alexametrics
26.6 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Jember Masih Terselamatkan di Sektor Pertanian

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Walau terjadi peningkatan jumlah pengangguran pada 2020 lalu, namun ekonomi Jember masih tertolong karena perekonomian bergantung pada sektor pertanian. Agus Lutfi, dosen Jurusan Ilmu Ekonomi Studi dan Pembangunan (IESP) Universitas Jember (Unej), mengatakan, pandemi yang terjadi hampir dua tahun ini memang berdampak pada tingkat pengangguran. “Tidak hanya di Jember, tapi juga nasional,” tuturnya.

Namun, yang harus dilihat adalah peningkatan pengangguran di Jember tersebut dari sektor mana. Hal itu dinilainya penting sebagai langkah pemerintah untuk mengatasi jumlah pengangguran. “Semisal yang terdampak sektor UMKM, tidak mudah mengalihkan ke industri karena hal itu kaitannya dengan kualitas tenaga kerja. Jadi, kegiatan ekonomi apa yang cocok dalam penyerapan tenaga kerja sebagai imbas pandemi,” terangnya.

Ekonomi Jember yang masih ditopang sektor pertanian, menurut Agus Lutfi, justru dampak ekonominya tidak seburuk kota-kota nonpertanian. Pertanian memang terdampak. Tapi, menurutnya, tidak begitu berat dan sifatnya hanya sementara saja. Bahkan, kata dia, sektor pertanian justru ada geliat pertumbuhan yang menarik di tengah pandemi. “Sektor pertanian ini menjadi penyelamat ekonomi Jember,” paparnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Melihat dari inflasi 2020, rilis BPS secara nasional, tingkat inflasi Indonesia adalah 1,68 persen. Padahal target inflasi tiga persen plus minus satu. Sedangkan inflasi Jatim, 2020 kemarin, juga di angka 1,44 persen. Sementara Jember mencapai 2,08 persen.

Menurut Agus Lutfi, inflasi memang menjadi salah satu indikator kondisi ekonomi. Apalagi, melihat angka inflasi Jember masih lebih baik daripada Jatim dan nasional. Serta masuk dalam cakupan target tiga persen plus minus satu. Namun, dengan inflasi sebesar itu, juga perlu melihat pertumbuhan ekonomi di Jember secara umum. “Kalau pertumbuhan ekonomi lebih baik, itu lebih bagus. Artinya, daya beli masyarakat sangat baik,” terangnya.

Agus Lutfi melihat, pengangguran di Jember sebagai akibat pandemi kemungkinan dari sektor UMKM, perhotelan, transportasi, dan wisata. Sektor tersebut yang sebaiknya disentuh pemerintah. “Bisa dengan mengembangkan skill agar bisa buka usaha sendiri,” tuturnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Walau terjadi peningkatan jumlah pengangguran pada 2020 lalu, namun ekonomi Jember masih tertolong karena perekonomian bergantung pada sektor pertanian. Agus Lutfi, dosen Jurusan Ilmu Ekonomi Studi dan Pembangunan (IESP) Universitas Jember (Unej), mengatakan, pandemi yang terjadi hampir dua tahun ini memang berdampak pada tingkat pengangguran. “Tidak hanya di Jember, tapi juga nasional,” tuturnya.

Namun, yang harus dilihat adalah peningkatan pengangguran di Jember tersebut dari sektor mana. Hal itu dinilainya penting sebagai langkah pemerintah untuk mengatasi jumlah pengangguran. “Semisal yang terdampak sektor UMKM, tidak mudah mengalihkan ke industri karena hal itu kaitannya dengan kualitas tenaga kerja. Jadi, kegiatan ekonomi apa yang cocok dalam penyerapan tenaga kerja sebagai imbas pandemi,” terangnya.

Ekonomi Jember yang masih ditopang sektor pertanian, menurut Agus Lutfi, justru dampak ekonominya tidak seburuk kota-kota nonpertanian. Pertanian memang terdampak. Tapi, menurutnya, tidak begitu berat dan sifatnya hanya sementara saja. Bahkan, kata dia, sektor pertanian justru ada geliat pertumbuhan yang menarik di tengah pandemi. “Sektor pertanian ini menjadi penyelamat ekonomi Jember,” paparnya.

