alexametrics
31.8 C
Jember
Tuesday, 16 August 2022

Tak Bisa Sendiri, Libatkan Masyarakat

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Keindahan pantai selatan Jember yang didukung pembangunan jalur lintas selatan (JLS) menyimpan misteri. Ada potensi gempa megathrust yang bisa mendatangkan tsunami setinggi 20 meter. Pesisir selatan Jember diprediksi tak luput dari bencana tersebut. Bagaimana kesiapsiagaan pemerintah dan masyarakat bila itu terjadi?

DWI SISWANTO

Jalan itu mulus dan rata. Aspalnya hitam pekat. Namun, masih terlihat sepi. Belum banyak kendaraan lalu lalang. Inilah kondisi JLS yang belum sepenuhnya difungsikan tersebut. Sore itu, hanya beberapa anak muda yang terlihat sedang kongkow di sepanjang JLS. Semilir angin pantai dan deburan ombak, seolah menambah nikmat dan membuat mereka betah berlama-lama.

Mobile_AP_Rectangle 2

Para pemuda itu seolah tak mengkhawatirkan peringatan dini terjadinya gelombang tinggi yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Mereka juga tampak tak merisaukan hasil riset Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, Geofisika (BMKG) terkait potensi gempa dan tsunami. Menurut riset berbasis data BMKG dan GPS itu, tsunami setinggi 20 meter dapat menghantam Pulau Jawa. Tepatnya pantai selatan Jawa Barat. Sementara itu, tsunami setinggi 12 meter dapat melanda selatan Jawa Timur, termasuk di pesisir selatan Jember.

Ketenangan para pemuda ternyata berbeda dengan yang dirasakan Heru Widagdo. Kala itu, Jumat (9/10), Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember ini tengah meninjau Plawangan di Pantai Pancer, Kecamatan Puger. Pria asal Lamongan tersebut juga menengok Pantai Watu Ulo, Kecamatan Ambulu. Heru merasa merinding bila berdekatan dengan ombak besar di pantai selatan. Apalagi, bila tsunami 20 meter benar-benar terjadi. Pasti jauh lebih mengerikan.

Menurutnya, riset tentang gempa megathrust dengan tsunami 20 meter itu memang berpotensi terjadi. “Kalau gempa berkekuatan besar dan tsunami memang punya potensinya. Tapi kapan waktunya terjadi dan pastinya kekuatannya seperti apa, belum tahu. Potensi semua itu memang ada,” terangnya.

Dia pun membuka peta potensi bencana tsunami di wilayah Jember. Bukan menunjuk wilayah dataran, tapi Heru menunjuk perairan selatan Pulau Jawa yang terdapat lempeng tektonik. “Ini lho, ada palungnya. Ini yang membuat potensi gempa besar dan tsunami besar itu ada di selatan Jember,” katanya.

Dari peta tersebut terdapat garis merah yang menunjukan wilayah yang akan terdampak tsunami. Hampir seluruh bibir pantai selatan Jember. Tapi, paling terdampak adalah wilayah Puger, hingga Paseban, Kencong. Selain itu, Pantai Watu Ulo yang berada di Desa Sumberejo, Ambulu. Payangan, Ambulu, dan Pantai Bandealit yang masuk kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) Kecamatan Tempurejo.

Peta yang dimiliki BPBD tersebut juga tidak jauh berbeda dengan peta potensi tsunami di Jember yang dikeluarkan oleh Pusat Ruang Angkasa Jerman (DLR) dalam rangka kerja sama Jerman-Indonesia untuk sistem peringatan dini tsunami (Gitews). Potensi tinggi tsunami tersebut cukup jauh masuk ke daratan wilayah Puger. Bahkan, hingga ke Kecong dan Gumukmas. Namun, Heru mengaku, saat survei ke masyarakat tentang peringatan dini gelombang tinggi, warga Puger tak merasa khawatir sama sekali. “Mereka anggap biasa saja,” terangnya.

