alexametrics
24.1 C
Jember
Friday, 1 July 2022

Bukan Jauhi Orangnya, tapi Korona yang Harus Menjauh

Sepanjang Maret hingga April menjadi periode awal Covid-19 melanda Indonesia, termasuk Jember. Hingga kini, sudah berbulan-bulan lamanya masyarakat hidup dalam bayang-bayang korona. Ada yang mulai bosan hidup berdiam diri di rumah, bahkan ada juga yang tidak menghiraukan protokol kesehatan lagi. Tapi itu tidak berlaku bagi para relawan Covid-19 dari PMI, yang tetap menjalankan tugasnya.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Truk berwarna putih lengkap dengan tangki berisi cairan disinfektan mulai datang di JSG, siang itu. Tak lama, pasukan dengan pakaian APD warna putih-putih juga turun dari truk. “Jam berapa datangnya,” ucap salah seorang petugas yang mengenakan APD kepada koordinatornya. Kedatangan para tentara, yang dia tanyakan.

Setelah tahu diprediksikan sore akan datang, akhirnya mereka mulai membuka penutup kepala. Pakaian APD pun dibuka setengah badan.

Tak lama, mereka mulai bercanda dan saling cerita pengalaman lucu dan menegangkan saat bertugas jadi relawan. Mulai dari proses menyemprot disinfektan, atau turun langsung pada prosesi pemakaman pasien Covid-19.

Mobile_AP_Rectangle 2

Tapi ada satu orang yang tidak begitu bergurau. Tatapannya tajam, tapi entah apa yang dipikirkannya. Nama relawan itu adalah Ganang Anggarata. Dari wajahnya, Ganang masih terlihat lebih muda daripada teman lainnya. “Masih bujang itu, masih kuliah,” kata Rupianto, 53, salah satu petugas relawan dari PMI.

Ganang memang masih muda. Usianya baru 23 tahun. Di antara teman-temannya, dia juga bukan asli Jember, melainkan Blitar. Sebelum terjun sebagai relawan Covid-19, mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Jember itu memang aktif di dunia kemanusiaan lainnya. Dia adalah anggota KSR Unit PMI Unej.

Dia mengaku, menjadi relawan kemanusiaan menjadi panggilan baginya. Apalagi relawan korona tidak mengganggu aktivitas sehari-harinya sebagai mahasiswa. “Kuliah daring, juga tidak berani pulang. Daripada di tempat kos saja, lebih bermanfaat jadi relawan,” tuturnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Truk berwarna putih lengkap dengan tangki berisi cairan disinfektan mulai datang di JSG, siang itu. Tak lama, pasukan dengan pakaian APD warna putih-putih juga turun dari truk. “Jam berapa datangnya,” ucap salah seorang petugas yang mengenakan APD kepada koordinatornya. Kedatangan para tentara, yang dia tanyakan.

Setelah tahu diprediksikan sore akan datang, akhirnya mereka mulai membuka penutup kepala. Pakaian APD pun dibuka setengah badan.

Tak lama, mereka mulai bercanda dan saling cerita pengalaman lucu dan menegangkan saat bertugas jadi relawan. Mulai dari proses menyemprot disinfektan, atau turun langsung pada prosesi pemakaman pasien Covid-19.

Tapi ada satu orang yang tidak begitu bergurau. Tatapannya tajam, tapi entah apa yang dipikirkannya. Nama relawan itu adalah Ganang Anggarata. Dari wajahnya, Ganang masih terlihat lebih muda daripada teman lainnya. “Masih bujang itu, masih kuliah,” kata Rupianto, 53, salah satu petugas relawan dari PMI.

Ganang memang masih muda. Usianya baru 23 tahun. Di antara teman-temannya, dia juga bukan asli Jember, melainkan Blitar. Sebelum terjun sebagai relawan Covid-19, mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Jember itu memang aktif di dunia kemanusiaan lainnya. Dia adalah anggota KSR Unit PMI Unej.

Dia mengaku, menjadi relawan kemanusiaan menjadi panggilan baginya. Apalagi relawan korona tidak mengganggu aktivitas sehari-harinya sebagai mahasiswa. “Kuliah daring, juga tidak berani pulang. Daripada di tempat kos saja, lebih bermanfaat jadi relawan,” tuturnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Truk berwarna putih lengkap dengan tangki berisi cairan disinfektan mulai datang di JSG, siang itu. Tak lama, pasukan dengan pakaian APD warna putih-putih juga turun dari truk. “Jam berapa datangnya,” ucap salah seorang petugas yang mengenakan APD kepada koordinatornya. Kedatangan para tentara, yang dia tanyakan.

Setelah tahu diprediksikan sore akan datang, akhirnya mereka mulai membuka penutup kepala. Pakaian APD pun dibuka setengah badan.

Tak lama, mereka mulai bercanda dan saling cerita pengalaman lucu dan menegangkan saat bertugas jadi relawan. Mulai dari proses menyemprot disinfektan, atau turun langsung pada prosesi pemakaman pasien Covid-19.

Tapi ada satu orang yang tidak begitu bergurau. Tatapannya tajam, tapi entah apa yang dipikirkannya. Nama relawan itu adalah Ganang Anggarata. Dari wajahnya, Ganang masih terlihat lebih muda daripada teman lainnya. “Masih bujang itu, masih kuliah,” kata Rupianto, 53, salah satu petugas relawan dari PMI.

Ganang memang masih muda. Usianya baru 23 tahun. Di antara teman-temannya, dia juga bukan asli Jember, melainkan Blitar. Sebelum terjun sebagai relawan Covid-19, mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Jember itu memang aktif di dunia kemanusiaan lainnya. Dia adalah anggota KSR Unit PMI Unej.

Dia mengaku, menjadi relawan kemanusiaan menjadi panggilan baginya. Apalagi relawan korona tidak mengganggu aktivitas sehari-harinya sebagai mahasiswa. “Kuliah daring, juga tidak berani pulang. Daripada di tempat kos saja, lebih bermanfaat jadi relawan,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/