alexametrics
23 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Sudah Tiga Tahun, SK Ormawa Belum Turun

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Puluhan mahasiswa Universitas Jember (Unej) Bondowoso menggelar aksi di depan gedung Rektorat Universitas Jember, Rabu (11/12) kemarin. Mereka menuntut pihak kampus agar segera mengesahkan Surat Keputusan (SK) Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus Unej cabang Bondowoso.

Dengan membentangkan banner berisikan tuntutan mereka, aksi tersebut dimulai dari depan double way Unej hingga berakhir di depan gedung Rektorat Unej. Dalam aksinya, mereka meminta bertemu langsung dengan pimpinan Unej untuk bisa menyampaikan aspirasinya. “Kebijakan kampus yang ada di Bondowoso itu sangat timpang. Seperti menduakan dan melihat sebelah mata,” kata Hendro Priyanto, koordinator lapangan (korlap) aksi.

Menurutnya, tidak diturunkannya SK dari Rektorat Unej itu membuat kegiatan mahasiswa sepi. Padahal, lanjut Hendro, kegiatan kemahasiswaan itu tidak lepas dari keberadaan UKM. Bahkan, dia meyakini, adanya ketimpangan regulasi yang menyebabkan UKM Unej Bondowoso sulit terbentuk. “Pihak Rekorat Unej Tegalboto seperti menganaktirikan mahasiswa Unej Bondowoso. Padahal, hampir sebagian besar mahasiswa menginginkan hal itu,” imbuh mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Unej tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dirinya memaparkan, ada sekitar 14 UKM yang sudah mengajukan SK, namun hingga hari ini belum juga turun. Menurutnya, sejak keberadaan Unej Bondowoso selama tiga tahun kemarin, mereka kesulitan dalam melakukan berbagai kegiatan. Padahal, hal itu dianggapnya cukup penting untuk pengembangan kapasitas mahasiswa.

Selain menuntut ketegasan regulasi UKM, dalam aksinya, mereka juga meminta ketegasan pihak rektorat dalam menangani isu radikalisme. Sebab, selama ini dianggapnya masih adem ayem. Ia menilai rektorat belum memunculkan iktikad baik dalam penanganan isu radikalisme. Padahal, dalam paparan LP3M Unej beberapa pekan kemarin, angka 22 persen itu dianggap bukan angka yang sedikit.

Ia juga meminta pihak kampus agar segera membentuk tim khusus. Sebab, dikhawatirkan akan semakin membuat kegaduhan dan meresahkan bagi mahasiswa Unej secara umum. “Itu perlu penindakan sampai ke akar-akarnya. Jika tidak, itu akan menjadi problem akut dalam tubuh Unej sendiri,” tegasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Puluhan mahasiswa Universitas Jember (Unej) Bondowoso menggelar aksi di depan gedung Rektorat Universitas Jember, Rabu (11/12) kemarin. Mereka menuntut pihak kampus agar segera mengesahkan Surat Keputusan (SK) Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus Unej cabang Bondowoso.

Dengan membentangkan banner berisikan tuntutan mereka, aksi tersebut dimulai dari depan double way Unej hingga berakhir di depan gedung Rektorat Unej. Dalam aksinya, mereka meminta bertemu langsung dengan pimpinan Unej untuk bisa menyampaikan aspirasinya. “Kebijakan kampus yang ada di Bondowoso itu sangat timpang. Seperti menduakan dan melihat sebelah mata,” kata Hendro Priyanto, koordinator lapangan (korlap) aksi.

Menurutnya, tidak diturunkannya SK dari Rektorat Unej itu membuat kegiatan mahasiswa sepi. Padahal, lanjut Hendro, kegiatan kemahasiswaan itu tidak lepas dari keberadaan UKM. Bahkan, dia meyakini, adanya ketimpangan regulasi yang menyebabkan UKM Unej Bondowoso sulit terbentuk. “Pihak Rekorat Unej Tegalboto seperti menganaktirikan mahasiswa Unej Bondowoso. Padahal, hampir sebagian besar mahasiswa menginginkan hal itu,” imbuh mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Unej tersebut.

