alexametrics
24 C
Jember
Saturday, 2 July 2022

Vaksin Korona Belum Sampai Jember

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Presiden Republik Indonesia Joko Widodo sudah divaksin kali pertama, kemarin (13/1). Namun, kapan vaksin khusus untuk peningkatan imun tubuh terhadap virus korona itu sampai di Jember, masih belum ada kejelasan.

“Hari ini, vaksin korona itu masih belum sampai di Jember. Kalau sudah datang, pasti nanti akan dikabarkan,” kata Gatot Triyono, Humas Pemkab Jember sekaligus Plt Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo).

Gatot menambahkan, meski Presiden sudah divaksin, bukan berarti vaksin tersebut sampai di masing-masing rumah sakit. Kedatangannya bisa bertahap. “Masih belum ada kabar kapan vaksin untuk Jember datang, tanggal berapa juga belum ada kepastian,” imbuhnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Mantan Camat Kaliwates ini menyebut, informasi yang didapat, vaksin untuk Jember yang rencananya akan dikirim ada sebanyak 8.317 unit. “Tahap pertama yang datang hanya itu. Vaksin sebanyak itu nanti akan dipakai mulai Januari dan nanti akan ada tahap kedua,” ulasnya.

Lalu, siapa nanti yang akan diprioritaskan? Mengingat, jumlah penduduk di Jember ada 2,5 juta jiwa lebih. Terkait hal itu, Gatot menjelaskan, vaksinasi tahap pertama adalah tenaga kesehatan (nakes) dan tenaga penunjang di fasilitas pelayanan kesehatan. “Penerima vaksin adalah SDM kesehatan. Tahap selanjutnya saya belum dapat informasi,” jelasnya.

Penerima vaksinasi itu nanti bakal disesuaikan dengan nakes yang masuk dalam Sistem Informasi Sumber Daya Manusia Kesehatan (SISDMK). “Ini juga sudah arahan dari Pemprov Jatim,” bebernya, yang kemudian menyebut alasan nakes atau SDM kesehatan mendapat vaksin tahap awal karena punya risiko lebih dalam menangani pasien.

Meski belum ada kejelasan, tapi rencana vaksinasi ini mendapat sambutan beragam dari masyarakat. Ahmad Romli, warga Kaliwates, mengaku senang dengan adanya vaksin yang bakal turun tersebut. Menurutnya, vaksinasi harus dilakukan secara tepat sasaran. “Menurut saya, yang diutamakan jangan hanya nakes. Lebih baik, warga yang positif dan diduga positif. Untuk nakesnya, utamakan mereka yang bersinggungan dengan pasien korona,” usulnya.

Mawardi, warga yang lain, juga menyampaikan hal serupa. Menurutnya, nakes yang melakukan penanganan terhadap pasien korona, khususnya di Jember, tidak sampai delapan ribu orang. “Menurut saya, orang-orang yang rentan, yang sudah diketahui positif atau reaktif, yang harus diutamakan. Bukan asal suntik pada orang yang sehat,” sarannya.

Dia berkata, dulu penanganan terhadap orang yang pernah bertemu dengan pasien positif korona menjadi perhatian. Dengan datangnya vaksin nanti, maka hal itu pun harus tetap dilakukan. “Tenaga kesehatan memang penting, tetapi yang lebih penting adalah orang yang sudah terdeteksi positif maupun reaktif,” tandasnya.

Tolak Vaksinasi Berujung Pidana?

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Presiden Republik Indonesia Joko Widodo sudah divaksin kali pertama, kemarin (13/1). Namun, kapan vaksin khusus untuk peningkatan imun tubuh terhadap virus korona itu sampai di Jember, masih belum ada kejelasan.

“Hari ini, vaksin korona itu masih belum sampai di Jember. Kalau sudah datang, pasti nanti akan dikabarkan,” kata Gatot Triyono, Humas Pemkab Jember sekaligus Plt Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo).

Gatot menambahkan, meski Presiden sudah divaksin, bukan berarti vaksin tersebut sampai di masing-masing rumah sakit. Kedatangannya bisa bertahap. “Masih belum ada kabar kapan vaksin untuk Jember datang, tanggal berapa juga belum ada kepastian,” imbuhnya.

Mantan Camat Kaliwates ini menyebut, informasi yang didapat, vaksin untuk Jember yang rencananya akan dikirim ada sebanyak 8.317 unit. “Tahap pertama yang datang hanya itu. Vaksin sebanyak itu nanti akan dipakai mulai Januari dan nanti akan ada tahap kedua,” ulasnya.

Lalu, siapa nanti yang akan diprioritaskan? Mengingat, jumlah penduduk di Jember ada 2,5 juta jiwa lebih. Terkait hal itu, Gatot menjelaskan, vaksinasi tahap pertama adalah tenaga kesehatan (nakes) dan tenaga penunjang di fasilitas pelayanan kesehatan. “Penerima vaksin adalah SDM kesehatan. Tahap selanjutnya saya belum dapat informasi,” jelasnya.

