alexametrics
27.8 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Mengenal Zakat Fitrah Jelang Lebaran

Mobile_AP_Rectangle 1

Kemudian, lanjutnya, kewajiban membayar zakat fitrah terbagi ke dalam lima waktu. Pertama, waktu mubah, yaitu dimulai dari awal masuknya bulan Ramadan sampai terbenamnya matahari di akhir bulan Ramadan.  Kedua, waktu sunah yaitu, mulai terbenamnya matahari di akhir bulan Ramadan sampai terbitnya matahari pada Idul Fitri. Sementara yang ketiga waktu wajib, yaitu dimulai dari terbitnya matahari pada salat Idul Fitri sampai selesainya salat Idul Fitri. Sedangkan keempat waktu makruh, yaitu mulai dari selesainya salat Idul Fitri sampai terbenamnya matahari. “Dan yang terakhir waktu haram, yaitu mulai dari terbenamnya matahari pada Hari Raya Idul Fitri,” ungkapnya.

Zakat tersebut, lanjutnya, wajib diberikan kepada delapan golongan, di antaranya orang fakir, miskin, ibnu sabil atau orang yang sedang dalam perjalanan, buda’ atau orang yang sedang berperang di jalan Allah, orang yang baru masuk Islam, orang yang mempunyai utang, dan amil zakat atau mereka yang ditunjuk oleh pemerintah untuk mengelola zakat. “Zakat ini boleh diberikan langsung kepada mereka ataupun melalui amil zakat yang dipercaya untuk menunaikannya,” terangnya.

Selain itu, jenis zakat yang dikeluarkan tergantung makanan pokok yang ada di daerahnya masing-masing. Bila di Indonesia, karena makanan pokoknya beras, maka zakat yang dikeluarkan harus berupa beras. Dan untuk banyaknya menurut takaran Imam Syafi’i 3,8 kilogram. “Sedangkan menurut Imam Hanafi diperbolehkan mengeluarkan zakat dengan uang, yaitu dengan total harga berasnya,” pungkasnya. (mg6/c2/dwi)

- Advertisement -

Kemudian, lanjutnya, kewajiban membayar zakat fitrah terbagi ke dalam lima waktu. Pertama, waktu mubah, yaitu dimulai dari awal masuknya bulan Ramadan sampai terbenamnya matahari di akhir bulan Ramadan.  Kedua, waktu sunah yaitu, mulai terbenamnya matahari di akhir bulan Ramadan sampai terbitnya matahari pada Idul Fitri. Sementara yang ketiga waktu wajib, yaitu dimulai dari terbitnya matahari pada salat Idul Fitri sampai selesainya salat Idul Fitri. Sedangkan keempat waktu makruh, yaitu mulai dari selesainya salat Idul Fitri sampai terbenamnya matahari. “Dan yang terakhir waktu haram, yaitu mulai dari terbenamnya matahari pada Hari Raya Idul Fitri,” ungkapnya.

Zakat tersebut, lanjutnya, wajib diberikan kepada delapan golongan, di antaranya orang fakir, miskin, ibnu sabil atau orang yang sedang dalam perjalanan, buda’ atau orang yang sedang berperang di jalan Allah, orang yang baru masuk Islam, orang yang mempunyai utang, dan amil zakat atau mereka yang ditunjuk oleh pemerintah untuk mengelola zakat. “Zakat ini boleh diberikan langsung kepada mereka ataupun melalui amil zakat yang dipercaya untuk menunaikannya,” terangnya.

Selain itu, jenis zakat yang dikeluarkan tergantung makanan pokok yang ada di daerahnya masing-masing. Bila di Indonesia, karena makanan pokoknya beras, maka zakat yang dikeluarkan harus berupa beras. Dan untuk banyaknya menurut takaran Imam Syafi’i 3,8 kilogram. “Sedangkan menurut Imam Hanafi diperbolehkan mengeluarkan zakat dengan uang, yaitu dengan total harga berasnya,” pungkasnya. (mg6/c2/dwi)

Kemudian, lanjutnya, kewajiban membayar zakat fitrah terbagi ke dalam lima waktu. Pertama, waktu mubah, yaitu dimulai dari awal masuknya bulan Ramadan sampai terbenamnya matahari di akhir bulan Ramadan.  Kedua, waktu sunah yaitu, mulai terbenamnya matahari di akhir bulan Ramadan sampai terbitnya matahari pada Idul Fitri. Sementara yang ketiga waktu wajib, yaitu dimulai dari terbitnya matahari pada salat Idul Fitri sampai selesainya salat Idul Fitri. Sedangkan keempat waktu makruh, yaitu mulai dari selesainya salat Idul Fitri sampai terbenamnya matahari. “Dan yang terakhir waktu haram, yaitu mulai dari terbenamnya matahari pada Hari Raya Idul Fitri,” ungkapnya.

Zakat tersebut, lanjutnya, wajib diberikan kepada delapan golongan, di antaranya orang fakir, miskin, ibnu sabil atau orang yang sedang dalam perjalanan, buda’ atau orang yang sedang berperang di jalan Allah, orang yang baru masuk Islam, orang yang mempunyai utang, dan amil zakat atau mereka yang ditunjuk oleh pemerintah untuk mengelola zakat. “Zakat ini boleh diberikan langsung kepada mereka ataupun melalui amil zakat yang dipercaya untuk menunaikannya,” terangnya.

Selain itu, jenis zakat yang dikeluarkan tergantung makanan pokok yang ada di daerahnya masing-masing. Bila di Indonesia, karena makanan pokoknya beras, maka zakat yang dikeluarkan harus berupa beras. Dan untuk banyaknya menurut takaran Imam Syafi’i 3,8 kilogram. “Sedangkan menurut Imam Hanafi diperbolehkan mengeluarkan zakat dengan uang, yaitu dengan total harga berasnya,” pungkasnya. (mg6/c2/dwi)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/