alexametrics
23.4 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Pelecehan, Jangan Anggap Iseng atau Uji Nyali

Pelecehan Seksual Merupakan Kejahatan Serius

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – PENGAKUAN korban hingga mendorong adanya laporan menjadi awal bagi kepolisian memburu pelaku pelecehan seksual di Kecamatan Mayang. Perbuatan meraba dada itu dikategorikan kejahatan seksual. Dan kejadian ini tidak spesifik menyasar kalangan tertentu. Artinya, siapa saja bisa menjadi korban, karena sasarannya tak mengenal batasan-batasan sosial.

Pakar kriminologi Universitas Jember (Unej), Hery Prasetyo menjelaskan, kasus ini menjadi menarik ketika hak warga negara dipergunakan sebagai titik masuk dalam mengusut kasus. Selain untuk menekankan pada kesamaan hak dan kewajiban, juga terdapat aspek moralitas guna menjaga dan melindungi harkat martabat sesama manusia.

Ia melihat, ada beberapa motif pelaku dalam melakukan aksi pelecehan seksual itu. Di antaranya, adanya hasrat seksual yang dibalut dengan pemikiran patriarki. Di mana seorang pria menjadi tertantang untuk menyalurkan emosinya ketika dia melihat sosok-sosok tertentu yang mapan secara ekonomi, sehingga pelaku menyalurkan hasrat dan kemarahannya dengan cara melecehkan. “Di balik hal itu, si pria atau pelaku, merasa dia yang lebih berhak mendapatkan keistimewaan secara sosial. Karena itu, kemarahan tersebut dilepaskan dengan mencari korban,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dalam kasus-kasus lain, dapat pula dilihat adanya kesempatan untuk melakukan kejahatan. Sebab, selama ini pelecehan seksual belum dianggap sebagai kejahatan serius. Hal itu terjadi karena korban merasa malu dan menganggap aib jika masyarakat tahu dirinya dilecehkan. “Dalam hal ini posisi masyarakat yang idealnya melindungi, justru dipersepsikan tidak banyak memberikan tempat bagi korban,” tutur dosen FISIP Unej itu.

Persoalan seperti ini dapat dikurangi dengan beberapa strategi. Misalnya memberi penekanan tentang hak, kewajiban, dan bagaimana masyarakat perlu melindungi hak-hak perempuan. Kedua, penegakan hukum menjadi hal yang tidak boleh ditawar. Memberikan hukuman secara formal dan sosial patut dijalankan secara konsisten kepada para pelaku kejahatan seksual.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – PENGAKUAN korban hingga mendorong adanya laporan menjadi awal bagi kepolisian memburu pelaku pelecehan seksual di Kecamatan Mayang. Perbuatan meraba dada itu dikategorikan kejahatan seksual. Dan kejadian ini tidak spesifik menyasar kalangan tertentu. Artinya, siapa saja bisa menjadi korban, karena sasarannya tak mengenal batasan-batasan sosial.

Pakar kriminologi Universitas Jember (Unej), Hery Prasetyo menjelaskan, kasus ini menjadi menarik ketika hak warga negara dipergunakan sebagai titik masuk dalam mengusut kasus. Selain untuk menekankan pada kesamaan hak dan kewajiban, juga terdapat aspek moralitas guna menjaga dan melindungi harkat martabat sesama manusia.

Ia melihat, ada beberapa motif pelaku dalam melakukan aksi pelecehan seksual itu. Di antaranya, adanya hasrat seksual yang dibalut dengan pemikiran patriarki. Di mana seorang pria menjadi tertantang untuk menyalurkan emosinya ketika dia melihat sosok-sosok tertentu yang mapan secara ekonomi, sehingga pelaku menyalurkan hasrat dan kemarahannya dengan cara melecehkan. “Di balik hal itu, si pria atau pelaku, merasa dia yang lebih berhak mendapatkan keistimewaan secara sosial. Karena itu, kemarahan tersebut dilepaskan dengan mencari korban,” ungkapnya.

Dalam kasus-kasus lain, dapat pula dilihat adanya kesempatan untuk melakukan kejahatan. Sebab, selama ini pelecehan seksual belum dianggap sebagai kejahatan serius. Hal itu terjadi karena korban merasa malu dan menganggap aib jika masyarakat tahu dirinya dilecehkan. “Dalam hal ini posisi masyarakat yang idealnya melindungi, justru dipersepsikan tidak banyak memberikan tempat bagi korban,” tutur dosen FISIP Unej itu.

Persoalan seperti ini dapat dikurangi dengan beberapa strategi. Misalnya memberi penekanan tentang hak, kewajiban, dan bagaimana masyarakat perlu melindungi hak-hak perempuan. Kedua, penegakan hukum menjadi hal yang tidak boleh ditawar. Memberikan hukuman secara formal dan sosial patut dijalankan secara konsisten kepada para pelaku kejahatan seksual.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – PENGAKUAN korban hingga mendorong adanya laporan menjadi awal bagi kepolisian memburu pelaku pelecehan seksual di Kecamatan Mayang. Perbuatan meraba dada itu dikategorikan kejahatan seksual. Dan kejadian ini tidak spesifik menyasar kalangan tertentu. Artinya, siapa saja bisa menjadi korban, karena sasarannya tak mengenal batasan-batasan sosial.

Pakar kriminologi Universitas Jember (Unej), Hery Prasetyo menjelaskan, kasus ini menjadi menarik ketika hak warga negara dipergunakan sebagai titik masuk dalam mengusut kasus. Selain untuk menekankan pada kesamaan hak dan kewajiban, juga terdapat aspek moralitas guna menjaga dan melindungi harkat martabat sesama manusia.

Ia melihat, ada beberapa motif pelaku dalam melakukan aksi pelecehan seksual itu. Di antaranya, adanya hasrat seksual yang dibalut dengan pemikiran patriarki. Di mana seorang pria menjadi tertantang untuk menyalurkan emosinya ketika dia melihat sosok-sosok tertentu yang mapan secara ekonomi, sehingga pelaku menyalurkan hasrat dan kemarahannya dengan cara melecehkan. “Di balik hal itu, si pria atau pelaku, merasa dia yang lebih berhak mendapatkan keistimewaan secara sosial. Karena itu, kemarahan tersebut dilepaskan dengan mencari korban,” ungkapnya.

Dalam kasus-kasus lain, dapat pula dilihat adanya kesempatan untuk melakukan kejahatan. Sebab, selama ini pelecehan seksual belum dianggap sebagai kejahatan serius. Hal itu terjadi karena korban merasa malu dan menganggap aib jika masyarakat tahu dirinya dilecehkan. “Dalam hal ini posisi masyarakat yang idealnya melindungi, justru dipersepsikan tidak banyak memberikan tempat bagi korban,” tutur dosen FISIP Unej itu.

Persoalan seperti ini dapat dikurangi dengan beberapa strategi. Misalnya memberi penekanan tentang hak, kewajiban, dan bagaimana masyarakat perlu melindungi hak-hak perempuan. Kedua, penegakan hukum menjadi hal yang tidak boleh ditawar. Memberikan hukuman secara formal dan sosial patut dijalankan secara konsisten kepada para pelaku kejahatan seksual.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/