alexametrics
22.3 C
Jember
Tuesday, 9 August 2022

Mengenang Tragedi Jumat Awal Juni

Dampak Tsunami 1994 Sisakan Trauma

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kamis malam Jumat itu, Ngadi bersama tujuh rekannya sedang membakar ikan di bibir Pantai Watu Ulo. Mereka sudah sepakat tidak akan tidur semalaman. Kebiasaan yang disebut melekan tiap malam Jumat ini, seolah menjadi tradisi bagi masyarakat pesisir. Namun, malam itu situasinya berbeda. Sebuah bencana tiba-tiba melanda. Ngadi bersama kawan-kawannya harus berjuang menyelamatkan diri dari kepungan Tsunami.

Di malam itu, pria yang saat ini menjadi Kepala Dusun Watu Ulo, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, tersebut nyaris disapu tsunami bersama tujuh rekannya.  Mereka berhamburan berlari sejauh mungkin menghindari terjangan ombak. Rasa panik dan khawatir bercampur aduk. Sebab, saat itu Ngadi dan teman-temannya berada sekitar 70 meter dari bibir pantai. Jarak yang cukup dekat.

Beruntung, Ngadi dan kawan-kawannya berhasil menyelamatkan diri. Tak ada yang luka atau tersapu ombak. Rumahnya yang berada di wilayah Watu Ulo juga aman. Namun, di daerah Payangan, tak jauh dari tempatnya berdiri, terdapat 11 rumah yang tersapu ombak. Binatang ternak milik masyarakat juga ada yang mati. Banyak rumah-rumah porak-poranda. “Sebelumnya memang ombak laut itu pasang. Tapi, kami tak menduga akan ada tsunami,” kata Ngadi, mengenang tragedi yang terjadi 1994 tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Jember dilanda tsunami pada sembilan titik yang tersebar di enam kecamatan. Yaitu, di Dusun Bandealit, Desa Andongrejo, Kecamatan Tempurejo. Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu. Desa Lojejer dan Pantai Papuma di Kecamatan Wuluhan. Sedangkan di wilayah Kecamatan Puger, tsunami menerjang tiga kawasan pesisir, yakni Desa Puger Kulon, Puger Wetan, dan Mojomulyo. Dua wilayah sisanya adalah di Desa Paseban, Kecamatan Kencong, dan Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas.

Bencana ini sebenarnya imbas  tsunami yang menerjang Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi.  Tragedi itu terjadi Jumat 3 Juni 1994 sekitar pukul 02.00 WIB. Tsunami Pancer muncul setelah adanya gempa bumi tektonik yang berpusat di Samudera Hindia, tujuh jam sebelumnya. Kemudian, tsunami menghantam pesisir selatan Jawa Timur bagian timur, khususnya di Kabupaten Banyuwangi, dan berimbas hingga ke pesisir selatan Jember.

Matori, penjual ikan bakar di Pantai Pancer, Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, juga masih ingat betul tragedi itu. Kala itu, dia mengatakan, perahu-perahu yang berjejer di bibir pantai saling bertabrakan. Sebagian besar terbalik. Bahkan ada beberapa perahu dan kapal nelayan hancur total. Warung-warung kecil yang berjajar di bibir pantai hancur. Tak ada yang tersisa.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kamis malam Jumat itu, Ngadi bersama tujuh rekannya sedang membakar ikan di bibir Pantai Watu Ulo. Mereka sudah sepakat tidak akan tidur semalaman. Kebiasaan yang disebut melekan tiap malam Jumat ini, seolah menjadi tradisi bagi masyarakat pesisir. Namun, malam itu situasinya berbeda. Sebuah bencana tiba-tiba melanda. Ngadi bersama kawan-kawannya harus berjuang menyelamatkan diri dari kepungan Tsunami.

Di malam itu, pria yang saat ini menjadi Kepala Dusun Watu Ulo, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, tersebut nyaris disapu tsunami bersama tujuh rekannya.  Mereka berhamburan berlari sejauh mungkin menghindari terjangan ombak. Rasa panik dan khawatir bercampur aduk. Sebab, saat itu Ngadi dan teman-temannya berada sekitar 70 meter dari bibir pantai. Jarak yang cukup dekat.

Beruntung, Ngadi dan kawan-kawannya berhasil menyelamatkan diri. Tak ada yang luka atau tersapu ombak. Rumahnya yang berada di wilayah Watu Ulo juga aman. Namun, di daerah Payangan, tak jauh dari tempatnya berdiri, terdapat 11 rumah yang tersapu ombak. Binatang ternak milik masyarakat juga ada yang mati. Banyak rumah-rumah porak-poranda. “Sebelumnya memang ombak laut itu pasang. Tapi, kami tak menduga akan ada tsunami,” kata Ngadi, mengenang tragedi yang terjadi 1994 tersebut.

