alexametrics
24.3 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Ancaman Mahasiswa Jember Tanyakan Keberadaan Bupati

Massa Desak Pemkab Teken Tolak Tambang Audiensi Buntu, Mahasiswa dan Warga Walk Out

Mobile_AP_Rectangle 1

KEPATIHAN, RADARJEMBER.ID – Demonstrasi menolak keberadaan tambang di pesisir Paseban, Kecamatan Kencong, berlanjut. Jika sebelumnya masyarakat bersama mahasiswa melakukan demonstrasi di depan kantor DPRD, kemarin (12/10), mereka berunjuk rasa di depan Kantor Pemkab Jember. Massa meminta pemerintah daerah menandatangani surat pernyataan penolakan rencana tambang dan tambak di pantai pesisir Paseban.

Sekitar 20 petani di pesisir Pantai Paseban berkumpul di pelataran Alun-Alun Jember. Mereka bergabung dengan kumpulan mahasiswa yang duduk melingkar. Jumlahnya sekitar 50 mahasiswa. Mereka berbaju merah dan hitam.

Massa kemudian berjalan mengelilingi alun-alun. Sembari melakukan orasi di depan kantor pemkab, mereka juga meminta audiensi. Sebab, hingga dua jam demonstrasi berlangsung, Bupati Jember Hendy Siswanto tak kunjung menemui massa. Akhirnya, mahasiswa dan warga ditemui oleh Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bangkesbangpol) Edy Budi Susilo dan Wakil Bupati Jember M Balya Firjaun Barlaman. Demonstran sempat tak puas dan mempertanyakan keberadaan Bupati Jember.

Mobile_AP_Rectangle 2

Firjaun Barlaman mengungkapkan, pihaknya selama ini telah melakukan upaya penertiban adanya tambak ilegal yang tidak sesuai aturan. Misalnya di Kepanjen, Kecamatan Gumukmas. “Yang ada saja kami tertibkan. Apalagi kok bikin yang baru. Tentu kami akan tertibkan,” kata Gus Firjaun, sapaan Wakil Bupati Jember tersebut.

Selanjutnya, massa meminta bupati menandatangani surat komitmen penolakan rencana pertambakan oleh PT Lautan Berkat Jadi Jaya (LBJJ) di kawasan pesisir Paseban. Mereka juga mendesak bupati menolak rencana pertambangan pasir besi dengan mengirim surat kepada Kementerian ESDM RI yang berisi tentang peninjauan ulang dan membatalkan izin usaha pertambangan (IUP) operasi produksi milik PT Agtika Dwi Sejahtera (ADS).

Aksi sebelumnya, permintaan ini telah ditanggapi oleh DPRD, Rabu (29/9) lalu. Kini, giliran Pemkab Jember yang ditunggu oleh massa tentang komitmennya menolak rencana adanya tambang dan tambak di kawasan pesisir selatan tersebut. Namun, Gus Firjaun menolak meneken surat tersebut. Alasannya, karena perlu ada kajian lagi. Penolakan ini sempat membuat audiensi menghangat.

Selanjutnya, Gus Firjaun enggan berkomunikasi atau menanggapi mahasiswa. Dia menilai, mereka terlalu memaksa kehendak. Hal inilah yang disesalkan oleh mahasiswa. Akhirnya, audiensi berakhir dengan sikap walk out. Sebanyak 17 orang yang menjadi perwakilan keluar ruangan.

- Advertisement -

KEPATIHAN, RADARJEMBER.ID – Demonstrasi menolak keberadaan tambang di pesisir Paseban, Kecamatan Kencong, berlanjut. Jika sebelumnya masyarakat bersama mahasiswa melakukan demonstrasi di depan kantor DPRD, kemarin (12/10), mereka berunjuk rasa di depan Kantor Pemkab Jember. Massa meminta pemerintah daerah menandatangani surat pernyataan penolakan rencana tambang dan tambak di pantai pesisir Paseban.

Sekitar 20 petani di pesisir Pantai Paseban berkumpul di pelataran Alun-Alun Jember. Mereka bergabung dengan kumpulan mahasiswa yang duduk melingkar. Jumlahnya sekitar 50 mahasiswa. Mereka berbaju merah dan hitam.

Massa kemudian berjalan mengelilingi alun-alun. Sembari melakukan orasi di depan kantor pemkab, mereka juga meminta audiensi. Sebab, hingga dua jam demonstrasi berlangsung, Bupati Jember Hendy Siswanto tak kunjung menemui massa. Akhirnya, mahasiswa dan warga ditemui oleh Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bangkesbangpol) Edy Budi Susilo dan Wakil Bupati Jember M Balya Firjaun Barlaman. Demonstran sempat tak puas dan mempertanyakan keberadaan Bupati Jember.

