alexametrics
22.9 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

Harus Siapkan Tempat Evakuasi Sementara

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat, setidaknya ada 11 kali tsunami di selatan Jawa sejak 1818 lalu, yang diawali di Banyuwangi. Jember juga pernah mengalami tsunami. Bagaimana kewaspadaan dan kesiapsiagaan pemerintah serta masyarakat menghadapi bencana yang berpotensi kembali terjadi ini?

Sebelum Indonesia merdeka, sisi selatan Jember pernah diterjang tsunami pada 1921 silam. Wilayah terdampak adalah Pantai Payangan, Kecamatan Ambulu, dan Pantai Bandealit, Kecamatan Tempurejo. Sementara pada 1994, tsunami yang menghantam Banyuwangi juga berimbas ke wilayah Jember.

Jurnal yang ditulis Wisyanto bisa memberi gambaran seperti apa tragedi itu terjadi. Jurnal berjudul Analisis Potensi Bahaya Tsunami di Pantai Selatan Jatim Identifikasi Kemiripan Bentuk Tapchan ini mencatat, Puger dan Kucur ketinggian gelombang mencapai 1,5-2 meter dengan air laut masuk daratan hingga 40 meter. Sedangkan Pantai Papuma tinggi 4 meter invasi 50 meter, Pantai Watu Ulo 4 meter invasi air laut capai ke daratan sejauh 60 meter, dan Payangan 4-5 meter dengan invasi maksimal 50 meter. Sementara, Bandealit 10 meter dengan invasi mencapai 300 meter.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jember Rudi Daniarto mengatakan, dalam mitigasi bencana, termasuk tsunami, memang ada istilah tempat evakuasi sementara (TES) dan tetap. Pembangunan selter untuk TES tersebut diharapkan dibangun di seluruh pesisir selatan Pulau Jawa yang punya potensi besar terhadap tsunami. Sayangnya, selter untuk TES itu baru ada di Pantai Pangandaran, Jawa Barat. “Setahu saya baru di Pangandaran, di Jatim saja tidak ada,” tuturnya.

TES menjadi penting, sebab saat terjadi tsunami, warga bisa menuju TES untuk menyelamatkan diri sebelum pindah ke tempat evakuasi tetap. Bila berbicara TES, menurut Rudi, wilayah yang tepat adanya selter atau gedung untuk TES di wilayah Puger. Sebab, banyak permukiman padat penduduk di wilayah Puger. Selain itu, dari peta bencana, invasi air laut akibat tsunami berpotensi lebih jauh daripada daerah lain.

Dia menjelaskan, dalam posisi terdapat gempa yang berpotensi tsunami, paling tidak titik kumpul sementara lokasinya agak jauh dari pantai. Setidaknya dua kilometer. Sedangkan untuk mencari daerah ketinggian, minimal 20 meter. “Tinggi 20 meter ke atas itu bisa dipakai untuk evakuasi sementara,” katanya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat, setidaknya ada 11 kali tsunami di selatan Jawa sejak 1818 lalu, yang diawali di Banyuwangi. Jember juga pernah mengalami tsunami. Bagaimana kewaspadaan dan kesiapsiagaan pemerintah serta masyarakat menghadapi bencana yang berpotensi kembali terjadi ini?

Sebelum Indonesia merdeka, sisi selatan Jember pernah diterjang tsunami pada 1921 silam. Wilayah terdampak adalah Pantai Payangan, Kecamatan Ambulu, dan Pantai Bandealit, Kecamatan Tempurejo. Sementara pada 1994, tsunami yang menghantam Banyuwangi juga berimbas ke wilayah Jember.

Jurnal yang ditulis Wisyanto bisa memberi gambaran seperti apa tragedi itu terjadi. Jurnal berjudul Analisis Potensi Bahaya Tsunami di Pantai Selatan Jatim Identifikasi Kemiripan Bentuk Tapchan ini mencatat, Puger dan Kucur ketinggian gelombang mencapai 1,5-2 meter dengan air laut masuk daratan hingga 40 meter. Sedangkan Pantai Papuma tinggi 4 meter invasi 50 meter, Pantai Watu Ulo 4 meter invasi air laut capai ke daratan sejauh 60 meter, dan Payangan 4-5 meter dengan invasi maksimal 50 meter. Sementara, Bandealit 10 meter dengan invasi mencapai 300 meter.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jember Rudi Daniarto mengatakan, dalam mitigasi bencana, termasuk tsunami, memang ada istilah tempat evakuasi sementara (TES) dan tetap. Pembangunan selter untuk TES tersebut diharapkan dibangun di seluruh pesisir selatan Pulau Jawa yang punya potensi besar terhadap tsunami. Sayangnya, selter untuk TES itu baru ada di Pantai Pangandaran, Jawa Barat. “Setahu saya baru di Pangandaran, di Jatim saja tidak ada,” tuturnya.

