alexametrics
21.9 C
Jember
Friday, 19 August 2022

Bikin Jingle Song of Corona, Dua Jam Rampung Tanpa Revisi

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Ini bukan soal ketenaran atau eksistensi, tapi tentang rasa dan curahan hati. Begitulah keyakinan Budi Hoo di tiap lirik lagunya. Sang musisi kawakan asli Jember ini mencoba menuangkan kegelisahan batinnya melalui lagu bertema pandemi. Apa yang melatarbelakanginya?

MAULANA, Jember Kidul, Radar Jember

Tepat menjelang azan Asar, sejumlah anak-anak mulai berkemas. Pertanda pengajaran hari itu sudah cukup. “Belajar yang rajin. Baik-baik kepada keluarga, guru, dan temanmu,” ucap Budi Hoo, berpesan ke anak didiknya. Saat mereka beranjak pulang, Budi Hoo memandangi langkah anak didiknya itu hingga mereka hilang melintas di tikungan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Budi Hoo mengaku, sejak pandemi melanda negeri ini, hatinya sudah gelisah tak karuan. Rasanya campur aduk melihat ketimpangan sosial belakangan ini. Tepatnya saat Covid-19 muncul pertengahan Maret lalu.

Pandemi ini pula yang menggugah kesadaran ayah satu anak itu menciptakan lagu. Tepatnya pertengahan April lalu, Budi Hoo kembali mencurahkan isi batinnya melalui lirik. Kali ini judulnya ‘Song of Corona’ yang dibawakan oleh Salsabila Kanza, remaja kelahiran Jember yang kini menempuh pendidikan di sekolah musik Yogyakarta. “Hanya butuh dua jam, lagu itu saya rampungkan tanpa revisi,” ungkapnya, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember di rumahnya, Lingkungan Talangsari, Jember Kidul, Kaliwates, kemarin (12/10).

Baginya, urusan bikin lagu perlu didasari dari hati dan perenungan panjang. Dengan demikian, setiap lirik yang dihasilkan memiliki makna atau pesan yang ingin disampaikan. Jika lagu sekadar lagu, Budi Hoo yakin, mungkin hanya dihargai tepuk tangan atau paling banter dibanderol rupiah. Namun, untuk lagu yang mampu menyampaikan pesan, menggetarkan hati dan batin para pendengar, itu tak bisa dihargai dengan apa pun. “Contohnya lagu Ibu Pertiwi Menangis. Siapa pun mendengar pasti terenyuh. Pertanda batin kita terketuk,” katanya.

Begitu pun dengan jingle Song of Corona yang ia ciptakan. Musisi yang sudah bikin lagu sejak era 70-an itu menuturkan, sebenarnya pandemi itu berbahaya. Namun, justru yang lebih berbahaya adalah dampak yang dimunculkan. Ia seolah khawatir dengan kesenjangan sosial yang akan muncul, keterpurukan ekonomi, dan lain-lain. Seperti dalam salah satu lirik lagu itu: the world begin to change right now, full of the anxiety (dunia mulai berubah sekarang, penuh dengan kegelisahan).

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Ini bukan soal ketenaran atau eksistensi, tapi tentang rasa dan curahan hati. Begitulah keyakinan Budi Hoo di tiap lirik lagunya. Sang musisi kawakan asli Jember ini mencoba menuangkan kegelisahan batinnya melalui lagu bertema pandemi. Apa yang melatarbelakanginya?

MAULANA, Jember Kidul, Radar Jember

Tepat menjelang azan Asar, sejumlah anak-anak mulai berkemas. Pertanda pengajaran hari itu sudah cukup. “Belajar yang rajin. Baik-baik kepada keluarga, guru, dan temanmu,” ucap Budi Hoo, berpesan ke anak didiknya. Saat mereka beranjak pulang, Budi Hoo memandangi langkah anak didiknya itu hingga mereka hilang melintas di tikungan.

Budi Hoo mengaku, sejak pandemi melanda negeri ini, hatinya sudah gelisah tak karuan. Rasanya campur aduk melihat ketimpangan sosial belakangan ini. Tepatnya saat Covid-19 muncul pertengahan Maret lalu.

