alexametrics
27.9 C
Jember
Monday, 23 May 2022

Warisan Mahasiswa Hindu di Jember

Pura Agung Amertha Asri, Wujud Tekad Peribadatan Umat Hindu SEBAGAI bentuk wujud melaksanakan bakti umat Hindu kepada Sang Mahakuasa, pura merupakan tempat suci yang diyakini sebagai linggihanHyang Widhi Wase. Atas inisiatif para mahasiswa Hindu yang sedang berkuliah di Jember, mereka menginginkan adanya tempat suci untuk mendekatkan dirinya dengan Sang Pencipta.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejak dulu, Jember menjadi salah satu jujukan mahasiswa dari berbagai daerah untuk menempuh pendidikan tinggi, mengingat adanya Universitas Jember sebagai perguruan tinggi negeri terbesar di kawasan Tapal Kuda. Termasuk mahasiswa Hindu yang berasal dari Bali.

Hal ini diungkapkan oleh akademisi sekaligus rohaniwan Hindu, Pinandita Dr I Wayan Subagiyarta SE MSi. Dia mengisahkan, puluhan tahun lalu ada banyak mahasiswa asal Bali yang kuliah di Jember. Namun, tidak ada tempat yang pasti untuk tempat berkumpul di kala sedang melakukan kegiatan. Salah satunya terkait dengan kegiatan persembahyangan. “Awalnya, para umat Hindu di Jember melaksanakan sembahyang dengan cara berpindah dari satu rumah ke rumah kerabat Hindu lain,” ungkap salah seorang akademisi FEB Unej tersebut.

Selain itu, lanjutnya, terjadi gejolak pada sekitar 1965 yang mengakibatkan kegiatan keagamaan Hindu di Jember masih belum menonjol. “Pada 1966, kegiatan sudah mulai normal. Hingga pada 1967, keinginan para mahasiswa Hindu untuk membangun pura tak bisa dibendung,” ucapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Bersama para tokoh mahasiswa dan karyawan umat Hindu di Jember kala itu, mereka membeli sebidang tanah dengan harga Rp 15 ribu per meter. Di atas tanah tersebut, pihaknya kali pertama membangun tempat sembahyang bernama Turus Lumbung.

Sejak saat itu, para mahasiswa dan umat Hindu di Jember melaksanakan persembahyangan di pelinggih yang masih memakai Turus Lumbung dan dipagari bambu. “Sekadar informasi, dulu pura dikelilingi oleh persawahan. Hanya ada beberapa rumah saja di sini,” ujar pria kelahiran Bali tersebut.

Selanjutnya, pembangunan mulai merambah asrama pada 1972. “Namun, saat itu masih belum ada listrik dan air,” terangnya. Pada tahap kedua, sekitar 1976, pihaknya kembali membeli sebidang tanah dengan harga Rp 30 ribu per meter. “Jadi, total ada 500 meter persegi atau dua kaveling,” imbuhnya.

Di tengah masa pembelian tanah tahap kedua, dia juga menggenjot pembangunan tempat persembahyangan. “Dengan diketuai Cokorda Rai, mahasiswa FKIP Unej, didirikan Padmasana (bangunan dalam pura untuk tempat bersembahyang, Red) secara bertahap,” katanya. Sementara itu, bahan bangunannya didatangkan langsung dari Guwang Sukowati, Kabupaten Gianyar, Bali.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejak dulu, Jember menjadi salah satu jujukan mahasiswa dari berbagai daerah untuk menempuh pendidikan tinggi, mengingat adanya Universitas Jember sebagai perguruan tinggi negeri terbesar di kawasan Tapal Kuda. Termasuk mahasiswa Hindu yang berasal dari Bali.

Hal ini diungkapkan oleh akademisi sekaligus rohaniwan Hindu, Pinandita Dr I Wayan Subagiyarta SE MSi. Dia mengisahkan, puluhan tahun lalu ada banyak mahasiswa asal Bali yang kuliah di Jember. Namun, tidak ada tempat yang pasti untuk tempat berkumpul di kala sedang melakukan kegiatan. Salah satunya terkait dengan kegiatan persembahyangan. “Awalnya, para umat Hindu di Jember melaksanakan sembahyang dengan cara berpindah dari satu rumah ke rumah kerabat Hindu lain,” ungkap salah seorang akademisi FEB Unej tersebut.

