alexametrics
22.3 C
Jember
Friday, 19 August 2022

Jember Masih Kekurangan Destana

Area Rawan Bencana Mencapai 80 Persen

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Terbatasnya jumlah desa tangguh bencana (destana) di Jember sepertinya belum memiliki porsi tersendiri untuk diperhatikan. Padahal keberadaan destana itu diyakini penting, sebagai kepanjangan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang seharusnya ada di tiap-tiap desa dan kelurahan. Sekaligus menjadi upaya tanggap cepat tanpa harus menunggu BPBD yang lokasinya berada di pusat kota.

Sebagaimana diketahui, Jember menjadi daerah yang memiliki potensi bencana cukup tinggi. Sebelum ini, BPBD Jember juga telah menetapkan berbagai wilayah yang rawan bencana. Seperti daerah rawan potensi bencana erupsi atau gempa vulkanik yang berada di sekitar kaki Gunung Raung, atau di sisi bagian timur Jember. Sementara, potensi bencana banjir bandang dan longsor juga membalut berbagai kecamatan yang berada di kali lereng Pegunungan Argopuro.

Tak sampai di situ, potensi bencana gelombang tinggi dan tsunami juga membalut Kota Tembakau di sisi selatan. Tepatnya, di sepanjang bentangan pantai segoro kidul. Seperti Kecamatan Puger, Gumukmas, Ambulu, Kencong, dan lain-lain.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jember Rudy Danarto menilai, kondisi alam di Jember yang dibalut pegunungan dan pantai membuat potensi bencana juga cukup tinggi. “Kalau dikalkulasi, potensi adanya bencana daerah kita ini mencapai 80 persen di semua titik,” terangnya.

Persentase itu diakui cukup tinggi. Terlebih lagi, pada musim hujan seperti saat ini, potensi itu kian memungkinkan terjadi kapan saja. Selain itu, Rudy juga memaparkan, upaya mitigasi bencana selama ini diakuinya kurang optimal. Seperti halnya keberadaan desa tangguh bencana atau destana. Dirinya menyebut, Jember saat ini baru memiliki sekitar 70 destana yang tersebar di seluruh kecamatan. Baik di desa ataupun kelurahan. “Kalau berdasar jumlah itu dengan potensi yang ada, sangat kurang sekali,” jelasnya.

Padahal, menurut dia, keberadaan destana itu cukup penting. Sebab, saat ada kejadian bencana, minimal warga di lokasi kejadian sudah melakukan reaksi cepat tanpa harus menunggu BPBD yang terpusat di tengah kota. “Ibaratnya, kalau ada orang tenggelam, siapa yang pertama melihatnya, mereka sudah bisa melakukan pertolongan pertama tanpa harus menanti petugas datang. Keburu meninggal kan,” lanjut Rudy, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Terbatasnya jumlah desa tangguh bencana (destana) di Jember sepertinya belum memiliki porsi tersendiri untuk diperhatikan. Padahal keberadaan destana itu diyakini penting, sebagai kepanjangan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang seharusnya ada di tiap-tiap desa dan kelurahan. Sekaligus menjadi upaya tanggap cepat tanpa harus menunggu BPBD yang lokasinya berada di pusat kota.

Sebagaimana diketahui, Jember menjadi daerah yang memiliki potensi bencana cukup tinggi. Sebelum ini, BPBD Jember juga telah menetapkan berbagai wilayah yang rawan bencana. Seperti daerah rawan potensi bencana erupsi atau gempa vulkanik yang berada di sekitar kaki Gunung Raung, atau di sisi bagian timur Jember. Sementara, potensi bencana banjir bandang dan longsor juga membalut berbagai kecamatan yang berada di kali lereng Pegunungan Argopuro.

