alexametrics
23.9 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Sampai Menangis, Desak Pemerintah Sudahi Masalah Tambak

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Isak tangis Setiyo Ramires tak dapat dibendung saat menyampaikan keluhan di hadapan Bupati Jember Hendy Siswanto dan Wakil Bupati Jember MB Firjaun Barlaman di Aula Pendapa Wahyawibawagraha, kemarin (11/9) sore. Dia bersama tujuh warga lain datang ke pendopo untuk menyampaikan aspirasi terkait dengan sejumlah tambak udang di Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas, yang dinilai merusak mata pencaharian masyarakat sekitar.

Salah seorang perwakilan masyarakat Kepanjen tersebut menyatakan bahwa banyak masalah yang terjadi di Desa Kepanjen. “Masalahnya bukan dari masyarakat, tapi dari pengusaha tambak,” paparnya. Dengan munculnya banyak tambak, lanjutnya, masyarakat ndak diuntungkan malah dirugikan.

Pertama, tentang pembuangan limbah. “Kalau pas panen, memang ada limbah yang dibuang di gorong-gorong. Namun, hanya satu petak. Sisanya dibuang ke sungai,” paparnya. Akibatnya, laut tercemar dan ikan menjauh. Secara operasional, para nelayan harus menghabiskan bahan bakar lebih banyak karena perlu mencari ikan lebih ke tengah.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kedua, dia menegaskan bahwa uap yang dihasilkan mesin pengolahan tambak (kincir angin, Red) merusak lahan pertanian warga. “Kalau dikatakan menyerap tenaga kerja, memang benar. Namun, hanya segilintir, sedangkan mayoritas tersiksa,” tegasnya. Bahkan, dia mengungkapkan bahwa warga sempat ingin unjuk rasa jika tambak itu terus beroperasi.

Oleh karena itu, pihaknya berharap audiensi tersebut dapat menghasilkan jalan keluar agar menguntungkan masyarakat. “Sudilah bupati menertibkan dan menutup tambak kalau mereka tidak bisa menuntaskan masalah limbah,” ulasnya. Selain itu, pihaknya juga berharap ada tindak tegas dan kejelasan regulasi tata ruang agar pesisir pantai benar-benar menjadi cagar alam yang tak boleh dikelola oleh individu.

Jangan sampai, lanjutnya, hanya dinikmati oleh segelintir orang. Namun, malah merugikan masyarakat lain. Belum lagi, dia menegaskan bahwa sudah berulang-ulang melaporkan kejadian itu kepada pihak berwajib. “Tapi tak ada respon dari pihak terkait,” katanya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Isak tangis Setiyo Ramires tak dapat dibendung saat menyampaikan keluhan di hadapan Bupati Jember Hendy Siswanto dan Wakil Bupati Jember MB Firjaun Barlaman di Aula Pendapa Wahyawibawagraha, kemarin (11/9) sore. Dia bersama tujuh warga lain datang ke pendopo untuk menyampaikan aspirasi terkait dengan sejumlah tambak udang di Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas, yang dinilai merusak mata pencaharian masyarakat sekitar.

Salah seorang perwakilan masyarakat Kepanjen tersebut menyatakan bahwa banyak masalah yang terjadi di Desa Kepanjen. “Masalahnya bukan dari masyarakat, tapi dari pengusaha tambak,” paparnya. Dengan munculnya banyak tambak, lanjutnya, masyarakat ndak diuntungkan malah dirugikan.

Pertama, tentang pembuangan limbah. “Kalau pas panen, memang ada limbah yang dibuang di gorong-gorong. Namun, hanya satu petak. Sisanya dibuang ke sungai,” paparnya. Akibatnya, laut tercemar dan ikan menjauh. Secara operasional, para nelayan harus menghabiskan bahan bakar lebih banyak karena perlu mencari ikan lebih ke tengah.

Kedua, dia menegaskan bahwa uap yang dihasilkan mesin pengolahan tambak (kincir angin, Red) merusak lahan pertanian warga. “Kalau dikatakan menyerap tenaga kerja, memang benar. Namun, hanya segilintir, sedangkan mayoritas tersiksa,” tegasnya. Bahkan, dia mengungkapkan bahwa warga sempat ingin unjuk rasa jika tambak itu terus beroperasi.

Oleh karena itu, pihaknya berharap audiensi tersebut dapat menghasilkan jalan keluar agar menguntungkan masyarakat. “Sudilah bupati menertibkan dan menutup tambak kalau mereka tidak bisa menuntaskan masalah limbah,” ulasnya. Selain itu, pihaknya juga berharap ada tindak tegas dan kejelasan regulasi tata ruang agar pesisir pantai benar-benar menjadi cagar alam yang tak boleh dikelola oleh individu.

Jangan sampai, lanjutnya, hanya dinikmati oleh segelintir orang. Namun, malah merugikan masyarakat lain. Belum lagi, dia menegaskan bahwa sudah berulang-ulang melaporkan kejadian itu kepada pihak berwajib. “Tapi tak ada respon dari pihak terkait,” katanya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Isak tangis Setiyo Ramires tak dapat dibendung saat menyampaikan keluhan di hadapan Bupati Jember Hendy Siswanto dan Wakil Bupati Jember MB Firjaun Barlaman di Aula Pendapa Wahyawibawagraha, kemarin (11/9) sore. Dia bersama tujuh warga lain datang ke pendopo untuk menyampaikan aspirasi terkait dengan sejumlah tambak udang di Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas, yang dinilai merusak mata pencaharian masyarakat sekitar.

Salah seorang perwakilan masyarakat Kepanjen tersebut menyatakan bahwa banyak masalah yang terjadi di Desa Kepanjen. “Masalahnya bukan dari masyarakat, tapi dari pengusaha tambak,” paparnya. Dengan munculnya banyak tambak, lanjutnya, masyarakat ndak diuntungkan malah dirugikan.

Pertama, tentang pembuangan limbah. “Kalau pas panen, memang ada limbah yang dibuang di gorong-gorong. Namun, hanya satu petak. Sisanya dibuang ke sungai,” paparnya. Akibatnya, laut tercemar dan ikan menjauh. Secara operasional, para nelayan harus menghabiskan bahan bakar lebih banyak karena perlu mencari ikan lebih ke tengah.

Kedua, dia menegaskan bahwa uap yang dihasilkan mesin pengolahan tambak (kincir angin, Red) merusak lahan pertanian warga. “Kalau dikatakan menyerap tenaga kerja, memang benar. Namun, hanya segilintir, sedangkan mayoritas tersiksa,” tegasnya. Bahkan, dia mengungkapkan bahwa warga sempat ingin unjuk rasa jika tambak itu terus beroperasi.

Oleh karena itu, pihaknya berharap audiensi tersebut dapat menghasilkan jalan keluar agar menguntungkan masyarakat. “Sudilah bupati menertibkan dan menutup tambak kalau mereka tidak bisa menuntaskan masalah limbah,” ulasnya. Selain itu, pihaknya juga berharap ada tindak tegas dan kejelasan regulasi tata ruang agar pesisir pantai benar-benar menjadi cagar alam yang tak boleh dikelola oleh individu.

Jangan sampai, lanjutnya, hanya dinikmati oleh segelintir orang. Namun, malah merugikan masyarakat lain. Belum lagi, dia menegaskan bahwa sudah berulang-ulang melaporkan kejadian itu kepada pihak berwajib. “Tapi tak ada respon dari pihak terkait,” katanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/