alexametrics
24.1 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Pekerja Migran Gagal Pulang karena PCR Palsu

Mobile_AP_Rectangle 1

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – Tahun ini, banyak pekerja migran Indonesia (PMI) yang gagal pulang karena hasil tes PCR (polymerase chain reaction) yang dikantongi palsu. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Wilayah Jember Muhammad Iqbal.

Tahun ini, banyak pekerja migran Indonesia (PMI) yang gagal pulang karena hasil tes PCR (polymerase chain reaction) yang dikantongi palsu. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Wilayah Jember Muhammad Iqbal.

Namun, hasil penelusuran di Jember, kata dia, kasus PMI yang gagal pulang karena PCR palsu masih minim. Pada bulan lalu misalnya, hanya ada satu kasus. “Di Jember kemarin hanya ada satu PMI yang gagal pulang karena PCR palsu. Dari Malaysia,” kata Iqbal, kemarin (12/11).

Hal ini tidak menutup kemungkinan ada lebih banyak lagi PMI yang terkendala masalah serupa. Ia menegaskan, PMI yang terjerat masalah PCR palsu umumnya adalah PMI nonprosedural atau ilegal. Sebab, bagi PMI legal, semua fasilitas dan akses untuk melakukan PCR didapat dengan jelas, sesuai dengan prosedur yang ada. “Kalau PMI yang prosedural, vaksin, swab, dan PCR untuk pulang sudah terjadwal dan sesuai dengan sistem. Jadi, tidak mungkin ada PCR palsu,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dari data ini, Iqbal menyimpulkan, jumlah PMI yang bermasalah dengan PCR palsu bisa lebih banyak dari yang terungkap. Seperti fenomena gunung es. Tampak kecil di permukaan, tapi sejatinya kasus yang terpendam jauh lebih banyak. Namun, beberapa di antaranya ada yang memilih untuk tidak melapor.

- Advertisement -

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – Tahun ini, banyak pekerja migran Indonesia (PMI) yang gagal pulang karena hasil tes PCR (polymerase chain reaction) yang dikantongi palsu. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Wilayah Jember Muhammad Iqbal.

Tahun ini, banyak pekerja migran Indonesia (PMI) yang gagal pulang karena hasil tes PCR (polymerase chain reaction) yang dikantongi palsu. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Wilayah Jember Muhammad Iqbal.

Namun, hasil penelusuran di Jember, kata dia, kasus PMI yang gagal pulang karena PCR palsu masih minim. Pada bulan lalu misalnya, hanya ada satu kasus. “Di Jember kemarin hanya ada satu PMI yang gagal pulang karena PCR palsu. Dari Malaysia,” kata Iqbal, kemarin (12/11).

Hal ini tidak menutup kemungkinan ada lebih banyak lagi PMI yang terkendala masalah serupa. Ia menegaskan, PMI yang terjerat masalah PCR palsu umumnya adalah PMI nonprosedural atau ilegal. Sebab, bagi PMI legal, semua fasilitas dan akses untuk melakukan PCR didapat dengan jelas, sesuai dengan prosedur yang ada. “Kalau PMI yang prosedural, vaksin, swab, dan PCR untuk pulang sudah terjadwal dan sesuai dengan sistem. Jadi, tidak mungkin ada PCR palsu,” jelasnya.

Dari data ini, Iqbal menyimpulkan, jumlah PMI yang bermasalah dengan PCR palsu bisa lebih banyak dari yang terungkap. Seperti fenomena gunung es. Tampak kecil di permukaan, tapi sejatinya kasus yang terpendam jauh lebih banyak. Namun, beberapa di antaranya ada yang memilih untuk tidak melapor.

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – Tahun ini, banyak pekerja migran Indonesia (PMI) yang gagal pulang karena hasil tes PCR (polymerase chain reaction) yang dikantongi palsu. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Wilayah Jember Muhammad Iqbal.

Tahun ini, banyak pekerja migran Indonesia (PMI) yang gagal pulang karena hasil tes PCR (polymerase chain reaction) yang dikantongi palsu. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Wilayah Jember Muhammad Iqbal.

Namun, hasil penelusuran di Jember, kata dia, kasus PMI yang gagal pulang karena PCR palsu masih minim. Pada bulan lalu misalnya, hanya ada satu kasus. “Di Jember kemarin hanya ada satu PMI yang gagal pulang karena PCR palsu. Dari Malaysia,” kata Iqbal, kemarin (12/11).

Hal ini tidak menutup kemungkinan ada lebih banyak lagi PMI yang terkendala masalah serupa. Ia menegaskan, PMI yang terjerat masalah PCR palsu umumnya adalah PMI nonprosedural atau ilegal. Sebab, bagi PMI legal, semua fasilitas dan akses untuk melakukan PCR didapat dengan jelas, sesuai dengan prosedur yang ada. “Kalau PMI yang prosedural, vaksin, swab, dan PCR untuk pulang sudah terjadwal dan sesuai dengan sistem. Jadi, tidak mungkin ada PCR palsu,” jelasnya.

Dari data ini, Iqbal menyimpulkan, jumlah PMI yang bermasalah dengan PCR palsu bisa lebih banyak dari yang terungkap. Seperti fenomena gunung es. Tampak kecil di permukaan, tapi sejatinya kasus yang terpendam jauh lebih banyak. Namun, beberapa di antaranya ada yang memilih untuk tidak melapor.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/