alexametrics
28.4 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Jember Punya! Dulu Suka Telat Masuk Kelas, Kini Jadi Sineas yang Bernas

Tidak mudah bagi M Fathur Rozi untuk mencapai titik ini. Pemenang lomba film Apresiasi Kreasi Indonesia Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) itu harus melewati banyak proses dan tantangan hingga karyanya bisa dinikmati banyak orang. Bagaimana kisahnya?

Mobile_AP_Rectangle 1

GLAGAHWERO, RADARJEMBER.ID – MASIH tertancap kuat dalam ingatan M Fathur Rozi saat karya terbaiknya masuk sebagai finalis lomba film Apresiasi Kreasi Indonesia yang digelar oleh Kemenparekraf, Agustus lalu. Pemuda kampung asal Desa Glagahwero, Kecamatan Panti, ini memang sejak lama menyukai dunia videografi, khususnya di bidang film. Perjalanan menjadi seorang produser film adalah proses terpanjang dan sangat mengesankan dalam hidupnya.

Sejak duduk di bangku SMA yang ada di bawah naungan pesantren, Fathur terbiasa menonton film di sela-sela waktu jam istirahat. Hampir setiap hari ia sering terlambat masuk kelas akibat menonton film itu. Sebab, ia harus keluar pesantren dan mendatangi gerai warung internet (warnet). “Karena di pesantren tidak ada fasilitas buat nonton film, jadi aku sering izin ke luar pondok buat nonton di warnet. Dari situ, muncul keinginan dan ingin tahu bagaimana caranya bikin film,” kenang Fathur.

Kebetulan saat itu, alumnus SMA Bustanul Ulum Mlokorejo, Kecamatan Puger, ini juga sempat menjadi pengurus organisasi siswa intra sekolah (OSIS). Saat itu, ia aktif dalam berbagai kegiatan di sekolah, termasuk menjadi panitia ketika ada acara. Pada suatu waktu, saat ia tengah asyik berproses dalam suatu acara, salah satu temannya datang dan menghujatnya secara terang-terangan karena kemampuan Fathur yang lemah dalam bidang komputer.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Dia bilang kalau aku tidak bisa komputer dan tidak layak jadi OSIS. Jelas tidak terima, dong. Apalagi, aku tipe orang yang kalau tidak terima maka harus belajar,” tuturnya.

Tak lama usai hinaan itu ia dapatkan, Fathur menamatkan pendidikan SMA. Ia sangat berkeinginan belajar komputer dan mendalami bidang film. Namun, saat itu ia masih bingung akan kuliah di mana.

Menurut dia, satu-satunya perguruan tinggi yang paling sesuai dengan keinginannya yakni Universitas Jember. Akhirnya, ia mulai meminta kepada kedua orang tuanya untuk kuliah di kampus tersebut. Usulan itu ternyata ditolak oleh orang tuanya. Sebab, sebagai anak pertama, masih ada tiga adiknya yang juga harus dibiayai orang tuanya untuk mengenyam pendidikan.

“Sebenarnya bukan tidak setuju ke kampusnya. Tapi, terserah kalau memang mau kuliah, tapi orang tua tidak sanggup membiayai. Akhirnya aku memutuskan lanjut mondok dan kuliah di Ibrahimy, Situbondo,” ungkapnya.

Keputusan tersebut membuatnya memiliki lingkungan baru yang menurutnya lebih sehat dan kompetitif daripada teman-teman sebelumnya. Apalagi, di tempat tersebut ia merasa cocok atas pemilihan jurusan yang sesuai dengan impiannya. Jurusan multimedia. “Di situ aku mulai mengenal sinematografi. Bagaimana teknik pengambilan yang baik. Hingga akhirnya aku sadar kalau film adalah hobi. Dan aku berniat, ketika pulang harus jadi yang terbaik dan bermanfaat bagi orang lain. Terutama melalui hobiku,” ucapnya.

Pada 2016 lalu, salah satu karyanya berhasil meraih juara dalam ajang Moviestival, sebuah ajang festival film di Bandung. Sejak itu, ia mulai mengetahui bahwa dunia film itu luas, bukan hanya sekadar tayangan audio visual. Namun juga edukasi, penyampaian pesan moral, serta hiburan. Usai kemenangan itu, ia pun berhasil menyelesaikan pendidikannya dan kembali ke tanah kelahiran.