Melihat dari inflasi 2020, rilis BPS secara nasional, tingkat inflasi Indonesia adalah 1,68 persen. Padahal target inflasi tiga persen plus minus satu. Sedangkan inflasi Jatim, 2020 kemarin, juga di angka 1,44 persen. Sementara Jember mencapai 2,08 persen.

Menurut Agus Lutfi, inflasi memang menjadi salah satu indikator kondisi ekonomi. Apalagi, melihat angka inflasi Jember masih lebih baik daripada Jatim dan nasional. Serta masuk dalam cakupan target tiga persen plus minus satu. Namun, dengan inflasi sebesar itu, juga perlu melihat pertumbuhan ekonomi di Jember secara umum. “Kalau pertumbuhan ekonomi lebih baik, itu lebih bagus. Artinya, daya beli masyarakat sangat baik,” terangnya.

Agus Lutfi melihat, pengangguran di Jember sebagai akibat pandemi kemungkinan dari sektor UMKM, perhotelan, transportasi, dan wisata. Sektor tersebut yang sebaiknya disentuh pemerintah. “Bisa dengan mengembangkan skill agar bisa buka usaha sendiri,” tuturnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Walau terjadi peningkatan jumlah pengangguran pada 2020 lalu, namun ekonomi Jember masih tertolong karena perekonomian bergantung pada sektor pertanian. Agus Lutfi, dosen Jurusan Ilmu Ekonomi Studi dan Pembangunan (IESP) Universitas Jember (Unej), mengatakan, pandemi yang terjadi hampir dua tahun ini memang berdampak pada tingkat pengangguran. “Tidak hanya di Jember, tapi juga nasional,” tuturnya.

Namun, yang harus dilihat adalah peningkatan pengangguran di Jember tersebut dari sektor mana. Hal itu dinilainya penting sebagai langkah pemerintah untuk mengatasi jumlah pengangguran. “Semisal yang terdampak sektor UMKM, tidak mudah mengalihkan ke industri karena hal itu kaitannya dengan kualitas tenaga kerja. Jadi, kegiatan ekonomi apa yang cocok dalam penyerapan tenaga kerja sebagai imbas pandemi,” terangnya.

Ekonomi Jember yang masih ditopang sektor pertanian, menurut Agus Lutfi, justru dampak ekonominya tidak seburuk kota-kota nonpertanian. Pertanian memang terdampak. Tapi, menurutnya, tidak begitu berat dan sifatnya hanya sementara saja. Bahkan, kata dia, sektor pertanian justru ada geliat pertumbuhan yang menarik di tengah pandemi. “Sektor pertanian ini menjadi penyelamat ekonomi Jember,” paparnya.

Melihat dari inflasi 2020, rilis BPS secara nasional, tingkat inflasi Indonesia adalah 1,68 persen. Padahal target inflasi tiga persen plus minus satu. Sedangkan inflasi Jatim, 2020 kemarin, juga di angka 1,44 persen. Sementara Jember mencapai 2,08 persen.

Menurut Agus Lutfi, inflasi memang menjadi salah satu indikator kondisi ekonomi. Apalagi, melihat angka inflasi Jember masih lebih baik daripada Jatim dan nasional. Serta masuk dalam cakupan target tiga persen plus minus satu. Namun, dengan inflasi sebesar itu, juga perlu melihat pertumbuhan ekonomi di Jember secara umum. “Kalau pertumbuhan ekonomi lebih baik, itu lebih bagus. Artinya, daya beli masyarakat sangat baik,” terangnya.

Agus Lutfi melihat, pengangguran di Jember sebagai akibat pandemi kemungkinan dari sektor UMKM, perhotelan, transportasi, dan wisata. Sektor tersebut yang sebaiknya disentuh pemerintah. “Bisa dengan mengembangkan skill agar bisa buka usaha sendiri,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/