Firjaun Barlaman mengungkapkan, pihaknya selama ini telah melakukan upaya penertiban adanya tambak ilegal yang tidak sesuai aturan. Misalnya di Kepanjen, Kecamatan Gumukmas. “Yang ada saja kami tertibkan. Apalagi kok bikin yang baru. Tentu kami akan tertibkan,” kata Gus Firjaun, sapaan Wakil Bupati Jember tersebut.

Selanjutnya, massa meminta bupati menandatangani surat komitmen penolakan rencana pertambakan oleh PT Lautan Berkat Jadi Jaya (LBJJ) di kawasan pesisir Paseban. Mereka juga mendesak bupati menolak rencana pertambangan pasir besi dengan mengirim surat kepada Kementerian ESDM RI yang berisi tentang peninjauan ulang dan membatalkan izin usaha pertambangan (IUP) operasi produksi milik PT Agtika Dwi Sejahtera (ADS).

Aksi sebelumnya, permintaan ini telah ditanggapi oleh DPRD, Rabu (29/9) lalu. Kini, giliran Pemkab Jember yang ditunggu oleh massa tentang komitmennya menolak rencana adanya tambang dan tambak di kawasan pesisir selatan tersebut. Namun, Gus Firjaun menolak meneken surat tersebut. Alasannya, karena perlu ada kajian lagi. Penolakan ini sempat membuat audiensi menghangat.

Selanjutnya, Gus Firjaun enggan berkomunikasi atau menanggapi mahasiswa. Dia menilai, mereka terlalu memaksa kehendak. Hal inilah yang disesalkan oleh mahasiswa. Akhirnya, audiensi berakhir dengan sikap walk out. Sebanyak 17 orang yang menjadi perwakilan keluar ruangan.

KEPATIHAN, RADARJEMBER.ID – Demonstrasi menolak keberadaan tambang di pesisir Paseban, Kecamatan Kencong, berlanjut. Jika sebelumnya masyarakat bersama mahasiswa melakukan demonstrasi di depan kantor DPRD, kemarin (12/10), mereka berunjuk rasa di depan Kantor Pemkab Jember. Massa meminta pemerintah daerah menandatangani surat pernyataan penolakan rencana tambang dan tambak di pantai pesisir Paseban.

Sekitar 20 petani di pesisir Pantai Paseban berkumpul di pelataran Alun-Alun Jember. Mereka bergabung dengan kumpulan mahasiswa yang duduk melingkar. Jumlahnya sekitar 50 mahasiswa. Mereka berbaju merah dan hitam.

Massa kemudian berjalan mengelilingi alun-alun. Sembari melakukan orasi di depan kantor pemkab, mereka juga meminta audiensi. Sebab, hingga dua jam demonstrasi berlangsung, Bupati Jember Hendy Siswanto tak kunjung menemui massa. Akhirnya, mahasiswa dan warga ditemui oleh Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bangkesbangpol) Edy Budi Susilo dan Wakil Bupati Jember M Balya Firjaun Barlaman. Demonstran sempat tak puas dan mempertanyakan keberadaan Bupati Jember.

Firjaun Barlaman mengungkapkan, pihaknya selama ini telah melakukan upaya penertiban adanya tambak ilegal yang tidak sesuai aturan. Misalnya di Kepanjen, Kecamatan Gumukmas. “Yang ada saja kami tertibkan. Apalagi kok bikin yang baru. Tentu kami akan tertibkan,” kata Gus Firjaun, sapaan Wakil Bupati Jember tersebut.

Selanjutnya, massa meminta bupati menandatangani surat komitmen penolakan rencana pertambakan oleh PT Lautan Berkat Jadi Jaya (LBJJ) di kawasan pesisir Paseban. Mereka juga mendesak bupati menolak rencana pertambangan pasir besi dengan mengirim surat kepada Kementerian ESDM RI yang berisi tentang peninjauan ulang dan membatalkan izin usaha pertambangan (IUP) operasi produksi milik PT Agtika Dwi Sejahtera (ADS).

Aksi sebelumnya, permintaan ini telah ditanggapi oleh DPRD, Rabu (29/9) lalu. Kini, giliran Pemkab Jember yang ditunggu oleh massa tentang komitmennya menolak rencana adanya tambang dan tambak di kawasan pesisir selatan tersebut. Namun, Gus Firjaun menolak meneken surat tersebut. Alasannya, karena perlu ada kajian lagi. Penolakan ini sempat membuat audiensi menghangat.

Selanjutnya, Gus Firjaun enggan berkomunikasi atau menanggapi mahasiswa. Dia menilai, mereka terlalu memaksa kehendak. Hal inilah yang disesalkan oleh mahasiswa. Akhirnya, audiensi berakhir dengan sikap walk out. Sebanyak 17 orang yang menjadi perwakilan keluar ruangan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/