Saat di rumah, ia sempat kesulitan dalam bergaul dan mengembangkan bakatnya. Sebab, ia tak menemukan teman yang sehobi. Bahkan, untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya juga cukup sulit. Hanya ada satu hal yang bisa ia lakukan saat itu. Mengajar. Ia pun memulai karir pertamanya dengan menjadi seorang pendidik di salah satu SMA terdekat sebagai guru multimedia.

“Aku ingin anak didikku nanti bisa mengembangkan Jember. Salah satunya melalui film. Dan sebagian dari mereka yang sudah bisa, aku invite untuk gabung di timku. Karena kita semua sama. Sama-sama belajar,” paparnya.

Sembari mengajar, pada awal 2018 lalu, Fathur kembali berkarya dan mencoba mengikuti lomba vlog Jember. Dan video tersebut berhasil menjadi juara dua. Pada waktu yang bersamaan, melalui lomba tersebut, ia mulai mengenal banyak filmmaker untuk bergabung dengannya. Bersama orang-orang hebat itulah, ia membuat karya istimewa yang kemudian berhasil menjadi perwakilan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk diputar dalam kegiatan International Short Movie Festival di Bali pada 2019 lalu. “Waktu itu aku jadi pelopor di bidang film. Dua karyaku diputar di sana,” jelasnya.

Prestasi demi prestasi terus ia raih hampir setiap tahun. Bahkan, belum lama ini ia juga memenangi challenge video pendek tentang vaksinasi. Ia mengajak anak-anak tetangganya untuk menjadi talent dalam video itu.

Meski sering mendapat juara, sineas muda ini menanamkan prinsip untuk tetap harus belajar dan terus berlatih. Tak seperti produser lainnya. Sebagai santri yang juga ahli videografi, Fathur tak pernah memaksa talent untuk berakting sesuai dengan naskah yang ia buat. Terpenting baginya ialah kekompakan dan kenyamanan talent dalam berproses. “Ada dua tipe karyaku. Pertama harus diproses sedemikian cepat karena sedang hype temanya. Ada yang timeless dan pembuatannya itu butuh waktu lama,” paparnya.

Selama menggeluti bidang sinematik, ada satu karya film yang sangat bermakna baginya. Sebuah film berjudul Mengapa. Film ini menceritakan seorang anak kecil yang ditinggal merantau oleh orang tuanya. Dia tinggal bersama kakeknya dan menjadi pekerja anak karena keterbatasan ekonomi. Anak itu sering dirundung oleh teman-temannya. Sedangkan sang kakek sudah tua dan sakit-sakitan.

Selain karena kisahnya yang mengharukan, film tersebut menjadi bermakna karena pemeran sang kakek dalam film itu adalah almarhum kakeknya sendiri. Oleh karenanya, film tersebut tak pernah ia ikutkan lomba, karena menurutnya terlalu berharga. Fathur mengatakan, dalam setiap karyanya, bukan kemenangan yang ia cari, namun kepuasan dalam berproses dan kepuasan masyarakat yang menonton karyanya.

“Bagiku setiap karya itu bermakna, karena saat proses pembuatannya ada emosi tersendiri. Aku juga tidak tahu standar film yang baik itu seperti apa. Tapi, menurutku, berkarya yang baik itu adalah ada kejujuran dalam proses pembuatannya, tulus, dan maksimal. Itu adalah karya yang baik,” pungkasnya. (c2/rus)

- Advertisement -

GLAGAHWERO, RADARJEMBER.ID – MASIH tertancap kuat dalam ingatan M Fathur Rozi saat karya terbaiknya masuk sebagai finalis lomba film Apresiasi Kreasi Indonesia yang digelar oleh Kemenparekraf, Agustus lalu. Pemuda kampung asal Desa Glagahwero, Kecamatan Panti, ini memang sejak lama menyukai dunia videografi, khususnya di bidang film. Perjalanan menjadi seorang produser film adalah proses terpanjang dan sangat mengesankan dalam hidupnya.

Sejak duduk di bangku SMA yang ada di bawah naungan pesantren, Fathur terbiasa menonton film di sela-sela waktu jam istirahat. Hampir setiap hari ia sering terlambat masuk kelas akibat menonton film itu. Sebab, ia harus keluar pesantren dan mendatangi gerai warung internet (warnet). “Karena di pesantren tidak ada fasilitas buat nonton film, jadi aku sering izin ke luar pondok buat nonton di warnet. Dari situ, muncul keinginan dan ingin tahu bagaimana caranya bikin film,” kenang Fathur.

