alexametrics
26.5 C
Jember
Sunday, 25 September 2022

Empat Poin untuk Tangkal Ekstremisme dan Radikalisme

Dalam Webinar Literasi Keagamaan Lintas Budaya

Mobile_AP_Rectangle 1

Jakarta, RADARJEMBER.ID – Pentingnya penguatan kurikulum pendidikan untuk menangkal ekstremisme dan radikalisme sejak dini dikatakan Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar Indonesia Tuan Guru Bajang (TGB) HM Zainul Majdi, dalam webinar “Literasi Keagamaan Lintas Budaya” yang diikuti secara virtual dari Jakarta, Kamis.

BACA JUGA : Saksi Ungkap Fakta Baru Kecelakaan Kereta di Jember yang Tewaskan Ibu-Anak

“Ilmu adalah esensi agama sehingga pastikan mendapat ilmu agama dari orang yang berkompeten. Rantai keilmuan adalah bagian dari agama,” ujarnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia menyoroti sejumlah poin untuk melawan ekstremisme dan radikalisme. Pertama intervensi dalam pendidikan. Materi-materi keislaman yang diajarkan di semua jenjang pendidikan harus disisir dari muatan-muatan ekstrem dan radikal.

Menurut dia, materi tidak boleh bermuatan ekstremisme dan intoleransi karena dalam ranah sosial, Islam mengajarkan prinsip saling mengisi, kolaborasi, dan saling memberikan yang terbaik. “20 tahun lagi wajah anak-anak kita adalah apa yang kita tanam sebelumnya,” katanya.

Kedua, papar dia, para guru yang mengajar harus memiliki visi moderat. Dia menyoroti pendidikan di luar pesantren. Tak sedikit sekolah keagamaan yang dibangun yayasan atau kelompok tertentu yang mengejar profit saja. Akhirnya, aspek yang terkait substansi keagamaan tidak diperhatikan.

“Karena pesantren harus sudah hafal yang mengajar itu adalah orang yang diketahui kiainya. Dia (kiai) tahu bukan hanya pemahaman normatifnya tapi juga internalisasi nilai-nilai Islam dicontohkan,” katanya.

Ketiga, adalah akidah. Menurut dia, akidah harus dikaitkan dengan akhlak. Asmaul Husna telah mengajarkan manusia akan nilai-nilai luhur, bukan nama-nama baik bagi Sang Pencipta saja tapi harus dicerminkan manusia dalam kehidupan sehari-hari.

“Bagaimana Asmaul Husna kita wujudkan dalam keseharian interaksi sosial, punya sikap yang inklusif,” katanya.

Keempat, memperbanyak materi budaya keagamaan dalam pendidikan agama Islam di mana Islam tidak hanya norma tapi juga budaya. (*)

Editor : Yerri Arintoko Aji

Foto : ANTARA/Asep Firmansyah/Zoom

Sumber Berita : Antara

- Advertisement -

Jakarta, RADARJEMBER.ID – Pentingnya penguatan kurikulum pendidikan untuk menangkal ekstremisme dan radikalisme sejak dini dikatakan Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar Indonesia Tuan Guru Bajang (TGB) HM Zainul Majdi, dalam webinar “Literasi Keagamaan Lintas Budaya” yang diikuti secara virtual dari Jakarta, Kamis.

BACA JUGA : Saksi Ungkap Fakta Baru Kecelakaan Kereta di Jember yang Tewaskan Ibu-Anak

“Ilmu adalah esensi agama sehingga pastikan mendapat ilmu agama dari orang yang berkompeten. Rantai keilmuan adalah bagian dari agama,” ujarnya.

Dia menyoroti sejumlah poin untuk melawan ekstremisme dan radikalisme. Pertama intervensi dalam pendidikan. Materi-materi keislaman yang diajarkan di semua jenjang pendidikan harus disisir dari muatan-muatan ekstrem dan radikal.

