alexametrics
21.6 C
Jember
Thursday, 30 June 2022

Terobosan Ponpes Darus Sholah Jember, Ngaji Kitab Kuning secara Live

Mobile_AP_Rectangle 1

Menelisik lebih dalam kegiatan pesantren se-Jember, ternyata memiliki banyak variasi kegiatan. Termasuk Ponpes Darus Sholah. Santri di pesantren tersebut tidak menghabiskan bulan Ramadan di pondok. Melainkan hanya 17 hari saja. Setelah itu, santri diliburkan menjelang Lebaran. Namun, sebelum libur para santri wajib mengikuti program pengajian kitab kuning setiap hari. “Biasanya, selama beberapa hari di pondok. Para santri start baca kitab setelah Subuh, kemudian dilanjutkan setelah asar. Ada jeda istirahat setelah salat Duhur,” tambah M Agustia Maradika.

Sementara itu, aktivitas sekolah formal dikurangi selama bulan Ramadan. Para santri lebih banyak berkegiatan di pondok. “Istilah kegiatan kalau di bulan ini, diisi dengan aktivitas tabarrukan,” tambah Dika. Pihak pesantren melihat kepentingan intensitas belajar agama di bulan Ramadan sebagai waktu yang tepat untuk berupaya mendekatkan diri kepada Allah SWT.

“Untuk santri yang pulang pergi, sebenarnya bisa juga mengikuti kegiatan pondok, namun tidak ada yang datang. Makanya alternatifnya sebagian kajian kitab sambil live streaming,” jelasnya. Dikatakan, siaran langsung kegiatan pesantren bertujuan untuk mempermudah santri di luar pesantren agar tetap bisa mengikuti dari rumahnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menjelang waktu berbuka, Darus Sholah mempunyai budaya santri yang unik, dengan program buka bersama. Setiap selesai kegiatan, para santri berjejer di depan pesantren untuk mengambil takjil. “Mereka bawa piring, gelas, dan sendok sendiri-sendiri. jadi, lebih mudah daripada makan bersama pakai kertas minyak,” ujarnya.

Ainur Rahman, santri yang ikut mengantre, mengatakan, dia betah di pondok karena banyak teman dan sering buka puasa bersama. “Banyak teman, dan bisa buka puasa bersama dengan bahagia. Kalau di rumah belum tentu berpuasa penuh,” ungkapnya.

Hal ini dilakukan untuk seluruh santri Darus Sholah laki-laki dan perempuan. “Pondoknya dipisah, kegiatan juga dipisah. Terus ambil bukbernya bareng-bareng semua santri. Hanya beda lorong saja,” pungkasnya.

 

Jurnalis : mg4
Fotografer : mg4
Redaktur : Nur Hariri

- Advertisement -

Menelisik lebih dalam kegiatan pesantren se-Jember, ternyata memiliki banyak variasi kegiatan. Termasuk Ponpes Darus Sholah. Santri di pesantren tersebut tidak menghabiskan bulan Ramadan di pondok. Melainkan hanya 17 hari saja. Setelah itu, santri diliburkan menjelang Lebaran. Namun, sebelum libur para santri wajib mengikuti program pengajian kitab kuning setiap hari. “Biasanya, selama beberapa hari di pondok. Para santri start baca kitab setelah Subuh, kemudian dilanjutkan setelah asar. Ada jeda istirahat setelah salat Duhur,” tambah M Agustia Maradika.

Sementara itu, aktivitas sekolah formal dikurangi selama bulan Ramadan. Para santri lebih banyak berkegiatan di pondok. “Istilah kegiatan kalau di bulan ini, diisi dengan aktivitas tabarrukan,” tambah Dika. Pihak pesantren melihat kepentingan intensitas belajar agama di bulan Ramadan sebagai waktu yang tepat untuk berupaya mendekatkan diri kepada Allah SWT.