Kebetulan saat itu, alumnus SMA Bustanul Ulum Mlokorejo, Kecamatan Puger, ini juga sempat menjadi pengurus organisasi siswa intra sekolah (OSIS). Saat itu, ia aktif dalam berbagai kegiatan di sekolah, termasuk menjadi panitia ketika ada acara. Pada suatu waktu, saat ia tengah asyik berproses dalam suatu acara, salah satu temannya datang dan menghujatnya secara terang-terangan karena kemampuan Fathur yang lemah dalam bidang komputer.

“Dia bilang kalau aku tidak bisa komputer dan tidak layak jadi OSIS. Jelas tidak terima, dong. Apalagi, aku tipe orang yang kalau tidak terima maka harus belajar,” tuturnya.

Tak lama usai hinaan itu ia dapatkan, Fathur menamatkan pendidikan SMA. Ia sangat berkeinginan belajar komputer dan mendalami bidang film. Namun, saat itu ia masih bingung akan kuliah di mana.

Menurut dia, satu-satunya perguruan tinggi yang paling sesuai dengan keinginannya yakni Universitas Jember. Akhirnya, ia mulai meminta kepada kedua orang tuanya untuk kuliah di kampus tersebut. Usulan itu ternyata ditolak oleh orang tuanya. Sebab, sebagai anak pertama, masih ada tiga adiknya yang juga harus dibiayai orang tuanya untuk mengenyam pendidikan.

“Sebenarnya bukan tidak setuju ke kampusnya. Tapi, terserah kalau memang mau kuliah, tapi orang tua tidak sanggup membiayai. Akhirnya aku memutuskan lanjut mondok dan kuliah di Ibrahimy, Situbondo,” ungkapnya.

Keputusan tersebut membuatnya memiliki lingkungan baru yang menurutnya lebih sehat dan kompetitif daripada teman-teman sebelumnya. Apalagi, di tempat tersebut ia merasa cocok atas pemilihan jurusan yang sesuai dengan impiannya. Jurusan multimedia. “Di situ aku mulai mengenal sinematografi. Bagaimana teknik pengambilan yang baik. Hingga akhirnya aku sadar kalau film adalah hobi. Dan aku berniat, ketika pulang harus jadi yang terbaik dan bermanfaat bagi orang lain. Terutama melalui hobiku,” ucapnya.

Pada 2016 lalu, salah satu karyanya berhasil meraih juara dalam ajang Moviestival, sebuah ajang festival film di Bandung. Sejak itu, ia mulai mengetahui bahwa dunia film itu luas, bukan hanya sekadar tayangan audio visual. Namun juga edukasi, penyampaian pesan moral, serta hiburan. Usai kemenangan itu, ia pun berhasil menyelesaikan pendidikannya dan kembali ke tanah kelahiran.

Saat di rumah, ia sempat kesulitan dalam bergaul dan mengembangkan bakatnya. Sebab, ia tak menemukan teman yang sehobi. Bahkan, untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya juga cukup sulit. Hanya ada satu hal yang bisa ia lakukan saat itu. Mengajar. Ia pun memulai karir pertamanya dengan menjadi seorang pendidik di salah satu SMA terdekat sebagai guru multimedia.

“Aku ingin anak didikku nanti bisa mengembangkan Jember. Salah satunya melalui film. Dan sebagian dari mereka yang sudah bisa, aku invite untuk gabung di timku. Karena kita semua sama. Sama-sama belajar,” paparnya.

Sembari mengajar, pada awal 2018 lalu, Fathur kembali berkarya dan mencoba mengikuti lomba vlog Jember. Dan video tersebut berhasil menjadi juara dua. Pada waktu yang bersamaan, melalui lomba tersebut, ia mulai mengenal banyak filmmaker untuk bergabung dengannya. Bersama orang-orang hebat itulah, ia membuat karya istimewa yang kemudian berhasil menjadi perwakilan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk diputar dalam kegiatan International Short Movie Festival di Bali pada 2019 lalu. “Waktu itu aku jadi pelopor di bidang film. Dua karyaku diputar di sana,” jelasnya.

Prestasi demi prestasi terus ia raih hampir setiap tahun. Bahkan, belum lama ini ia juga memenangi challenge video pendek tentang vaksinasi. Ia mengajak anak-anak tetangganya untuk menjadi talent dalam video itu.