TES menjadi penting, sebab saat terjadi tsunami, warga bisa menuju TES untuk menyelamatkan diri sebelum pindah ke tempat evakuasi tetap. Bila berbicara TES, menurut Rudi, wilayah yang tepat adanya selter atau gedung untuk TES di wilayah Puger. Sebab, banyak permukiman padat penduduk di wilayah Puger. Selain itu, dari peta bencana, invasi air laut akibat tsunami berpotensi lebih jauh daripada daerah lain.

Dia menjelaskan, dalam posisi terdapat gempa yang berpotensi tsunami, paling tidak titik kumpul sementara lokasinya agak jauh dari pantai. Setidaknya dua kilometer. Sedangkan untuk mencari daerah ketinggian, minimal 20 meter. “Tinggi 20 meter ke atas itu bisa dipakai untuk evakuasi sementara,” katanya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat, setidaknya ada 11 kali tsunami di selatan Jawa sejak 1818 lalu, yang diawali di Banyuwangi. Jember juga pernah mengalami tsunami. Bagaimana kewaspadaan dan kesiapsiagaan pemerintah serta masyarakat menghadapi bencana yang berpotensi kembali terjadi ini?

Sebelum Indonesia merdeka, sisi selatan Jember pernah diterjang tsunami pada 1921 silam. Wilayah terdampak adalah Pantai Payangan, Kecamatan Ambulu, dan Pantai Bandealit, Kecamatan Tempurejo. Sementara pada 1994, tsunami yang menghantam Banyuwangi juga berimbas ke wilayah Jember.

Jurnal yang ditulis Wisyanto bisa memberi gambaran seperti apa tragedi itu terjadi. Jurnal berjudul Analisis Potensi Bahaya Tsunami di Pantai Selatan Jatim Identifikasi Kemiripan Bentuk Tapchan ini mencatat, Puger dan Kucur ketinggian gelombang mencapai 1,5-2 meter dengan air laut masuk daratan hingga 40 meter. Sedangkan Pantai Papuma tinggi 4 meter invasi 50 meter, Pantai Watu Ulo 4 meter invasi air laut capai ke daratan sejauh 60 meter, dan Payangan 4-5 meter dengan invasi maksimal 50 meter. Sementara, Bandealit 10 meter dengan invasi mencapai 300 meter.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jember Rudi Daniarto mengatakan, dalam mitigasi bencana, termasuk tsunami, memang ada istilah tempat evakuasi sementara (TES) dan tetap. Pembangunan selter untuk TES tersebut diharapkan dibangun di seluruh pesisir selatan Pulau Jawa yang punya potensi besar terhadap tsunami. Sayangnya, selter untuk TES itu baru ada di Pantai Pangandaran, Jawa Barat. “Setahu saya baru di Pangandaran, di Jatim saja tidak ada,” tuturnya.

TES menjadi penting, sebab saat terjadi tsunami, warga bisa menuju TES untuk menyelamatkan diri sebelum pindah ke tempat evakuasi tetap. Bila berbicara TES, menurut Rudi, wilayah yang tepat adanya selter atau gedung untuk TES di wilayah Puger. Sebab, banyak permukiman padat penduduk di wilayah Puger. Selain itu, dari peta bencana, invasi air laut akibat tsunami berpotensi lebih jauh daripada daerah lain.

Dia menjelaskan, dalam posisi terdapat gempa yang berpotensi tsunami, paling tidak titik kumpul sementara lokasinya agak jauh dari pantai. Setidaknya dua kilometer. Sedangkan untuk mencari daerah ketinggian, minimal 20 meter. “Tinggi 20 meter ke atas itu bisa dipakai untuk evakuasi sementara,” katanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/