Selain itu, lanjutnya, terjadi gejolak pada sekitar 1965 yang mengakibatkan kegiatan keagamaan Hindu di Jember masih belum menonjol. “Pada 1966, kegiatan sudah mulai normal. Hingga pada 1967, keinginan para mahasiswa Hindu untuk membangun pura tak bisa dibendung,” ucapnya.

Bersama para tokoh mahasiswa dan karyawan umat Hindu di Jember kala itu, mereka membeli sebidang tanah dengan harga Rp 15 ribu per meter. Di atas tanah tersebut, pihaknya kali pertama membangun tempat sembahyang bernama Turus Lumbung.

Sejak saat itu, para mahasiswa dan umat Hindu di Jember melaksanakan persembahyangan di pelinggih yang masih memakai Turus Lumbung dan dipagari bambu. “Sekadar informasi, dulu pura dikelilingi oleh persawahan. Hanya ada beberapa rumah saja di sini,” ujar pria kelahiran Bali tersebut.

Selanjutnya, pembangunan mulai merambah asrama pada 1972. “Namun, saat itu masih belum ada listrik dan air,” terangnya. Pada tahap kedua, sekitar 1976, pihaknya kembali membeli sebidang tanah dengan harga Rp 30 ribu per meter. “Jadi, total ada 500 meter persegi atau dua kaveling,” imbuhnya.

Di tengah masa pembelian tanah tahap kedua, dia juga menggenjot pembangunan tempat persembahyangan. “Dengan diketuai Cokorda Rai, mahasiswa FKIP Unej, didirikan Padmasana (bangunan dalam pura untuk tempat bersembahyang, Red) secara bertahap,” katanya. Sementara itu, bahan bangunannya didatangkan langsung dari Guwang Sukowati, Kabupaten Gianyar, Bali.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejak dulu, Jember menjadi salah satu jujukan mahasiswa dari berbagai daerah untuk menempuh pendidikan tinggi, mengingat adanya Universitas Jember sebagai perguruan tinggi negeri terbesar di kawasan Tapal Kuda. Termasuk mahasiswa Hindu yang berasal dari Bali.

Hal ini diungkapkan oleh akademisi sekaligus rohaniwan Hindu, Pinandita Dr I Wayan Subagiyarta SE MSi. Dia mengisahkan, puluhan tahun lalu ada banyak mahasiswa asal Bali yang kuliah di Jember. Namun, tidak ada tempat yang pasti untuk tempat berkumpul di kala sedang melakukan kegiatan. Salah satunya terkait dengan kegiatan persembahyangan. “Awalnya, para umat Hindu di Jember melaksanakan sembahyang dengan cara berpindah dari satu rumah ke rumah kerabat Hindu lain,” ungkap salah seorang akademisi FEB Unej tersebut.

Selain itu, lanjutnya, terjadi gejolak pada sekitar 1965 yang mengakibatkan kegiatan keagamaan Hindu di Jember masih belum menonjol. “Pada 1966, kegiatan sudah mulai normal. Hingga pada 1967, keinginan para mahasiswa Hindu untuk membangun pura tak bisa dibendung,” ucapnya.

Bersama para tokoh mahasiswa dan karyawan umat Hindu di Jember kala itu, mereka membeli sebidang tanah dengan harga Rp 15 ribu per meter. Di atas tanah tersebut, pihaknya kali pertama membangun tempat sembahyang bernama Turus Lumbung.

Sejak saat itu, para mahasiswa dan umat Hindu di Jember melaksanakan persembahyangan di pelinggih yang masih memakai Turus Lumbung dan dipagari bambu. “Sekadar informasi, dulu pura dikelilingi oleh persawahan. Hanya ada beberapa rumah saja di sini,” ujar pria kelahiran Bali tersebut.

Selanjutnya, pembangunan mulai merambah asrama pada 1972. “Namun, saat itu masih belum ada listrik dan air,” terangnya. Pada tahap kedua, sekitar 1976, pihaknya kembali membeli sebidang tanah dengan harga Rp 30 ribu per meter. “Jadi, total ada 500 meter persegi atau dua kaveling,” imbuhnya.

Di tengah masa pembelian tanah tahap kedua, dia juga menggenjot pembangunan tempat persembahyangan. “Dengan diketuai Cokorda Rai, mahasiswa FKIP Unej, didirikan Padmasana (bangunan dalam pura untuk tempat bersembahyang, Red) secara bertahap,” katanya. Sementara itu, bahan bangunannya didatangkan langsung dari Guwang Sukowati, Kabupaten Gianyar, Bali.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/