Dirinya memaparkan, ada sekitar 14 UKM yang sudah mengajukan SK, namun hingga hari ini belum juga turun. Menurutnya, sejak keberadaan Unej Bondowoso selama tiga tahun kemarin, mereka kesulitan dalam melakukan berbagai kegiatan. Padahal, hal itu dianggapnya cukup penting untuk pengembangan kapasitas mahasiswa.

Selain menuntut ketegasan regulasi UKM, dalam aksinya, mereka juga meminta ketegasan pihak rektorat dalam menangani isu radikalisme. Sebab, selama ini dianggapnya masih adem ayem. Ia menilai rektorat belum memunculkan iktikad baik dalam penanganan isu radikalisme. Padahal, dalam paparan LP3M Unej beberapa pekan kemarin, angka 22 persen itu dianggap bukan angka yang sedikit.

Ia juga meminta pihak kampus agar segera membentuk tim khusus. Sebab, dikhawatirkan akan semakin membuat kegaduhan dan meresahkan bagi mahasiswa Unej secara umum. “Itu perlu penindakan sampai ke akar-akarnya. Jika tidak, itu akan menjadi problem akut dalam tubuh Unej sendiri,” tegasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Puluhan mahasiswa Universitas Jember (Unej) Bondowoso menggelar aksi di depan gedung Rektorat Universitas Jember, Rabu (11/12) kemarin. Mereka menuntut pihak kampus agar segera mengesahkan Surat Keputusan (SK) Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus Unej cabang Bondowoso.

Dengan membentangkan banner berisikan tuntutan mereka, aksi tersebut dimulai dari depan double way Unej hingga berakhir di depan gedung Rektorat Unej. Dalam aksinya, mereka meminta bertemu langsung dengan pimpinan Unej untuk bisa menyampaikan aspirasinya. “Kebijakan kampus yang ada di Bondowoso itu sangat timpang. Seperti menduakan dan melihat sebelah mata,” kata Hendro Priyanto, koordinator lapangan (korlap) aksi.

Menurutnya, tidak diturunkannya SK dari Rektorat Unej itu membuat kegiatan mahasiswa sepi. Padahal, lanjut Hendro, kegiatan kemahasiswaan itu tidak lepas dari keberadaan UKM. Bahkan, dia meyakini, adanya ketimpangan regulasi yang menyebabkan UKM Unej Bondowoso sulit terbentuk. “Pihak Rekorat Unej Tegalboto seperti menganaktirikan mahasiswa Unej Bondowoso. Padahal, hampir sebagian besar mahasiswa menginginkan hal itu,” imbuh mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Unej tersebut.

Dirinya memaparkan, ada sekitar 14 UKM yang sudah mengajukan SK, namun hingga hari ini belum juga turun. Menurutnya, sejak keberadaan Unej Bondowoso selama tiga tahun kemarin, mereka kesulitan dalam melakukan berbagai kegiatan. Padahal, hal itu dianggapnya cukup penting untuk pengembangan kapasitas mahasiswa.

Selain menuntut ketegasan regulasi UKM, dalam aksinya, mereka juga meminta ketegasan pihak rektorat dalam menangani isu radikalisme. Sebab, selama ini dianggapnya masih adem ayem. Ia menilai rektorat belum memunculkan iktikad baik dalam penanganan isu radikalisme. Padahal, dalam paparan LP3M Unej beberapa pekan kemarin, angka 22 persen itu dianggap bukan angka yang sedikit.

Ia juga meminta pihak kampus agar segera membentuk tim khusus. Sebab, dikhawatirkan akan semakin membuat kegaduhan dan meresahkan bagi mahasiswa Unej secara umum. “Itu perlu penindakan sampai ke akar-akarnya. Jika tidak, itu akan menjadi problem akut dalam tubuh Unej sendiri,” tegasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/