alexametrics
23 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Nyawa di Ujung Tanduk, Pasrahkan Hidup pada Tuhan

Peristiwa 45 tahun lalu masih terbayang di ingatan Kaprawi. Kala itu, veteran perang Seroja di Timor Timur (sekarang Timor Leste) ini masih berstatus sebagai prajurit. Selama sembilan bulan, Kaprawi terjun di medan perang. Bagi dia, menjadi tentara adalah pertaruhan antara hidup dan mati.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kaprawi memandangi langit-langit rumahnya. Dia seperti mengais sisa-sisa ingatan tentang perang yang terjadi hampir setengah abad lalu. Letusan bom dan suara desing peluru seolah masih membayang. Deru napasnya terdengar cukup berat. Entah apa yang dia ingat.

“Pada situasi perang, semua prajurit harus siaga. Karena pertempuran bisa meletus sewaktu-waktu,” kata veteran 77 tahun tersebut, mengawali kisahnya. Selama bertugas di Timor Timur, Kaprawi ditempatkan di barisan tengah. Tidak di depan, juga tidak di belakang. Ini adalah posisi yang cukup aman baginya.

Saat berperang, Kaprawi tidak diperbolehkan memakai seragam tentara. Ia justru diwajibkan memakai baju preman. “Waktu itu memang seperti itu aturannya,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Peperangan itu semakin memanas ketika timnya diadu dengan pasukan Portugis. Saat itu, persenjataan Kaprawi dan prajurit lainnya masih minim. Karena itu, beberapa rekannya yang ada di barisan depan gugur di medan perang. Ia pun bersyukur masih diberi keselamatan hingga pulang ke rumah dan bertemu dengan anak dan istrinya.

Bagi Kaprawi, prinsip yang dipegang adalah tetap dan istiqamah beribadah, serta meminta perlindungan kepada Tuhan. “Saya tidak bisa berharap apa pun lagi. Perlindungan saya serahkan kepada Tuhan,” ungkap veteran yang sekarang tinggal di Perumahan Sumbersari Permai 1, Kelurahan Kranjingan, Kecamatan Sumbersari, itu.

Kaprawi adalah prajurit biasa. Dia lahir dari kalangan keluarga sederhana. Orang tuanya tak memiliki garis keturunan ningrat atau pejabat. Meski begitu, kondisi ini tidak menyurutkan niat Kaprawi remaja untuk menjadi seorang anggota militer. Akhirnya, cita-citanya itu terwujud pada 1964. Dia diterima sebagai seorang serdadu.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kaprawi memandangi langit-langit rumahnya. Dia seperti mengais sisa-sisa ingatan tentang perang yang terjadi hampir setengah abad lalu. Letusan bom dan suara desing peluru seolah masih membayang. Deru napasnya terdengar cukup berat. Entah apa yang dia ingat.

“Pada situasi perang, semua prajurit harus siaga. Karena pertempuran bisa meletus sewaktu-waktu,” kata veteran 77 tahun tersebut, mengawali kisahnya. Selama bertugas di Timor Timur, Kaprawi ditempatkan di barisan tengah. Tidak di depan, juga tidak di belakang. Ini adalah posisi yang cukup aman baginya.

Saat berperang, Kaprawi tidak diperbolehkan memakai seragam tentara. Ia justru diwajibkan memakai baju preman. “Waktu itu memang seperti itu aturannya,” ungkapnya.

Peperangan itu semakin memanas ketika timnya diadu dengan pasukan Portugis. Saat itu, persenjataan Kaprawi dan prajurit lainnya masih minim. Karena itu, beberapa rekannya yang ada di barisan depan gugur di medan perang. Ia pun bersyukur masih diberi keselamatan hingga pulang ke rumah dan bertemu dengan anak dan istrinya.

Bagi Kaprawi, prinsip yang dipegang adalah tetap dan istiqamah beribadah, serta meminta perlindungan kepada Tuhan. “Saya tidak bisa berharap apa pun lagi. Perlindungan saya serahkan kepada Tuhan,” ungkap veteran yang sekarang tinggal di Perumahan Sumbersari Permai 1, Kelurahan Kranjingan, Kecamatan Sumbersari, itu.

Kaprawi adalah prajurit biasa. Dia lahir dari kalangan keluarga sederhana. Orang tuanya tak memiliki garis keturunan ningrat atau pejabat. Meski begitu, kondisi ini tidak menyurutkan niat Kaprawi remaja untuk menjadi seorang anggota militer. Akhirnya, cita-citanya itu terwujud pada 1964. Dia diterima sebagai seorang serdadu.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kaprawi memandangi langit-langit rumahnya. Dia seperti mengais sisa-sisa ingatan tentang perang yang terjadi hampir setengah abad lalu. Letusan bom dan suara desing peluru seolah masih membayang. Deru napasnya terdengar cukup berat. Entah apa yang dia ingat.

“Pada situasi perang, semua prajurit harus siaga. Karena pertempuran bisa meletus sewaktu-waktu,” kata veteran 77 tahun tersebut, mengawali kisahnya. Selama bertugas di Timor Timur, Kaprawi ditempatkan di barisan tengah. Tidak di depan, juga tidak di belakang. Ini adalah posisi yang cukup aman baginya.

Saat berperang, Kaprawi tidak diperbolehkan memakai seragam tentara. Ia justru diwajibkan memakai baju preman. “Waktu itu memang seperti itu aturannya,” ungkapnya.

Peperangan itu semakin memanas ketika timnya diadu dengan pasukan Portugis. Saat itu, persenjataan Kaprawi dan prajurit lainnya masih minim. Karena itu, beberapa rekannya yang ada di barisan depan gugur di medan perang. Ia pun bersyukur masih diberi keselamatan hingga pulang ke rumah dan bertemu dengan anak dan istrinya.

Bagi Kaprawi, prinsip yang dipegang adalah tetap dan istiqamah beribadah, serta meminta perlindungan kepada Tuhan. “Saya tidak bisa berharap apa pun lagi. Perlindungan saya serahkan kepada Tuhan,” ungkap veteran yang sekarang tinggal di Perumahan Sumbersari Permai 1, Kelurahan Kranjingan, Kecamatan Sumbersari, itu.

Kaprawi adalah prajurit biasa. Dia lahir dari kalangan keluarga sederhana. Orang tuanya tak memiliki garis keturunan ningrat atau pejabat. Meski begitu, kondisi ini tidak menyurutkan niat Kaprawi remaja untuk menjadi seorang anggota militer. Akhirnya, cita-citanya itu terwujud pada 1964. Dia diterima sebagai seorang serdadu.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/