Meski sering mendapat juara, sineas muda ini menanamkan prinsip untuk tetap harus belajar dan terus berlatih. Tak seperti produser lainnya. Sebagai santri yang juga ahli videografi, Fathur tak pernah memaksa talent untuk berakting sesuai dengan naskah yang ia buat. Terpenting baginya ialah kekompakan dan kenyamanan talent dalam berproses. “Ada dua tipe karyaku. Pertama harus diproses sedemikian cepat karena sedang hype temanya. Ada yang timeless dan pembuatannya itu butuh waktu lama,” paparnya.

Selama menggeluti bidang sinematik, ada satu karya film yang sangat bermakna baginya. Sebuah film berjudul Mengapa. Film ini menceritakan seorang anak kecil yang ditinggal merantau oleh orang tuanya. Dia tinggal bersama kakeknya dan menjadi pekerja anak karena keterbatasan ekonomi. Anak itu sering dirundung oleh teman-temannya. Sedangkan sang kakek sudah tua dan sakit-sakitan.

Selain karena kisahnya yang mengharukan, film tersebut menjadi bermakna karena pemeran sang kakek dalam film itu adalah almarhum kakeknya sendiri. Oleh karenanya, film tersebut tak pernah ia ikutkan lomba, karena menurutnya terlalu berharga. Fathur mengatakan, dalam setiap karyanya, bukan kemenangan yang ia cari, namun kepuasan dalam berproses dan kepuasan masyarakat yang menonton karyanya.

“Bagiku setiap karya itu bermakna, karena saat proses pembuatannya ada emosi tersendiri. Aku juga tidak tahu standar film yang baik itu seperti apa. Tapi, menurutku, berkarya yang baik itu adalah ada kejujuran dalam proses pembuatannya, tulus, dan maksimal. Itu adalah karya yang baik,” pungkasnya. (c2/rus)

GLAGAHWERO, RADARJEMBER.ID – MASIH tertancap kuat dalam ingatan M Fathur Rozi saat karya terbaiknya masuk sebagai finalis lomba film Apresiasi Kreasi Indonesia yang digelar oleh Kemenparekraf, Agustus lalu. Pemuda kampung asal Desa Glagahwero, Kecamatan Panti, ini memang sejak lama menyukai dunia videografi, khususnya di bidang film. Perjalanan menjadi seorang produser film adalah proses terpanjang dan sangat mengesankan dalam hidupnya.

Sejak duduk di bangku SMA yang ada di bawah naungan pesantren, Fathur terbiasa menonton film di sela-sela waktu jam istirahat. Hampir setiap hari ia sering terlambat masuk kelas akibat menonton film itu. Sebab, ia harus keluar pesantren dan mendatangi gerai warung internet (warnet). “Karena di pesantren tidak ada fasilitas buat nonton film, jadi aku sering izin ke luar pondok buat nonton di warnet. Dari situ, muncul keinginan dan ingin tahu bagaimana caranya bikin film,” kenang Fathur.

Kebetulan saat itu, alumnus SMA Bustanul Ulum Mlokorejo, Kecamatan Puger, ini juga sempat menjadi pengurus organisasi siswa intra sekolah (OSIS). Saat itu, ia aktif dalam berbagai kegiatan di sekolah, termasuk menjadi panitia ketika ada acara. Pada suatu waktu, saat ia tengah asyik berproses dalam suatu acara, salah satu temannya datang dan menghujatnya secara terang-terangan karena kemampuan Fathur yang lemah dalam bidang komputer.

“Dia bilang kalau aku tidak bisa komputer dan tidak layak jadi OSIS. Jelas tidak terima, dong. Apalagi, aku tipe orang yang kalau tidak terima maka harus belajar,” tuturnya.

Tak lama usai hinaan itu ia dapatkan, Fathur menamatkan pendidikan SMA. Ia sangat berkeinginan belajar komputer dan mendalami bidang film. Namun, saat itu ia masih bingung akan kuliah di mana.

Menurut dia, satu-satunya perguruan tinggi yang paling sesuai dengan keinginannya yakni Universitas Jember. Akhirnya, ia mulai meminta kepada kedua orang tuanya untuk kuliah di kampus tersebut. Usulan itu ternyata ditolak oleh orang tuanya. Sebab, sebagai anak pertama, masih ada tiga adiknya yang juga harus dibiayai orang tuanya untuk mengenyam pendidikan.

“Sebenarnya bukan tidak setuju ke kampusnya. Tapi, terserah kalau memang mau kuliah, tapi orang tua tidak sanggup membiayai. Akhirnya aku memutuskan lanjut mondok dan kuliah di Ibrahimy, Situbondo,” ungkapnya.

