika dinyatakan sembuh oleh dokter, tidak dijelaskan akan ada gejala lanjutan atau yang disebut long Covid.

 

 

Jurnalis : Dwi Siswanto
Fotografer : Grafis reza
Redaktur : Mahrus Sholih

- Advertisement -

Padahal, sejak terkena Covid-19, dirinya selalu rutin mengonsumsi vitamin. Baik sebelum maupun sesudah bertemu dengan banyak orang atau di forum. Selain itu, tidak pernah mengeluarkan semua tenaganya. “Jadi, kalau kerja jangan sampai mengeluarkan tenaga full seratus persen. Sisakan 20 persen untuk disimpan agar pemulihan tenaga itu cepat,” terangnya.

Dia menuturkan, kala terinfeksi korona di saat kondisi tubuh drop karena riset di luar kota, tidak semua teman yang bersamanya tertular virus tersebut. “Teman saya dalam satu mobil itu tidak kena. Berarti di masa pandemi seperti ini, istirahat itu penting. Jangan begadang,” pesannya.

Bila Soetriono terkena korona dengan napas yang pendek-pendek hingga dilarikan ke rumah sakit, berbeda dengan Elfrida Anugrah Heni, warga Kelurahan Tegalbesar, Kaliwates. Perempuan 31 tahun itu hanya melakukan isolasi mandiri. Mulai Februari hingga Maret kemarin. Gejala yang ditimbulkan tidak sampai sesak napas. Hanya batuk dan pilek. Badan terasa panas juga hanya beberapa hari. “Mulai gregesi itu Jumat. Senin, hilang indera penciuman,” ungkapnya.

Walau gejala ringan, tapi hingga kini ada yang aneh dalam indera penciumannya. Terkadang dia mencium bau-bau aneh seperti bau ikan asap. Bahkan, untuk mencium bau wangi menyengat, seperti sabun hingga parfum, dia juga merasakan hal aneh. Tak seperti biasanya. “Sampai sekarang tidak mengenali bau parfumku sendiri. Padahal hafal banget dengan bau parfum yang dipakai setiap hari,” terangnya.

Bahkan, untuk mengenali bau wangi, Elfrida harus mencium berkali-kali baru mengetahui itu bau harum atau bukan. Hingga tiga bulan setelah sembuh, dia masih merasa fisik mudah lelah. Hal yang disayangkan dirinya adalah ketika dinyatakan sembuh oleh dokter, tidak dijelaskan akan ada gejala lanjutan atau yang disebut long Covid.

 

 

Jurnalis : Dwi Siswanto
Fotografer : Grafis reza
Redaktur : Mahrus Sholih

Padahal, sejak terkena Covid-19, dirinya selalu rutin mengonsumsi vitamin. Baik sebelum maupun sesudah bertemu dengan banyak orang atau di forum. Selain itu, tidak pernah mengeluarkan semua tenaganya. “Jadi, kalau kerja jangan sampai mengeluarkan tenaga full seratus persen. Sisakan 20 persen untuk disimpan agar pemulihan tenaga itu cepat,” terangnya.

Dia menuturkan, kala terinfeksi korona di saat kondisi tubuh drop karena riset di luar kota, tidak semua teman yang bersamanya tertular virus tersebut. “Teman saya dalam satu mobil itu tidak kena. Berarti di masa pandemi seperti ini, istirahat itu penting. Jangan begadang,” pesannya.

Bila Soetriono terkena korona dengan napas yang pendek-pendek hingga dilarikan ke rumah sakit, berbeda dengan Elfrida Anugrah Heni, warga Kelurahan Tegalbesar, Kaliwates. Perempuan 31 tahun itu hanya melakukan isolasi mandiri. Mulai Februari hingga Maret kemarin. Gejala yang ditimbulkan tidak sampai sesak napas. Hanya batuk dan pilek. Badan terasa panas juga hanya beberapa hari. “Mulai gregesi itu Jumat. Senin, hilang indera penciuman,” ungkapnya.

Walau gejala ringan, tapi hingga kini ada yang aneh dalam indera penciumannya. Terkadang dia mencium bau-bau aneh seperti bau ikan asap. Bahkan, untuk mencium bau wangi menyengat, seperti sabun hingga parfum, dia juga merasakan hal aneh. Tak seperti biasanya. “Sampai sekarang tidak mengenali bau parfumku sendiri. Padahal hafal banget dengan bau parfum yang dipakai setiap hari,” terangnya.

Bahkan, untuk mengenali bau wangi, Elfrida harus mencium berkali-kali baru mengetahui itu bau harum atau bukan. Hingga tiga bulan setelah sembuh, dia masih merasa fisik mudah lelah. Hal yang disayangkan dirinya adalah ketika dinyatakan sembuh oleh dokter, tidak dijelaskan akan ada gejala lanjutan atau yang disebut long Covid.

 

 

Jurnalis : Dwi Siswanto
Fotografer : Grafis reza
Redaktur : Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/