Hal itu senada dengan apa yang dirasakan Rudi Daniarto, Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jember. Pejabat yang membidangi mitigasi bencana tersebut mengaku, sejak ada informasi terjadi tsunami 20 meter, beberapa kepala desa dan camat sudah meminta diadakan sosialisasi ke warga. Tapi itu hanya ada di Desa Gumukmas dan Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas. Selain itu, ada warga yang resah di Desa Mayangan (Gumukmas), Mojosari (Puger), Cakru, dan Paseban (Kencong). “Kalau Puger tidak ada yang resah,” ungkapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Keindahan pantai selatan Jember yang didukung pembangunan jalur lintas selatan (JLS) menyimpan misteri. Ada potensi gempa megathrust yang bisa mendatangkan tsunami setinggi 20 meter. Pesisir selatan Jember diprediksi tak luput dari bencana tersebut. Bagaimana kesiapsiagaan pemerintah dan masyarakat bila itu terjadi?

DWI SISWANTO

Jalan itu mulus dan rata. Aspalnya hitam pekat. Namun, masih terlihat sepi. Belum banyak kendaraan lalu lalang. Inilah kondisi JLS yang belum sepenuhnya difungsikan tersebut. Sore itu, hanya beberapa anak muda yang terlihat sedang kongkow di sepanjang JLS. Semilir angin pantai dan deburan ombak, seolah menambah nikmat dan membuat mereka betah berlama-lama.

Para pemuda itu seolah tak mengkhawatirkan peringatan dini terjadinya gelombang tinggi yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Mereka juga tampak tak merisaukan hasil riset Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, Geofisika (BMKG) terkait potensi gempa dan tsunami. Menurut riset berbasis data BMKG dan GPS itu, tsunami setinggi 20 meter dapat menghantam Pulau Jawa. Tepatnya pantai selatan Jawa Barat. Sementara itu, tsunami setinggi 12 meter dapat melanda selatan Jawa Timur, termasuk di pesisir selatan Jember.

Ketenangan para pemuda ternyata berbeda dengan yang dirasakan Heru Widagdo. Kala itu, Jumat (9/10), Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember ini tengah meninjau Plawangan di Pantai Pancer, Kecamatan Puger. Pria asal Lamongan tersebut juga menengok Pantai Watu Ulo, Kecamatan Ambulu. Heru merasa merinding bila berdekatan dengan ombak besar di pantai selatan. Apalagi, bila tsunami 20 meter benar-benar terjadi. Pasti jauh lebih mengerikan.

Menurutnya, riset tentang gempa megathrust dengan tsunami 20 meter itu memang berpotensi terjadi. “Kalau gempa berkekuatan besar dan tsunami memang punya potensinya. Tapi kapan waktunya terjadi dan pastinya kekuatannya seperti apa, belum tahu. Potensi semua itu memang ada,” terangnya.

Dia pun membuka peta potensi bencana tsunami di wilayah Jember. Bukan menunjuk wilayah dataran, tapi Heru menunjuk perairan selatan Pulau Jawa yang terdapat lempeng tektonik. “Ini lho, ada palungnya. Ini yang membuat potensi gempa besar dan tsunami besar itu ada di selatan Jember,” katanya.

Dari peta tersebut terdapat garis merah yang menunjukan wilayah yang akan terdampak tsunami. Hampir seluruh bibir pantai selatan Jember. Tapi, paling terdampak adalah wilayah Puger, hingga Paseban, Kencong. Selain itu, Pantai Watu Ulo yang berada di Desa Sumberejo, Ambulu. Payangan, Ambulu, dan Pantai Bandealit yang masuk kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) Kecamatan Tempurejo.

Peta yang dimiliki BPBD tersebut juga tidak jauh berbeda dengan peta potensi tsunami di Jember yang dikeluarkan oleh Pusat Ruang Angkasa Jerman (DLR) dalam rangka kerja sama Jerman-Indonesia untuk sistem peringatan dini tsunami (Gitews). Potensi tinggi tsunami tersebut cukup jauh masuk ke daratan wilayah Puger. Bahkan, hingga ke Kecong dan Gumukmas. Namun, Heru mengaku, saat survei ke masyarakat tentang peringatan dini gelombang tinggi, warga Puger tak merasa khawatir sama sekali. “Mereka anggap biasa saja,” terangnya.

Hal itu senada dengan apa yang dirasakan Rudi Daniarto, Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jember. Pejabat yang membidangi mitigasi bencana tersebut mengaku, sejak ada informasi terjadi tsunami 20 meter, beberapa kepala desa dan camat sudah meminta diadakan sosialisasi ke warga. Tapi itu hanya ada di Desa Gumukmas dan Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas. Selain itu, ada warga yang resah di Desa Mayangan (Gumukmas), Mojosari (Puger), Cakru, dan Paseban (Kencong). “Kalau Puger tidak ada yang resah,” ungkapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Keindahan pantai selatan Jember yang didukung pembangunan jalur lintas selatan (JLS) menyimpan misteri. Ada potensi gempa megathrust yang bisa mendatangkan tsunami setinggi 20 meter. Pesisir selatan Jember diprediksi tak luput dari bencana tersebut. Bagaimana kesiapsiagaan pemerintah dan masyarakat bila itu terjadi?

