alexametrics
26.4 C
Jember
Sunday, 23 January 2022

Dulu Identik Desa Pemabuk, Kini Punya Taman Baca Pelangi

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Saban sore dan pagi, gubuk berukuran 7 x 4 meter ini ramai didatangi anak- anak untuk belajar dan mengaji. Apalagi dimasa pandemi, gubuk yang bertempat di wilayah Gedong, Krajan 1 di Desa Grenden Kecamatan Puger ini semakin ramai. Anak-anak SD hingga mahasiswa yang yang rumahnya di sekitar Puger, datang kesana untuk meminjam buku, belajar kelompok bahkan diskusi organisasi.

Gubuk ini punya buku inventaris lebih dari 100 macam. Mulai dari buku keagamaan dan berbagai macam kitab, novel, buku pelajaran, hingga buku resep memasak untuk ibu-ibu. Gubuk sederhana yang disebut Taman Baca Pelangi ini buka 24 jam. Siapapun bisa mengakses fasilitas buku-buku yang tersedia.

Di hari Sabtu malam Minggu, Taman Baca Pelangi ini berubah menjadi tempat pensi mini. Menggelar aneka kegiatan musik muda mudi setempat. Tak lupa juga disematkan kegiatan salawat. Para ibu-ibu berbondong–bondong menonton, layaknya menonton konser di sebuah panggung megah.

Mobile_AP_Rectangle 2

Rupanya, ini adalah upanya teknik pendiri untuk mengajak muda- mudinya belajar salawat, melalui musik. Sekaligus mengoptimalkan fungsi Taman Baca Pelangi yang didirikannya.

Abdul Kholiq, 52, pendiri Taman Baca Pelangi mengatakan, adanya lokasi ini sebagai upaya mengubah citra desa dan meningkatkan kualitas SDM-nya. Awalnya, gagasan membangun taman baca ini diawali dari kondisi desa yang bisa dikatakan cukup kriminalis.

Muda–mudi di desanya banyak yang suka mabuk. Nyaris setiap malam, ada remaja yang teler, lalu tertidur di teras rumah-rumah warga. Bahkan di musala. Kasus kriminal meningkat. Pencurian ayam jadi hal biasa.

Pada tahun 2008, hampir semua pemuda tidak ada yang tamat SLTA. “Paling mentok SMP, itu pun gak sampai lulus,” kata Abdul Kholiq.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Saban sore dan pagi, gubuk berukuran 7 x 4 meter ini ramai didatangi anak- anak untuk belajar dan mengaji. Apalagi dimasa pandemi, gubuk yang bertempat di wilayah Gedong, Krajan 1 di Desa Grenden Kecamatan Puger ini semakin ramai. Anak-anak SD hingga mahasiswa yang yang rumahnya di sekitar Puger, datang kesana untuk meminjam buku, belajar kelompok bahkan diskusi organisasi.

Gubuk ini punya buku inventaris lebih dari 100 macam. Mulai dari buku keagamaan dan berbagai macam kitab, novel, buku pelajaran, hingga buku resep memasak untuk ibu-ibu. Gubuk sederhana yang disebut Taman Baca Pelangi ini buka 24 jam. Siapapun bisa mengakses fasilitas buku-buku yang tersedia.

Di hari Sabtu malam Minggu, Taman Baca Pelangi ini berubah menjadi tempat pensi mini. Menggelar aneka kegiatan musik muda mudi setempat. Tak lupa juga disematkan kegiatan salawat. Para ibu-ibu berbondong–bondong menonton, layaknya menonton konser di sebuah panggung megah.

Rupanya, ini adalah upanya teknik pendiri untuk mengajak muda- mudinya belajar salawat, melalui musik. Sekaligus mengoptimalkan fungsi Taman Baca Pelangi yang didirikannya.

Abdul Kholiq, 52, pendiri Taman Baca Pelangi mengatakan, adanya lokasi ini sebagai upaya mengubah citra desa dan meningkatkan kualitas SDM-nya. Awalnya, gagasan membangun taman baca ini diawali dari kondisi desa yang bisa dikatakan cukup kriminalis.

Muda–mudi di desanya banyak yang suka mabuk. Nyaris setiap malam, ada remaja yang teler, lalu tertidur di teras rumah-rumah warga. Bahkan di musala. Kasus kriminal meningkat. Pencurian ayam jadi hal biasa.

Pada tahun 2008, hampir semua pemuda tidak ada yang tamat SLTA. “Paling mentok SMP, itu pun gak sampai lulus,” kata Abdul Kholiq.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Saban sore dan pagi, gubuk berukuran 7 x 4 meter ini ramai didatangi anak- anak untuk belajar dan mengaji. Apalagi dimasa pandemi, gubuk yang bertempat di wilayah Gedong, Krajan 1 di Desa Grenden Kecamatan Puger ini semakin ramai. Anak-anak SD hingga mahasiswa yang yang rumahnya di sekitar Puger, datang kesana untuk meminjam buku, belajar kelompok bahkan diskusi organisasi.

Gubuk ini punya buku inventaris lebih dari 100 macam. Mulai dari buku keagamaan dan berbagai macam kitab, novel, buku pelajaran, hingga buku resep memasak untuk ibu-ibu. Gubuk sederhana yang disebut Taman Baca Pelangi ini buka 24 jam. Siapapun bisa mengakses fasilitas buku-buku yang tersedia.

Di hari Sabtu malam Minggu, Taman Baca Pelangi ini berubah menjadi tempat pensi mini. Menggelar aneka kegiatan musik muda mudi setempat. Tak lupa juga disematkan kegiatan salawat. Para ibu-ibu berbondong–bondong menonton, layaknya menonton konser di sebuah panggung megah.

Rupanya, ini adalah upanya teknik pendiri untuk mengajak muda- mudinya belajar salawat, melalui musik. Sekaligus mengoptimalkan fungsi Taman Baca Pelangi yang didirikannya.

Abdul Kholiq, 52, pendiri Taman Baca Pelangi mengatakan, adanya lokasi ini sebagai upaya mengubah citra desa dan meningkatkan kualitas SDM-nya. Awalnya, gagasan membangun taman baca ini diawali dari kondisi desa yang bisa dikatakan cukup kriminalis.

Muda–mudi di desanya banyak yang suka mabuk. Nyaris setiap malam, ada remaja yang teler, lalu tertidur di teras rumah-rumah warga. Bahkan di musala. Kasus kriminal meningkat. Pencurian ayam jadi hal biasa.

Pada tahun 2008, hampir semua pemuda tidak ada yang tamat SLTA. “Paling mentok SMP, itu pun gak sampai lulus,” kata Abdul Kholiq.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca