alexametrics
23.9 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Nasib Penyintas Long Covid yang “Dicuekin” Pemerintah

Dalam skema penanggulangan pandemi, penyintas yang mengalami long Covid tidak masuk dalam peta penanganan. Pemerintah lebih mengutamakan pencegahan dan pengobatan bagi mereka yang positif saja. Padahal, dampak long Covid juga berbahaya. Bahkan, bisa mengakibatkan kematian. Mengapa kasus ini cenderung diabaikan?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Covid-19 itu nyata adanya, walau virus Covid-19 itu tak bisa dilihat oleh mata. Begitulah pesan bagi dari mereka yang pernah terjangkit virus korona. seba, tak sedikit di antara penyintas korona itu yang mengalami long Covid. Yaitu gejala lain setelah dinyatakan sembuh.

“Sebentar, saya masih main tenis,” ucap Prof Soetriono kepada Jawa Pos Radar Jember. Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Jember (Unej) tersebut merupakan salah seorang penyintas Covid-19. Pada September 2020 lalu, dia dinyatakan positif korona. Dan bermain tenis menjadi salah satu kegiatan rutin untuk mengembalikan kondisi tubuhnya.

Soetriono dinyatakan sembuh pada15 September 2020. Sejak saat itu, dirinya harus menjalani isolasi mandiri selama 14 hari. Pada waktu isolasi itulah ada gejala lain yang dia rasakan. Padahal telah dinyatakan sembuh dari korona. “Begitu isolasi mandiri, saya mencoba aktivitas. Naik tangga itu ngos-ngosan. Otot juga terasa capek. Mungkin karena terlalu lama istirahat saja kalau cepat capek,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Soetriono mengaku baru memahami kondisi itu setelah mendapatkan penjelasan dokter. Bahwa selepas dinyatakan sembuh, pasien belum normal seratus persen seperti sebelum terkena korona. “Kata dokter paru pada waktu itu, paru-paru bisa bersih sekitar enam bulan. Seandainya saya tidak bertanya setelah lihat hasil foto rontgen paru-paru masih ada bintik-bintik, kemungkinan tidak akan dijelaskan,” ungkapnya.

Menurutnya, napas lebih cepat lelah. Bahkan hampir tiga bulan sejak dinyatakan sembuh, kondisinya belum pulih benar. Terbukti, ketika mencoba bermain tenis lagi pada Desember, bermain satu set saja dirinya sudah ngoyo. Napasnya ngos-ngosan. “Biasanya kalau bermain di pertandingan itu bisa tiga sampai empat set,” terangnya.

Kini, napasnya dalam bermain tenis sudah kembali normal. Dalam seminggu, setidaknya latihan tenis tiga kali. Dan dia memilih bermain di bawah terik matahari. Walau napasnya telah pulih, namun ada dua hal yang sekarang masih ada yang aneh di tubuhnya setelah terjangkit Covid-19. Pertama adalah terasa ada lendir di tenggorokan saat bangun pagi. “Rasanya itu seperti batuk kecil untuk mengeluarkan lendir. Sudah kontrol ke dokter juga tidak ada masalah,” ucapnya.

Kedua, dia menambahkan, adalah bisa lupa secara tiba-tiba. Hal yang sering terjadi adalah saya berbicara itu lupa melanjutkan apa yang harus dibicarakan. “Jadi, daya mikir itu seketika lupa. Kadang tanya ke teman, sebelumnya berbicara apa. Padahal sebelumnya tidak pernah terjadi,” terangnya.

Saat masih sakit Covid-19 dan dirawat di rumah sakit, Soetriono mengaku suka lupa tiba-tiba. Contohnya, kata pria 57 tahun ini, adalah saat melafalkan surat Alfatihah itu lupa apakah bacaan sebelumnya sudah terbaca apa belum. Begitu pula saat menunaikan salat, juga lupa masuk rakaat keberapa.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Covid-19 itu nyata adanya, walau virus Covid-19 itu tak bisa dilihat oleh mata. Begitulah pesan bagi dari mereka yang pernah terjangkit virus korona. seba, tak sedikit di antara penyintas korona itu yang mengalami long Covid. Yaitu gejala lain setelah dinyatakan sembuh.

“Sebentar, saya masih main tenis,” ucap Prof Soetriono kepada Jawa Pos Radar Jember. Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Jember (Unej) tersebut merupakan salah seorang penyintas Covid-19. Pada September 2020 lalu, dia dinyatakan positif korona. Dan bermain tenis menjadi salah satu kegiatan rutin untuk mengembalikan kondisi tubuhnya.

Soetriono dinyatakan sembuh pada15 September 2020. Sejak saat itu, dirinya harus menjalani isolasi mandiri selama 14 hari. Pada waktu isolasi itulah ada gejala lain yang dia rasakan. Padahal telah dinyatakan sembuh dari korona. “Begitu isolasi mandiri, saya mencoba aktivitas. Naik tangga itu ngos-ngosan. Otot juga terasa capek. Mungkin karena terlalu lama istirahat saja kalau cepat capek,” katanya.

Soetriono mengaku baru memahami kondisi itu setelah mendapatkan penjelasan dokter. Bahwa selepas dinyatakan sembuh, pasien belum normal seratus persen seperti sebelum terkena korona. “Kata dokter paru pada waktu itu, paru-paru bisa bersih sekitar enam bulan. Seandainya saya tidak bertanya setelah lihat hasil foto rontgen paru-paru masih ada bintik-bintik, kemungkinan tidak akan dijelaskan,” ungkapnya.

