alexametrics
29.2 C
Jember
Friday, 1 July 2022

Regenerasi Pianis Klasik Nyaris Mati

Banyak yang Pindah Piano Pop

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Eksistensi seniman musik klasik semakin langka. Tak terkecuali di Jember. Keberadaan pianis klasik masih sangat bisa dihitung jari, alias tidak sampai lebih dari sepuluh. Selain itu, para pianis klasik ini tidak memiliki komunitas yang mewadahi. Perhatian dari daerah pun sangat minim. Hal ini terlihat dengan intensitas acara yang diselenggarakan.

Salah satu pianis klasik di Jember, Yopie Octovia, menyebut bahwa pergelaran yang mengumpulkan pianis klasik di Jember terakhir digelar pada lima tahun silam. Sebagai alternatif untuk tetap eksis, beberapa seniman memutuskan melakukan tur di kota lain seperti Surabaya dan Yogyakarta. Cara lain yang digunakan sebagai alternatifnya adalah menggelar home concert yang biasanya diadakan oleh lembaga les musik.

Para seniman didominasi oleh rentang usia di atas 25 tahun. Sedangkan yang berusia pelajar masih belum tampak keberadaannya. Sayangnya, tak semua lembaga pendidikan nonformal menyediakan kelas seni musik klasik. “Tidak semua lembaga kursus buka kelas pianis klasik,” ungkap Yopie, Selasa (12/1).

Mobile_AP_Rectangle 2

Di samping itu, tidak sedikit pula para pengajar les piano klasik yang diselenggarakan oleh pengajar perorangan. Sehingga keberadaannya tidak terdeteksi. “Umumnya, para pengajar piano klasik yang mengajar secara solois ini tidak mau ter-show up,” kata Yopie.

Jumlahnya pun mengalami penurunan. Di salah satu lembaga belajar musik, Purwacaraka misalnya, hanya 40 persen dari jumlah keseluruhan jumlah pelajar yang mencapai lebih dari 100 siswa. Jumlah ini memungkinkan untuk berkurang. Sebab, dalam prosesnya para pelajar akan mendapatkan pengarahan tendensi jenis musik yang lebih cocok.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Eksistensi seniman musik klasik semakin langka. Tak terkecuali di Jember. Keberadaan pianis klasik masih sangat bisa dihitung jari, alias tidak sampai lebih dari sepuluh. Selain itu, para pianis klasik ini tidak memiliki komunitas yang mewadahi. Perhatian dari daerah pun sangat minim. Hal ini terlihat dengan intensitas acara yang diselenggarakan.

Salah satu pianis klasik di Jember, Yopie Octovia, menyebut bahwa pergelaran yang mengumpulkan pianis klasik di Jember terakhir digelar pada lima tahun silam. Sebagai alternatif untuk tetap eksis, beberapa seniman memutuskan melakukan tur di kota lain seperti Surabaya dan Yogyakarta. Cara lain yang digunakan sebagai alternatifnya adalah menggelar home concert yang biasanya diadakan oleh lembaga les musik.

Para seniman didominasi oleh rentang usia di atas 25 tahun. Sedangkan yang berusia pelajar masih belum tampak keberadaannya. Sayangnya, tak semua lembaga pendidikan nonformal menyediakan kelas seni musik klasik. “Tidak semua lembaga kursus buka kelas pianis klasik,” ungkap Yopie, Selasa (12/1).

Di samping itu, tidak sedikit pula para pengajar les piano klasik yang diselenggarakan oleh pengajar perorangan. Sehingga keberadaannya tidak terdeteksi. “Umumnya, para pengajar piano klasik yang mengajar secara solois ini tidak mau ter-show up,” kata Yopie.

Jumlahnya pun mengalami penurunan. Di salah satu lembaga belajar musik, Purwacaraka misalnya, hanya 40 persen dari jumlah keseluruhan jumlah pelajar yang mencapai lebih dari 100 siswa. Jumlah ini memungkinkan untuk berkurang. Sebab, dalam prosesnya para pelajar akan mendapatkan pengarahan tendensi jenis musik yang lebih cocok.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Eksistensi seniman musik klasik semakin langka. Tak terkecuali di Jember. Keberadaan pianis klasik masih sangat bisa dihitung jari, alias tidak sampai lebih dari sepuluh. Selain itu, para pianis klasik ini tidak memiliki komunitas yang mewadahi. Perhatian dari daerah pun sangat minim. Hal ini terlihat dengan intensitas acara yang diselenggarakan.

Salah satu pianis klasik di Jember, Yopie Octovia, menyebut bahwa pergelaran yang mengumpulkan pianis klasik di Jember terakhir digelar pada lima tahun silam. Sebagai alternatif untuk tetap eksis, beberapa seniman memutuskan melakukan tur di kota lain seperti Surabaya dan Yogyakarta. Cara lain yang digunakan sebagai alternatifnya adalah menggelar home concert yang biasanya diadakan oleh lembaga les musik.

Para seniman didominasi oleh rentang usia di atas 25 tahun. Sedangkan yang berusia pelajar masih belum tampak keberadaannya. Sayangnya, tak semua lembaga pendidikan nonformal menyediakan kelas seni musik klasik. “Tidak semua lembaga kursus buka kelas pianis klasik,” ungkap Yopie, Selasa (12/1).

Di samping itu, tidak sedikit pula para pengajar les piano klasik yang diselenggarakan oleh pengajar perorangan. Sehingga keberadaannya tidak terdeteksi. “Umumnya, para pengajar piano klasik yang mengajar secara solois ini tidak mau ter-show up,” kata Yopie.

Jumlahnya pun mengalami penurunan. Di salah satu lembaga belajar musik, Purwacaraka misalnya, hanya 40 persen dari jumlah keseluruhan jumlah pelajar yang mencapai lebih dari 100 siswa. Jumlah ini memungkinkan untuk berkurang. Sebab, dalam prosesnya para pelajar akan mendapatkan pengarahan tendensi jenis musik yang lebih cocok.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/