Jember dilanda tsunami pada sembilan titik yang tersebar di enam kecamatan. Yaitu, di Dusun Bandealit, Desa Andongrejo, Kecamatan Tempurejo. Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu. Desa Lojejer dan Pantai Papuma di Kecamatan Wuluhan. Sedangkan di wilayah Kecamatan Puger, tsunami menerjang tiga kawasan pesisir, yakni Desa Puger Kulon, Puger Wetan, dan Mojomulyo. Dua wilayah sisanya adalah di Desa Paseban, Kecamatan Kencong, dan Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas.

Bencana ini sebenarnya imbas  tsunami yang menerjang Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi.  Tragedi itu terjadi Jumat 3 Juni 1994 sekitar pukul 02.00 WIB. Tsunami Pancer muncul setelah adanya gempa bumi tektonik yang berpusat di Samudera Hindia, tujuh jam sebelumnya. Kemudian, tsunami menghantam pesisir selatan Jawa Timur bagian timur, khususnya di Kabupaten Banyuwangi, dan berimbas hingga ke pesisir selatan Jember.

Matori, penjual ikan bakar di Pantai Pancer, Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, juga masih ingat betul tragedi itu. Kala itu, dia mengatakan, perahu-perahu yang berjejer di bibir pantai saling bertabrakan. Sebagian besar terbalik. Bahkan ada beberapa perahu dan kapal nelayan hancur total. Warung-warung kecil yang berjajar di bibir pantai hancur. Tak ada yang tersisa.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kamis malam Jumat itu, Ngadi bersama tujuh rekannya sedang membakar ikan di bibir Pantai Watu Ulo. Mereka sudah sepakat tidak akan tidur semalaman. Kebiasaan yang disebut melekan tiap malam Jumat ini, seolah menjadi tradisi bagi masyarakat pesisir. Namun, malam itu situasinya berbeda. Sebuah bencana tiba-tiba melanda. Ngadi bersama kawan-kawannya harus berjuang menyelamatkan diri dari kepungan Tsunami.

Di malam itu, pria yang saat ini menjadi Kepala Dusun Watu Ulo, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, tersebut nyaris disapu tsunami bersama tujuh rekannya.  Mereka berhamburan berlari sejauh mungkin menghindari terjangan ombak. Rasa panik dan khawatir bercampur aduk. Sebab, saat itu Ngadi dan teman-temannya berada sekitar 70 meter dari bibir pantai. Jarak yang cukup dekat.

Beruntung, Ngadi dan kawan-kawannya berhasil menyelamatkan diri. Tak ada yang luka atau tersapu ombak. Rumahnya yang berada di wilayah Watu Ulo juga aman. Namun, di daerah Payangan, tak jauh dari tempatnya berdiri, terdapat 11 rumah yang tersapu ombak. Binatang ternak milik masyarakat juga ada yang mati. Banyak rumah-rumah porak-poranda. “Sebelumnya memang ombak laut itu pasang. Tapi, kami tak menduga akan ada tsunami,” kata Ngadi, mengenang tragedi yang terjadi 1994 tersebut.

Jember dilanda tsunami pada sembilan titik yang tersebar di enam kecamatan. Yaitu, di Dusun Bandealit, Desa Andongrejo, Kecamatan Tempurejo. Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu. Desa Lojejer dan Pantai Papuma di Kecamatan Wuluhan. Sedangkan di wilayah Kecamatan Puger, tsunami menerjang tiga kawasan pesisir, yakni Desa Puger Kulon, Puger Wetan, dan Mojomulyo. Dua wilayah sisanya adalah di Desa Paseban, Kecamatan Kencong, dan Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas.

Bencana ini sebenarnya imbas  tsunami yang menerjang Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi.  Tragedi itu terjadi Jumat 3 Juni 1994 sekitar pukul 02.00 WIB. Tsunami Pancer muncul setelah adanya gempa bumi tektonik yang berpusat di Samudera Hindia, tujuh jam sebelumnya. Kemudian, tsunami menghantam pesisir selatan Jawa Timur bagian timur, khususnya di Kabupaten Banyuwangi, dan berimbas hingga ke pesisir selatan Jember.

Matori, penjual ikan bakar di Pantai Pancer, Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, juga masih ingat betul tragedi itu. Kala itu, dia mengatakan, perahu-perahu yang berjejer di bibir pantai saling bertabrakan. Sebagian besar terbalik. Bahkan ada beberapa perahu dan kapal nelayan hancur total. Warung-warung kecil yang berjajar di bibir pantai hancur. Tak ada yang tersisa.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/