Penerima vaksinasi itu nanti bakal disesuaikan dengan nakes yang masuk dalam Sistem Informasi Sumber Daya Manusia Kesehatan (SISDMK). “Ini juga sudah arahan dari Pemprov Jatim,” bebernya, yang kemudian menyebut alasan nakes atau SDM kesehatan mendapat vaksin tahap awal karena punya risiko lebih dalam menangani pasien.

Meski belum ada kejelasan, tapi rencana vaksinasi ini mendapat sambutan beragam dari masyarakat. Ahmad Romli, warga Kaliwates, mengaku senang dengan adanya vaksin yang bakal turun tersebut. Menurutnya, vaksinasi harus dilakukan secara tepat sasaran. “Menurut saya, yang diutamakan jangan hanya nakes. Lebih baik, warga yang positif dan diduga positif. Untuk nakesnya, utamakan mereka yang bersinggungan dengan pasien korona,” usulnya.

Mawardi, warga yang lain, juga menyampaikan hal serupa. Menurutnya, nakes yang melakukan penanganan terhadap pasien korona, khususnya di Jember, tidak sampai delapan ribu orang. “Menurut saya, orang-orang yang rentan, yang sudah diketahui positif atau reaktif, yang harus diutamakan. Bukan asal suntik pada orang yang sehat,” sarannya.

Dia berkata, dulu penanganan terhadap orang yang pernah bertemu dengan pasien positif korona menjadi perhatian. Dengan datangnya vaksin nanti, maka hal itu pun harus tetap dilakukan. “Tenaga kesehatan memang penting, tetapi yang lebih penting adalah orang yang sudah terdeteksi positif maupun reaktif,” tandasnya.

Tolak Vaksinasi Berujung Pidana?

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Presiden Republik Indonesia Joko Widodo sudah divaksin kali pertama, kemarin (13/1). Namun, kapan vaksin khusus untuk peningkatan imun tubuh terhadap virus korona itu sampai di Jember, masih belum ada kejelasan.

“Hari ini, vaksin korona itu masih belum sampai di Jember. Kalau sudah datang, pasti nanti akan dikabarkan,” kata Gatot Triyono, Humas Pemkab Jember sekaligus Plt Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo).

Gatot menambahkan, meski Presiden sudah divaksin, bukan berarti vaksin tersebut sampai di masing-masing rumah sakit. Kedatangannya bisa bertahap. “Masih belum ada kabar kapan vaksin untuk Jember datang, tanggal berapa juga belum ada kepastian,” imbuhnya.

Mantan Camat Kaliwates ini menyebut, informasi yang didapat, vaksin untuk Jember yang rencananya akan dikirim ada sebanyak 8.317 unit. “Tahap pertama yang datang hanya itu. Vaksin sebanyak itu nanti akan dipakai mulai Januari dan nanti akan ada tahap kedua,” ulasnya.

Lalu, siapa nanti yang akan diprioritaskan? Mengingat, jumlah penduduk di Jember ada 2,5 juta jiwa lebih. Terkait hal itu, Gatot menjelaskan, vaksinasi tahap pertama adalah tenaga kesehatan (nakes) dan tenaga penunjang di fasilitas pelayanan kesehatan. “Penerima vaksin adalah SDM kesehatan. Tahap selanjutnya saya belum dapat informasi,” jelasnya.

Penerima vaksinasi itu nanti bakal disesuaikan dengan nakes yang masuk dalam Sistem Informasi Sumber Daya Manusia Kesehatan (SISDMK). “Ini juga sudah arahan dari Pemprov Jatim,” bebernya, yang kemudian menyebut alasan nakes atau SDM kesehatan mendapat vaksin tahap awal karena punya risiko lebih dalam menangani pasien.

Meski belum ada kejelasan, tapi rencana vaksinasi ini mendapat sambutan beragam dari masyarakat. Ahmad Romli, warga Kaliwates, mengaku senang dengan adanya vaksin yang bakal turun tersebut. Menurutnya, vaksinasi harus dilakukan secara tepat sasaran. “Menurut saya, yang diutamakan jangan hanya nakes. Lebih baik, warga yang positif dan diduga positif. Untuk nakesnya, utamakan mereka yang bersinggungan dengan pasien korona,” usulnya.

Mawardi, warga yang lain, juga menyampaikan hal serupa. Menurutnya, nakes yang melakukan penanganan terhadap pasien korona, khususnya di Jember, tidak sampai delapan ribu orang. “Menurut saya, orang-orang yang rentan, yang sudah diketahui positif atau reaktif, yang harus diutamakan. Bukan asal suntik pada orang yang sehat,” sarannya.

Dia berkata, dulu penanganan terhadap orang yang pernah bertemu dengan pasien positif korona menjadi perhatian. Dengan datangnya vaksin nanti, maka hal itu pun harus tetap dilakukan. “Tenaga kesehatan memang penting, tetapi yang lebih penting adalah orang yang sudah terdeteksi positif maupun reaktif,” tandasnya.

Tolak Vaksinasi Berujung Pidana?

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/