Menurutnya, napas lebih cepat lelah. Bahkan hampir tiga bulan sejak dinyatakan sembuh, kondisinya belum pulih benar. Terbukti, ketika mencoba bermain tenis lagi pada Desember, bermain satu set saja dirinya sudah ngoyo. Napasnya ngos-ngosan. “Biasanya kalau bermain di pertandingan itu bisa tiga sampai empat set,” terangnya.

Kini, napasnya dalam bermain tenis sudah kembali normal. Dalam seminggu, setidaknya latihan tenis tiga kali. Dan dia memilih bermain di bawah terik matahari. Walau napasnya telah pulih, namun ada dua hal yang sekarang masih ada yang aneh di tubuhnya setelah terjangkit Covid-19. Pertama adalah terasa ada lendir di tenggorokan saat bangun pagi. “Rasanya itu seperti batuk kecil untuk mengeluarkan lendir. Sudah kontrol ke dokter juga tidak ada masalah,” ucapnya.

Kedua, dia menambahkan, adalah bisa lupa secara tiba-tiba. Hal yang sering terjadi adalah saya berbicara itu lupa melanjutkan apa yang harus dibicarakan. “Jadi, daya mikir itu seketika lupa. Kadang tanya ke teman, sebelumnya berbicara apa. Padahal sebelumnya tidak pernah terjadi,” terangnya.

Saat masih sakit Covid-19 dan dirawat di rumah sakit, Soetriono mengaku suka lupa tiba-tiba. Contohnya, kata pria 57 tahun ini, adalah saat melafalkan surat Alfatihah itu lupa apakah bacaan sebelumnya sudah terbaca apa belum. Begitu pula saat menunaikan salat, juga lupa masuk rakaat keberapa.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Covid-19 itu nyata adanya, walau virus Covid-19 itu tak bisa dilihat oleh mata. Begitulah pesan bagi dari mereka yang pernah terjangkit virus korona. seba, tak sedikit di antara penyintas korona itu yang mengalami long Covid. Yaitu gejala lain setelah dinyatakan sembuh.

“Sebentar, saya masih main tenis,” ucap Prof Soetriono kepada Jawa Pos Radar Jember. Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Jember (Unej) tersebut merupakan salah seorang penyintas Covid-19. Pada September 2020 lalu, dia dinyatakan positif korona. Dan bermain tenis menjadi salah satu kegiatan rutin untuk mengembalikan kondisi tubuhnya.

Soetriono dinyatakan sembuh pada15 September 2020. Sejak saat itu, dirinya harus menjalani isolasi mandiri selama 14 hari. Pada waktu isolasi itulah ada gejala lain yang dia rasakan. Padahal telah dinyatakan sembuh dari korona. “Begitu isolasi mandiri, saya mencoba aktivitas. Naik tangga itu ngos-ngosan. Otot juga terasa capek. Mungkin karena terlalu lama istirahat saja kalau cepat capek,” katanya.

Soetriono mengaku baru memahami kondisi itu setelah mendapatkan penjelasan dokter. Bahwa selepas dinyatakan sembuh, pasien belum normal seratus persen seperti sebelum terkena korona. “Kata dokter paru pada waktu itu, paru-paru bisa bersih sekitar enam bulan. Seandainya saya tidak bertanya setelah lihat hasil foto rontgen paru-paru masih ada bintik-bintik, kemungkinan tidak akan dijelaskan,” ungkapnya.

Menurutnya, napas lebih cepat lelah. Bahkan hampir tiga bulan sejak dinyatakan sembuh, kondisinya belum pulih benar. Terbukti, ketika mencoba bermain tenis lagi pada Desember, bermain satu set saja dirinya sudah ngoyo. Napasnya ngos-ngosan. “Biasanya kalau bermain di pertandingan itu bisa tiga sampai empat set,” terangnya.

Kini, napasnya dalam bermain tenis sudah kembali normal. Dalam seminggu, setidaknya latihan tenis tiga kali. Dan dia memilih bermain di bawah terik matahari. Walau napasnya telah pulih, namun ada dua hal yang sekarang masih ada yang aneh di tubuhnya setelah terjangkit Covid-19. Pertama adalah terasa ada lendir di tenggorokan saat bangun pagi. “Rasanya itu seperti batuk kecil untuk mengeluarkan lendir. Sudah kontrol ke dokter juga tidak ada masalah,” ucapnya.

Kedua, dia menambahkan, adalah bisa lupa secara tiba-tiba. Hal yang sering terjadi adalah saya berbicara itu lupa melanjutkan apa yang harus dibicarakan. “Jadi, daya mikir itu seketika lupa. Kadang tanya ke teman, sebelumnya berbicara apa. Padahal sebelumnya tidak pernah terjadi,” terangnya.

Saat masih sakit Covid-19 dan dirawat di rumah sakit, Soetriono mengaku suka lupa tiba-tiba. Contohnya, kata pria 57 tahun ini, adalah saat melafalkan surat Alfatihah itu lupa apakah bacaan sebelumnya sudah terbaca apa belum. Begitu pula saat menunaikan salat, juga lupa masuk rakaat keberapa.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/