alexametrics
23.5 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Pupuk, Problem Lama yang Tak (Bisa) Selesai

Keadilan itu, siapa saja boleh mendapatkan pupuk bersubsidi sesuai ketentuan. Nah, di sini salah satu syaratnya petani harus masuk ke kelompok, sementara di kelompok tani belum tentu beres.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Alokasi pupuk subsidi bisa dibilang semakin sedikit. Kelangkaan pun kerap terjadi di Kabupaten Jember. Tak heran, banyak petani yang tidak mendapatkan jatah karena adanya permainan.

Permasalahan pupuk subsidi ini sudah bukan barang baru. Alhasil, di luar sana banyak orang yang memanfaatkan. Dengan memborongnya, menjual ke tempat lain, maupun kelompok-kelompok yang terkadang nakal. Karenanya, ada saja suara anggota kelompok yang tidak mendapat jatah pupuk lantaran tidak kebagian alias kalah cepat.

Baca Juga : Kebutuhan Pupuk Bersubsidi Terancam Tak Mencukupi

Mobile_AP_Rectangle 2

Sulitnya untuk mendapatkan pupuk dirasakan Heri Subiyanto, salah seorang petani di Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari. Menurutnya, kelangkaan pupuk subsidi untuk petani ini harus segera diatasi, karena banyak yang kekurangan.

Heri mengatakan, untuk mendapatkan pupuk, petani harus menjadi anggota kelompok tani terlebih dahulu. Jika tidak, maka tidak akan bisa mendapatkan jatah pupuk subsidi. “Jadi, harus masuk kelompok,” katanya.

Kendati petani telah menjadi anggota kelompok tani, hal itu bukan berarti menjadi jaminan agar orang bisa mendapatkan pupuk subsidi. Sebab, hal itu tidak otomatis membuat pupuk subsidi mudah didapatkan. “Kalau jatahnya sekian, ya, gak boleh beli lebih. Kalau musim tanam, ya, kadang pupuk ada, tapi kadang belum boleh dijual,” ucapnya sambil menggaruk kepala kepada Jawa Pos Radar Jember, Minggu (13/3).

Pria dua anak itu menjelaskan, pupuk nonsubsidi bisa dibilang tidak di semua kios lengkap. Hal itu juga menjadi masalah tambahan bagi para petani. Ketika pupuk subsidi tidak ada, pilihannya adalah pupuk nonsubsidi yang lebih mahal. “Pupuk subsidi itu gak cukup. Jadi, petani harus beli pupuk yang nonsubsidi, yang harganya lebih mahal,” paparnya.

Tak hanya Heri, petani lainnya, Sofyan, yang sudah berpengalaman lebih dari 20 tahun, juga menyampaikan masalah pupuk sudah sejak lama namun sampai sekarang tidak kunjung selesai. Ditambah lagi adanya oknum nakal di lapangan yang bermain pupuk. Ada pula yang memalsukan pupuk, serta menjual pupuk tanpa izin.

Kelangkaan pupuk yang sudah menjadi kendala klasik bagi Sofyan, juga terjadi setiap tahun. Dia pun harus susah payah untuk mencari dan membeli pupuk, demi merawat tanaman di sawah miliknya yang menjadi sumber penghasilannya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Alokasi pupuk subsidi bisa dibilang semakin sedikit. Kelangkaan pun kerap terjadi di Kabupaten Jember. Tak heran, banyak petani yang tidak mendapatkan jatah karena adanya permainan.

Permasalahan pupuk subsidi ini sudah bukan barang baru. Alhasil, di luar sana banyak orang yang memanfaatkan. Dengan memborongnya, menjual ke tempat lain, maupun kelompok-kelompok yang terkadang nakal. Karenanya, ada saja suara anggota kelompok yang tidak mendapat jatah pupuk lantaran tidak kebagian alias kalah cepat.

Baca Juga : Kebutuhan Pupuk Bersubsidi Terancam Tak Mencukupi

Sulitnya untuk mendapatkan pupuk dirasakan Heri Subiyanto, salah seorang petani di Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari. Menurutnya, kelangkaan pupuk subsidi untuk petani ini harus segera diatasi, karena banyak yang kekurangan.

Heri mengatakan, untuk mendapatkan pupuk, petani harus menjadi anggota kelompok tani terlebih dahulu. Jika tidak, maka tidak akan bisa mendapatkan jatah pupuk subsidi. “Jadi, harus masuk kelompok,” katanya.