Keputusan tersebut membuatnya memiliki lingkungan baru yang menurutnya lebih sehat dan kompetitif daripada teman-teman sebelumnya. Apalagi, di tempat tersebut ia merasa cocok atas pemilihan jurusan yang sesuai dengan impiannya. Jurusan multimedia. “Di situ aku mulai mengenal sinematografi. Bagaimana teknik pengambilan yang baik. Hingga akhirnya aku sadar kalau film adalah hobi. Dan aku berniat, ketika pulang harus jadi yang terbaik dan bermanfaat bagi orang lain. Terutama melalui hobiku,” ucapnya.

Pada 2016 lalu, salah satu karyanya berhasil meraih juara dalam ajang Moviestival, sebuah ajang festival film di Bandung. Sejak itu, ia mulai mengetahui bahwa dunia film itu luas, bukan hanya sekadar tayangan audio visual. Namun juga edukasi, penyampaian pesan moral, serta hiburan. Usai kemenangan itu, ia pun berhasil menyelesaikan pendidikannya dan kembali ke tanah kelahiran.

Saat di rumah, ia sempat kesulitan dalam bergaul dan mengembangkan bakatnya. Sebab, ia tak menemukan teman yang sehobi. Bahkan, untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya juga cukup sulit. Hanya ada satu hal yang bisa ia lakukan saat itu. Mengajar. Ia pun memulai karir pertamanya dengan menjadi seorang pendidik di salah satu SMA terdekat sebagai guru multimedia.

“Aku ingin anak didikku nanti bisa mengembangkan Jember. Salah satunya melalui film. Dan sebagian dari mereka yang sudah bisa, aku invite untuk gabung di timku. Karena kita semua sama. Sama-sama belajar,” paparnya.

Sembari mengajar, pada awal 2018 lalu, Fathur kembali berkarya dan mencoba mengikuti lomba vlog Jember. Dan video tersebut berhasil menjadi juara dua. Pada waktu yang bersamaan, melalui lomba tersebut, ia mulai mengenal banyak filmmaker untuk bergabung dengannya. Bersama orang-orang hebat itulah, ia membuat karya istimewa yang kemudian berhasil menjadi perwakilan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk diputar dalam kegiatan International Short Movie Festival di Bali pada 2019 lalu. “Waktu itu aku jadi pelopor di bidang film. Dua karyaku diputar di sana,” jelasnya.

Prestasi demi prestasi terus ia raih hampir setiap tahun. Bahkan, belum lama ini ia juga memenangi challenge video pendek tentang vaksinasi. Ia mengajak anak-anak tetangganya untuk menjadi talent dalam video itu.

Meski sering mendapat juara, sineas muda ini menanamkan prinsip untuk tetap harus belajar dan terus berlatih. Tak seperti produser lainnya. Sebagai santri yang juga ahli videografi, Fathur tak pernah memaksa talent untuk berakting sesuai dengan naskah yang ia buat. Terpenting baginya ialah kekompakan dan kenyamanan talent dalam berproses. “Ada dua tipe karyaku. Pertama harus diproses sedemikian cepat karena sedang hype temanya. Ada yang timeless dan pembuatannya itu butuh waktu lama,” paparnya.

Selama menggeluti bidang sinematik, ada satu karya film yang sangat bermakna baginya. Sebuah film berjudul Mengapa. Film ini menceritakan seorang anak kecil yang ditinggal merantau oleh orang tuanya. Dia tinggal bersama kakeknya dan menjadi pekerja anak karena keterbatasan ekonomi. Anak itu sering dirundung oleh teman-temannya. Sedangkan sang kakek sudah tua dan sakit-sakitan.

Selain karena kisahnya yang mengharukan, film tersebut menjadi bermakna karena pemeran sang kakek dalam film itu adalah almarhum kakeknya sendiri. Oleh karenanya, film tersebut tak pernah ia ikutkan lomba, karena menurutnya terlalu berharga. Fathur mengatakan, dalam setiap karyanya, bukan kemenangan yang ia cari, namun kepuasan dalam berproses dan kepuasan masyarakat yang menonton karyanya.

“Bagiku setiap karya itu bermakna, karena saat proses pembuatannya ada emosi tersendiri. Aku juga tidak tahu standar film yang baik itu seperti apa. Tapi, menurutku, berkarya yang baik itu adalah ada kejujuran dalam proses pembuatannya, tulus, dan maksimal. Itu adalah karya yang baik,” pungkasnya. (c2/rus)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/