Tak sampai di situ, potensi bencana gelombang tinggi dan tsunami juga membalut Kota Tembakau di sisi selatan. Tepatnya, di sepanjang bentangan pantai segoro kidul. Seperti Kecamatan Puger, Gumukmas, Ambulu, Kencong, dan lain-lain.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jember Rudy Danarto menilai, kondisi alam di Jember yang dibalut pegunungan dan pantai membuat potensi bencana juga cukup tinggi. “Kalau dikalkulasi, potensi adanya bencana daerah kita ini mencapai 80 persen di semua titik,” terangnya.

Persentase itu diakui cukup tinggi. Terlebih lagi, pada musim hujan seperti saat ini, potensi itu kian memungkinkan terjadi kapan saja. Selain itu, Rudy juga memaparkan, upaya mitigasi bencana selama ini diakuinya kurang optimal. Seperti halnya keberadaan desa tangguh bencana atau destana. Dirinya menyebut, Jember saat ini baru memiliki sekitar 70 destana yang tersebar di seluruh kecamatan. Baik di desa ataupun kelurahan. “Kalau berdasar jumlah itu dengan potensi yang ada, sangat kurang sekali,” jelasnya.

Padahal, menurut dia, keberadaan destana itu cukup penting. Sebab, saat ada kejadian bencana, minimal warga di lokasi kejadian sudah melakukan reaksi cepat tanpa harus menunggu BPBD yang terpusat di tengah kota. “Ibaratnya, kalau ada orang tenggelam, siapa yang pertama melihatnya, mereka sudah bisa melakukan pertolongan pertama tanpa harus menanti petugas datang. Keburu meninggal kan,” lanjut Rudy, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Terbatasnya jumlah desa tangguh bencana (destana) di Jember sepertinya belum memiliki porsi tersendiri untuk diperhatikan. Padahal keberadaan destana itu diyakini penting, sebagai kepanjangan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang seharusnya ada di tiap-tiap desa dan kelurahan. Sekaligus menjadi upaya tanggap cepat tanpa harus menunggu BPBD yang lokasinya berada di pusat kota.

Sebagaimana diketahui, Jember menjadi daerah yang memiliki potensi bencana cukup tinggi. Sebelum ini, BPBD Jember juga telah menetapkan berbagai wilayah yang rawan bencana. Seperti daerah rawan potensi bencana erupsi atau gempa vulkanik yang berada di sekitar kaki Gunung Raung, atau di sisi bagian timur Jember. Sementara, potensi bencana banjir bandang dan longsor juga membalut berbagai kecamatan yang berada di kali lereng Pegunungan Argopuro.

Tak sampai di situ, potensi bencana gelombang tinggi dan tsunami juga membalut Kota Tembakau di sisi selatan. Tepatnya, di sepanjang bentangan pantai segoro kidul. Seperti Kecamatan Puger, Gumukmas, Ambulu, Kencong, dan lain-lain.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jember Rudy Danarto menilai, kondisi alam di Jember yang dibalut pegunungan dan pantai membuat potensi bencana juga cukup tinggi. “Kalau dikalkulasi, potensi adanya bencana daerah kita ini mencapai 80 persen di semua titik,” terangnya.

Persentase itu diakui cukup tinggi. Terlebih lagi, pada musim hujan seperti saat ini, potensi itu kian memungkinkan terjadi kapan saja. Selain itu, Rudy juga memaparkan, upaya mitigasi bencana selama ini diakuinya kurang optimal. Seperti halnya keberadaan desa tangguh bencana atau destana. Dirinya menyebut, Jember saat ini baru memiliki sekitar 70 destana yang tersebar di seluruh kecamatan. Baik di desa ataupun kelurahan. “Kalau berdasar jumlah itu dengan potensi yang ada, sangat kurang sekali,” jelasnya.

Padahal, menurut dia, keberadaan destana itu cukup penting. Sebab, saat ada kejadian bencana, minimal warga di lokasi kejadian sudah melakukan reaksi cepat tanpa harus menunggu BPBD yang terpusat di tengah kota. “Ibaratnya, kalau ada orang tenggelam, siapa yang pertama melihatnya, mereka sudah bisa melakukan pertolongan pertama tanpa harus menanti petugas datang. Keburu meninggal kan,” lanjut Rudy, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/