DWI SISWANTO

Jalan itu mulus dan rata. Aspalnya hitam pekat. Namun, masih terlihat sepi. Belum banyak kendaraan lalu lalang. Inilah kondisi JLS yang belum sepenuhnya difungsikan tersebut. Sore itu, hanya beberapa anak muda yang terlihat sedang kongkow di sepanjang JLS. Semilir angin pantai dan deburan ombak, seolah menambah nikmat dan membuat mereka betah berlama-lama.

Para pemuda itu seolah tak mengkhawatirkan peringatan dini terjadinya gelombang tinggi yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Mereka juga tampak tak merisaukan hasil riset Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, Geofisika (BMKG) terkait potensi gempa dan tsunami. Menurut riset berbasis data BMKG dan GPS itu, tsunami setinggi 20 meter dapat menghantam Pulau Jawa. Tepatnya pantai selatan Jawa Barat. Sementara itu, tsunami setinggi 12 meter dapat melanda selatan Jawa Timur, termasuk di pesisir selatan Jember.

Ketenangan para pemuda ternyata berbeda dengan yang dirasakan Heru Widagdo. Kala itu, Jumat (9/10), Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember ini tengah meninjau Plawangan di Pantai Pancer, Kecamatan Puger. Pria asal Lamongan tersebut juga menengok Pantai Watu Ulo, Kecamatan Ambulu. Heru merasa merinding bila berdekatan dengan ombak besar di pantai selatan. Apalagi, bila tsunami 20 meter benar-benar terjadi. Pasti jauh lebih mengerikan.

Menurutnya, riset tentang gempa megathrust dengan tsunami 20 meter itu memang berpotensi terjadi. “Kalau gempa berkekuatan besar dan tsunami memang punya potensinya. Tapi kapan waktunya terjadi dan pastinya kekuatannya seperti apa, belum tahu. Potensi semua itu memang ada,” terangnya.

Dia pun membuka peta potensi bencana tsunami di wilayah Jember. Bukan menunjuk wilayah dataran, tapi Heru menunjuk perairan selatan Pulau Jawa yang terdapat lempeng tektonik. “Ini lho, ada palungnya. Ini yang membuat potensi gempa besar dan tsunami besar itu ada di selatan Jember,” katanya.

Dari peta tersebut terdapat garis merah yang menunjukan wilayah yang akan terdampak tsunami. Hampir seluruh bibir pantai selatan Jember. Tapi, paling terdampak adalah wilayah Puger, hingga Paseban, Kencong. Selain itu, Pantai Watu Ulo yang berada di Desa Sumberejo, Ambulu. Payangan, Ambulu, dan Pantai Bandealit yang masuk kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) Kecamatan Tempurejo.

Peta yang dimiliki BPBD tersebut juga tidak jauh berbeda dengan peta potensi tsunami di Jember yang dikeluarkan oleh Pusat Ruang Angkasa Jerman (DLR) dalam rangka kerja sama Jerman-Indonesia untuk sistem peringatan dini tsunami (Gitews). Potensi tinggi tsunami tersebut cukup jauh masuk ke daratan wilayah Puger. Bahkan, hingga ke Kecong dan Gumukmas. Namun, Heru mengaku, saat survei ke masyarakat tentang peringatan dini gelombang tinggi, warga Puger tak merasa khawatir sama sekali. “Mereka anggap biasa saja,” terangnya.

Hal itu senada dengan apa yang dirasakan Rudi Daniarto, Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jember. Pejabat yang membidangi mitigasi bencana tersebut mengaku, sejak ada informasi terjadi tsunami 20 meter, beberapa kepala desa dan camat sudah meminta diadakan sosialisasi ke warga. Tapi itu hanya ada di Desa Gumukmas dan Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas. Selain itu, ada warga yang resah di Desa Mayangan (Gumukmas), Mojosari (Puger), Cakru, dan Paseban (Kencong). “Kalau Puger tidak ada yang resah,” ungkapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/