alexametrics
24.1 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Ajukan Cadangan Beras 99 Ton

Antisipasi Dampak Bencana Korona

Mobile_AP_Rectangle 1

Menurut dia, jika dihitung konsumsi normal, maka jumlah 47 ribu ton tersebut lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan warga Jember paling tidak sampai akhir 2020 ini. Apalagi, kata dia, jumlah itu masih belum secara keseluruhan jika dihitung total dengan cadangan beras yang ada di petani atau gudang penggilingan beras yang dikelola swasta. Terlebih saat ini, petani tengah memasuki masa panen raya padi. “Jember ini daerah lumbung pangan. Jadi tak perlu khawatir,” pesannya.

Makki menjelaskan, sebagai daerah lumbung pangan, produksi beras di Jember selalu surplus setiap tahun. Sehingga, dia mengutarakan, warga Jember tidak perlu ikut panik dengan memborong bahan pangan.

Selama penyerapan gabah di masa panen pertama tahun ini, menurut Makki, petani juga masih tak terpengaruh dengan isu korona. Mereka tetap menjual gabahnya dan tidak disimpan di lumbung. Hanya saja, tambah dia, petani lebih memilih menjual gabahnya ke swasta. Sebab, harga beras sekarang di atas harga eceran tertinggi (HET). Kendati begitu, pihaknya terus memantau perkembangan harga dan panen petani untuk penyerapan beras. “Sekarang harganya tembus Rp 8.300 per kilogram. Sehingga, petani lebih memilih menjual ke swasta,” jelasnya.

- Advertisement -

Menurut dia, jika dihitung konsumsi normal, maka jumlah 47 ribu ton tersebut lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan warga Jember paling tidak sampai akhir 2020 ini. Apalagi, kata dia, jumlah itu masih belum secara keseluruhan jika dihitung total dengan cadangan beras yang ada di petani atau gudang penggilingan beras yang dikelola swasta. Terlebih saat ini, petani tengah memasuki masa panen raya padi. “Jember ini daerah lumbung pangan. Jadi tak perlu khawatir,” pesannya.

Makki menjelaskan, sebagai daerah lumbung pangan, produksi beras di Jember selalu surplus setiap tahun. Sehingga, dia mengutarakan, warga Jember tidak perlu ikut panik dengan memborong bahan pangan.

Selama penyerapan gabah di masa panen pertama tahun ini, menurut Makki, petani juga masih tak terpengaruh dengan isu korona. Mereka tetap menjual gabahnya dan tidak disimpan di lumbung. Hanya saja, tambah dia, petani lebih memilih menjual gabahnya ke swasta. Sebab, harga beras sekarang di atas harga eceran tertinggi (HET). Kendati begitu, pihaknya terus memantau perkembangan harga dan panen petani untuk penyerapan beras. “Sekarang harganya tembus Rp 8.300 per kilogram. Sehingga, petani lebih memilih menjual ke swasta,” jelasnya.

Menurut dia, jika dihitung konsumsi normal, maka jumlah 47 ribu ton tersebut lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan warga Jember paling tidak sampai akhir 2020 ini. Apalagi, kata dia, jumlah itu masih belum secara keseluruhan jika dihitung total dengan cadangan beras yang ada di petani atau gudang penggilingan beras yang dikelola swasta. Terlebih saat ini, petani tengah memasuki masa panen raya padi. “Jember ini daerah lumbung pangan. Jadi tak perlu khawatir,” pesannya.

Makki menjelaskan, sebagai daerah lumbung pangan, produksi beras di Jember selalu surplus setiap tahun. Sehingga, dia mengutarakan, warga Jember tidak perlu ikut panik dengan memborong bahan pangan.

Selama penyerapan gabah di masa panen pertama tahun ini, menurut Makki, petani juga masih tak terpengaruh dengan isu korona. Mereka tetap menjual gabahnya dan tidak disimpan di lumbung. Hanya saja, tambah dia, petani lebih memilih menjual gabahnya ke swasta. Sebab, harga beras sekarang di atas harga eceran tertinggi (HET). Kendati begitu, pihaknya terus memantau perkembangan harga dan panen petani untuk penyerapan beras. “Sekarang harganya tembus Rp 8.300 per kilogram. Sehingga, petani lebih memilih menjual ke swasta,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/