“Untuk santri yang pulang pergi, sebenarnya bisa juga mengikuti kegiatan pondok, namun tidak ada yang datang. Makanya alternatifnya sebagian kajian kitab sambil live streaming,” jelasnya. Dikatakan, siaran langsung kegiatan pesantren bertujuan untuk mempermudah santri di luar pesantren agar tetap bisa mengikuti dari rumahnya.

Menjelang waktu berbuka, Darus Sholah mempunyai budaya santri yang unik, dengan program buka bersama. Setiap selesai kegiatan, para santri berjejer di depan pesantren untuk mengambil takjil. “Mereka bawa piring, gelas, dan sendok sendiri-sendiri. jadi, lebih mudah daripada makan bersama pakai kertas minyak,” ujarnya.

Ainur Rahman, santri yang ikut mengantre, mengatakan, dia betah di pondok karena banyak teman dan sering buka puasa bersama. “Banyak teman, dan bisa buka puasa bersama dengan bahagia. Kalau di rumah belum tentu berpuasa penuh,” ungkapnya.

Hal ini dilakukan untuk seluruh santri Darus Sholah laki-laki dan perempuan. “Pondoknya dipisah, kegiatan juga dipisah. Terus ambil bukbernya bareng-bareng semua santri. Hanya beda lorong saja,” pungkasnya.

 

Jurnalis : mg4
Fotografer : mg4
Redaktur : Nur Hariri

Menelisik lebih dalam kegiatan pesantren se-Jember, ternyata memiliki banyak variasi kegiatan. Termasuk Ponpes Darus Sholah. Santri di pesantren tersebut tidak menghabiskan bulan Ramadan di pondok. Melainkan hanya 17 hari saja. Setelah itu, santri diliburkan menjelang Lebaran. Namun, sebelum libur para santri wajib mengikuti program pengajian kitab kuning setiap hari. “Biasanya, selama beberapa hari di pondok. Para santri start baca kitab setelah Subuh, kemudian dilanjutkan setelah asar. Ada jeda istirahat setelah salat Duhur,” tambah M Agustia Maradika.

Sementara itu, aktivitas sekolah formal dikurangi selama bulan Ramadan. Para santri lebih banyak berkegiatan di pondok. “Istilah kegiatan kalau di bulan ini, diisi dengan aktivitas tabarrukan,” tambah Dika. Pihak pesantren melihat kepentingan intensitas belajar agama di bulan Ramadan sebagai waktu yang tepat untuk berupaya mendekatkan diri kepada Allah SWT.

“Untuk santri yang pulang pergi, sebenarnya bisa juga mengikuti kegiatan pondok, namun tidak ada yang datang. Makanya alternatifnya sebagian kajian kitab sambil live streaming,” jelasnya. Dikatakan, siaran langsung kegiatan pesantren bertujuan untuk mempermudah santri di luar pesantren agar tetap bisa mengikuti dari rumahnya.

Menjelang waktu berbuka, Darus Sholah mempunyai budaya santri yang unik, dengan program buka bersama. Setiap selesai kegiatan, para santri berjejer di depan pesantren untuk mengambil takjil. “Mereka bawa piring, gelas, dan sendok sendiri-sendiri. jadi, lebih mudah daripada makan bersama pakai kertas minyak,” ujarnya.

Ainur Rahman, santri yang ikut mengantre, mengatakan, dia betah di pondok karena banyak teman dan sering buka puasa bersama. “Banyak teman, dan bisa buka puasa bersama dengan bahagia. Kalau di rumah belum tentu berpuasa penuh,” ungkapnya.

Hal ini dilakukan untuk seluruh santri Darus Sholah laki-laki dan perempuan. “Pondoknya dipisah, kegiatan juga dipisah. Terus ambil bukbernya bareng-bareng semua santri. Hanya beda lorong saja,” pungkasnya.

 

Jurnalis : mg4
Fotografer : mg4
Redaktur : Nur Hariri

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/