Kendati petani telah menjadi anggota kelompok tani, hal itu bukan berarti menjadi jaminan agar orang bisa mendapatkan pupuk subsidi. Sebab, hal itu tidak otomatis membuat pupuk subsidi mudah didapatkan. “Kalau jatahnya sekian, ya, gak boleh beli lebih. Kalau musim tanam, ya, kadang pupuk ada, tapi kadang belum boleh dijual,” ucapnya sambil menggaruk kepala kepada Jawa Pos Radar Jember, Minggu (13/3).

Pria dua anak itu menjelaskan, pupuk nonsubsidi bisa dibilang tidak di semua kios lengkap. Hal itu juga menjadi masalah tambahan bagi para petani. Ketika pupuk subsidi tidak ada, pilihannya adalah pupuk nonsubsidi yang lebih mahal. “Pupuk subsidi itu gak cukup. Jadi, petani harus beli pupuk yang nonsubsidi, yang harganya lebih mahal,” paparnya.

Tak hanya Heri, petani lainnya, Sofyan, yang sudah berpengalaman lebih dari 20 tahun, juga menyampaikan masalah pupuk sudah sejak lama namun sampai sekarang tidak kunjung selesai. Ditambah lagi adanya oknum nakal di lapangan yang bermain pupuk. Ada pula yang memalsukan pupuk, serta menjual pupuk tanpa izin.

Kelangkaan pupuk yang sudah menjadi kendala klasik bagi Sofyan, juga terjadi setiap tahun. Dia pun harus susah payah untuk mencari dan membeli pupuk, demi merawat tanaman di sawah miliknya yang menjadi sumber penghasilannya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Alokasi pupuk subsidi bisa dibilang semakin sedikit. Kelangkaan pun kerap terjadi di Kabupaten Jember. Tak heran, banyak petani yang tidak mendapatkan jatah karena adanya permainan.

Permasalahan pupuk subsidi ini sudah bukan barang baru. Alhasil, di luar sana banyak orang yang memanfaatkan. Dengan memborongnya, menjual ke tempat lain, maupun kelompok-kelompok yang terkadang nakal. Karenanya, ada saja suara anggota kelompok yang tidak mendapat jatah pupuk lantaran tidak kebagian alias kalah cepat.

Baca Juga : Kebutuhan Pupuk Bersubsidi Terancam Tak Mencukupi

Sulitnya untuk mendapatkan pupuk dirasakan Heri Subiyanto, salah seorang petani di Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari. Menurutnya, kelangkaan pupuk subsidi untuk petani ini harus segera diatasi, karena banyak yang kekurangan.

Heri mengatakan, untuk mendapatkan pupuk, petani harus menjadi anggota kelompok tani terlebih dahulu. Jika tidak, maka tidak akan bisa mendapatkan jatah pupuk subsidi. “Jadi, harus masuk kelompok,” katanya.

Kendati petani telah menjadi anggota kelompok tani, hal itu bukan berarti menjadi jaminan agar orang bisa mendapatkan pupuk subsidi. Sebab, hal itu tidak otomatis membuat pupuk subsidi mudah didapatkan. “Kalau jatahnya sekian, ya, gak boleh beli lebih. Kalau musim tanam, ya, kadang pupuk ada, tapi kadang belum boleh dijual,” ucapnya sambil menggaruk kepala kepada Jawa Pos Radar Jember, Minggu (13/3).

Pria dua anak itu menjelaskan, pupuk nonsubsidi bisa dibilang tidak di semua kios lengkap. Hal itu juga menjadi masalah tambahan bagi para petani. Ketika pupuk subsidi tidak ada, pilihannya adalah pupuk nonsubsidi yang lebih mahal. “Pupuk subsidi itu gak cukup. Jadi, petani harus beli pupuk yang nonsubsidi, yang harganya lebih mahal,” paparnya.

Tak hanya Heri, petani lainnya, Sofyan, yang sudah berpengalaman lebih dari 20 tahun, juga menyampaikan masalah pupuk sudah sejak lama namun sampai sekarang tidak kunjung selesai. Ditambah lagi adanya oknum nakal di lapangan yang bermain pupuk. Ada pula yang memalsukan pupuk, serta menjual pupuk tanpa izin.

Kelangkaan pupuk yang sudah menjadi kendala klasik bagi Sofyan, juga terjadi setiap tahun. Dia pun harus susah payah untuk mencari dan membeli pupuk, demi merawat tanaman di sawah miliknya yang menjadi sumber penghasilannya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/