alexametrics
27.6 C
Jember
Monday, 4 July 2022

Bertahan Hidup Hanya dengan Produksi Satu Sangkar Burung

Mobile_AP_Rectangle 1

Salah satu hobi warga Jember adalah merawat burung. Melihat itu, Sunar yang awalnya bekerja serabutan, beralih menjadi perajin bambu. Dia pun menjadikan sangkar burung sebagai satu-satunya mata pencaharian untuk menghidupi keluarganya.

NUR HARIRI-JUMAI, Dawuhan Mangli, Radar Jember

Pagi itu, rumah sederhana milik Sunar masih tertutup. Begitu diketuk, Sunar yang muncul dari balik pintu terlihat sedang memegang potongan bambu seukuran lidi. Dirinya sedang bekerja membuat sangkar burung di rumahnya di Dusun Krajan, Dawuhan Mangli, Sukowono.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pria yang awalnya tak mengenakan pakaian itu kontan bergegas memakai kaus. Dia mengira, dua wartawan Jawa Pos Radar Jember datang untuk membeli kerajinan buatannya. Dia pun menunjukkan beberapa sangkar burung yang sudah dan belum selesai. “Ini masih dalam proses, belum diwarnai. Ini yang sudah selesai,” kata Sunar, yang selanjutnya mengajak masuk ke dalam rumahnya.

Di dalam rumah Sunar, mulai dari ruang tamu sampai ke dapur, sesak dengan sangkar burung. Sangkar itu dibuatnya setiap hari hingga menumpuk. “Dalam satu hari, saya hanya mampu membuat satu sangkar. Itu pun lain dengan proses pewarnaan,” ucapnya.

Sunar mengaku hanya melakukan pekerjaan itu di dalam rumah. Hal itu dijalani setelah bahan baku pembuatan sangkarnya lengkap. “Kalau bambu, kayu dan penjalin ada, saya terus bekerja. Kalau tidak, harus beli dulu,” ungkapnya.

Proses pembuatan sangkar, menurut pria dua anak ini, tak begitu sulit. Hanya membutuhkan kesabaran saat melakukan pengeboran atau melubangi kayu dan bilah rotan. Selain itu, butuh kehati-hatian saat memotong bambu menjadikannya sebagai lidi.

- Advertisement -

Salah satu hobi warga Jember adalah merawat burung. Melihat itu, Sunar yang awalnya bekerja serabutan, beralih menjadi perajin bambu. Dia pun menjadikan sangkar burung sebagai satu-satunya mata pencaharian untuk menghidupi keluarganya.

NUR HARIRI-JUMAI, Dawuhan Mangli, Radar Jember

Pagi itu, rumah sederhana milik Sunar masih tertutup. Begitu diketuk, Sunar yang muncul dari balik pintu terlihat sedang memegang potongan bambu seukuran lidi. Dirinya sedang bekerja membuat sangkar burung di rumahnya di Dusun Krajan, Dawuhan Mangli, Sukowono.

Pria yang awalnya tak mengenakan pakaian itu kontan bergegas memakai kaus. Dia mengira, dua wartawan Jawa Pos Radar Jember datang untuk membeli kerajinan buatannya. Dia pun menunjukkan beberapa sangkar burung yang sudah dan belum selesai. “Ini masih dalam proses, belum diwarnai. Ini yang sudah selesai,” kata Sunar, yang selanjutnya mengajak masuk ke dalam rumahnya.

Di dalam rumah Sunar, mulai dari ruang tamu sampai ke dapur, sesak dengan sangkar burung. Sangkar itu dibuatnya setiap hari hingga menumpuk. “Dalam satu hari, saya hanya mampu membuat satu sangkar. Itu pun lain dengan proses pewarnaan,” ucapnya.

Sunar mengaku hanya melakukan pekerjaan itu di dalam rumah. Hal itu dijalani setelah bahan baku pembuatan sangkarnya lengkap. “Kalau bambu, kayu dan penjalin ada, saya terus bekerja. Kalau tidak, harus beli dulu,” ungkapnya.

Proses pembuatan sangkar, menurut pria dua anak ini, tak begitu sulit. Hanya membutuhkan kesabaran saat melakukan pengeboran atau melubangi kayu dan bilah rotan. Selain itu, butuh kehati-hatian saat memotong bambu menjadikannya sebagai lidi.

Salah satu hobi warga Jember adalah merawat burung. Melihat itu, Sunar yang awalnya bekerja serabutan, beralih menjadi perajin bambu. Dia pun menjadikan sangkar burung sebagai satu-satunya mata pencaharian untuk menghidupi keluarganya.

NUR HARIRI-JUMAI, Dawuhan Mangli, Radar Jember

Pagi itu, rumah sederhana milik Sunar masih tertutup. Begitu diketuk, Sunar yang muncul dari balik pintu terlihat sedang memegang potongan bambu seukuran lidi. Dirinya sedang bekerja membuat sangkar burung di rumahnya di Dusun Krajan, Dawuhan Mangli, Sukowono.

Pria yang awalnya tak mengenakan pakaian itu kontan bergegas memakai kaus. Dia mengira, dua wartawan Jawa Pos Radar Jember datang untuk membeli kerajinan buatannya. Dia pun menunjukkan beberapa sangkar burung yang sudah dan belum selesai. “Ini masih dalam proses, belum diwarnai. Ini yang sudah selesai,” kata Sunar, yang selanjutnya mengajak masuk ke dalam rumahnya.

Di dalam rumah Sunar, mulai dari ruang tamu sampai ke dapur, sesak dengan sangkar burung. Sangkar itu dibuatnya setiap hari hingga menumpuk. “Dalam satu hari, saya hanya mampu membuat satu sangkar. Itu pun lain dengan proses pewarnaan,” ucapnya.

Sunar mengaku hanya melakukan pekerjaan itu di dalam rumah. Hal itu dijalani setelah bahan baku pembuatan sangkarnya lengkap. “Kalau bambu, kayu dan penjalin ada, saya terus bekerja. Kalau tidak, harus beli dulu,” ungkapnya.

Proses pembuatan sangkar, menurut pria dua anak ini, tak begitu sulit. Hanya membutuhkan kesabaran saat melakukan pengeboran atau melubangi kayu dan bilah rotan. Selain itu, butuh kehati-hatian saat memotong bambu menjadikannya sebagai lidi.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/