Pandemi ini pula yang menggugah kesadaran ayah satu anak itu menciptakan lagu. Tepatnya pertengahan April lalu, Budi Hoo kembali mencurahkan isi batinnya melalui lirik. Kali ini judulnya ‘Song of Corona’ yang dibawakan oleh Salsabila Kanza, remaja kelahiran Jember yang kini menempuh pendidikan di sekolah musik Yogyakarta. “Hanya butuh dua jam, lagu itu saya rampungkan tanpa revisi,” ungkapnya, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember di rumahnya, Lingkungan Talangsari, Jember Kidul, Kaliwates, kemarin (12/10).

Baginya, urusan bikin lagu perlu didasari dari hati dan perenungan panjang. Dengan demikian, setiap lirik yang dihasilkan memiliki makna atau pesan yang ingin disampaikan. Jika lagu sekadar lagu, Budi Hoo yakin, mungkin hanya dihargai tepuk tangan atau paling banter dibanderol rupiah. Namun, untuk lagu yang mampu menyampaikan pesan, menggetarkan hati dan batin para pendengar, itu tak bisa dihargai dengan apa pun. “Contohnya lagu Ibu Pertiwi Menangis. Siapa pun mendengar pasti terenyuh. Pertanda batin kita terketuk,” katanya.

Begitu pun dengan jingle Song of Corona yang ia ciptakan. Musisi yang sudah bikin lagu sejak era 70-an itu menuturkan, sebenarnya pandemi itu berbahaya. Namun, justru yang lebih berbahaya adalah dampak yang dimunculkan. Ia seolah khawatir dengan kesenjangan sosial yang akan muncul, keterpurukan ekonomi, dan lain-lain. Seperti dalam salah satu lirik lagu itu: the world begin to change right now, full of the anxiety (dunia mulai berubah sekarang, penuh dengan kegelisahan).

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Ini bukan soal ketenaran atau eksistensi, tapi tentang rasa dan curahan hati. Begitulah keyakinan Budi Hoo di tiap lirik lagunya. Sang musisi kawakan asli Jember ini mencoba menuangkan kegelisahan batinnya melalui lagu bertema pandemi. Apa yang melatarbelakanginya?

MAULANA, Jember Kidul, Radar Jember

Tepat menjelang azan Asar, sejumlah anak-anak mulai berkemas. Pertanda pengajaran hari itu sudah cukup. “Belajar yang rajin. Baik-baik kepada keluarga, guru, dan temanmu,” ucap Budi Hoo, berpesan ke anak didiknya. Saat mereka beranjak pulang, Budi Hoo memandangi langkah anak didiknya itu hingga mereka hilang melintas di tikungan.

Budi Hoo mengaku, sejak pandemi melanda negeri ini, hatinya sudah gelisah tak karuan. Rasanya campur aduk melihat ketimpangan sosial belakangan ini. Tepatnya saat Covid-19 muncul pertengahan Maret lalu.

Pandemi ini pula yang menggugah kesadaran ayah satu anak itu menciptakan lagu. Tepatnya pertengahan April lalu, Budi Hoo kembali mencurahkan isi batinnya melalui lirik. Kali ini judulnya ‘Song of Corona’ yang dibawakan oleh Salsabila Kanza, remaja kelahiran Jember yang kini menempuh pendidikan di sekolah musik Yogyakarta. “Hanya butuh dua jam, lagu itu saya rampungkan tanpa revisi,” ungkapnya, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember di rumahnya, Lingkungan Talangsari, Jember Kidul, Kaliwates, kemarin (12/10).

Baginya, urusan bikin lagu perlu didasari dari hati dan perenungan panjang. Dengan demikian, setiap lirik yang dihasilkan memiliki makna atau pesan yang ingin disampaikan. Jika lagu sekadar lagu, Budi Hoo yakin, mungkin hanya dihargai tepuk tangan atau paling banter dibanderol rupiah. Namun, untuk lagu yang mampu menyampaikan pesan, menggetarkan hati dan batin para pendengar, itu tak bisa dihargai dengan apa pun. “Contohnya lagu Ibu Pertiwi Menangis. Siapa pun mendengar pasti terenyuh. Pertanda batin kita terketuk,” katanya.

Begitu pun dengan jingle Song of Corona yang ia ciptakan. Musisi yang sudah bikin lagu sejak era 70-an itu menuturkan, sebenarnya pandemi itu berbahaya. Namun, justru yang lebih berbahaya adalah dampak yang dimunculkan. Ia seolah khawatir dengan kesenjangan sosial yang akan muncul, keterpurukan ekonomi, dan lain-lain. Seperti dalam salah satu lirik lagu itu: the world begin to change right now, full of the anxiety (dunia mulai berubah sekarang, penuh dengan kegelisahan).

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/