Menurut dia, materi tidak boleh bermuatan ekstremisme dan intoleransi karena dalam ranah sosial, Islam mengajarkan prinsip saling mengisi, kolaborasi, dan saling memberikan yang terbaik. “20 tahun lagi wajah anak-anak kita adalah apa yang kita tanam sebelumnya,” katanya.

Kedua, papar dia, para guru yang mengajar harus memiliki visi moderat. Dia menyoroti pendidikan di luar pesantren. Tak sedikit sekolah keagamaan yang dibangun yayasan atau kelompok tertentu yang mengejar profit saja. Akhirnya, aspek yang terkait substansi keagamaan tidak diperhatikan.

“Karena pesantren harus sudah hafal yang mengajar itu adalah orang yang diketahui kiainya. Dia (kiai) tahu bukan hanya pemahaman normatifnya tapi juga internalisasi nilai-nilai Islam dicontohkan,” katanya.

Ketiga, adalah akidah. Menurut dia, akidah harus dikaitkan dengan akhlak. Asmaul Husna telah mengajarkan manusia akan nilai-nilai luhur, bukan nama-nama baik bagi Sang Pencipta saja tapi harus dicerminkan manusia dalam kehidupan sehari-hari.

“Bagaimana Asmaul Husna kita wujudkan dalam keseharian interaksi sosial, punya sikap yang inklusif,” katanya.

Keempat, memperbanyak materi budaya keagamaan dalam pendidikan agama Islam di mana Islam tidak hanya norma tapi juga budaya. (*)

Editor : Yerri Arintoko Aji

Foto : ANTARA/Asep Firmansyah/Zoom

Sumber Berita : Antara

Jakarta, RADARJEMBER.ID – Pentingnya penguatan kurikulum pendidikan untuk menangkal ekstremisme dan radikalisme sejak dini dikatakan Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar Indonesia Tuan Guru Bajang (TGB) HM Zainul Majdi, dalam webinar “Literasi Keagamaan Lintas Budaya” yang diikuti secara virtual dari Jakarta, Kamis.

BACA JUGA : Saksi Ungkap Fakta Baru Kecelakaan Kereta di Jember yang Tewaskan Ibu-Anak

“Ilmu adalah esensi agama sehingga pastikan mendapat ilmu agama dari orang yang berkompeten. Rantai keilmuan adalah bagian dari agama,” ujarnya.

Dia menyoroti sejumlah poin untuk melawan ekstremisme dan radikalisme. Pertama intervensi dalam pendidikan. Materi-materi keislaman yang diajarkan di semua jenjang pendidikan harus disisir dari muatan-muatan ekstrem dan radikal.

Menurut dia, materi tidak boleh bermuatan ekstremisme dan intoleransi karena dalam ranah sosial, Islam mengajarkan prinsip saling mengisi, kolaborasi, dan saling memberikan yang terbaik. “20 tahun lagi wajah anak-anak kita adalah apa yang kita tanam sebelumnya,” katanya.

Kedua, papar dia, para guru yang mengajar harus memiliki visi moderat. Dia menyoroti pendidikan di luar pesantren. Tak sedikit sekolah keagamaan yang dibangun yayasan atau kelompok tertentu yang mengejar profit saja. Akhirnya, aspek yang terkait substansi keagamaan tidak diperhatikan.

“Karena pesantren harus sudah hafal yang mengajar itu adalah orang yang diketahui kiainya. Dia (kiai) tahu bukan hanya pemahaman normatifnya tapi juga internalisasi nilai-nilai Islam dicontohkan,” katanya.

Ketiga, adalah akidah. Menurut dia, akidah harus dikaitkan dengan akhlak. Asmaul Husna telah mengajarkan manusia akan nilai-nilai luhur, bukan nama-nama baik bagi Sang Pencipta saja tapi harus dicerminkan manusia dalam kehidupan sehari-hari.

“Bagaimana Asmaul Husna kita wujudkan dalam keseharian interaksi sosial, punya sikap yang inklusif,” katanya.

Keempat, memperbanyak materi budaya keagamaan dalam pendidikan agama Islam di mana Islam tidak hanya norma tapi juga budaya. (*)

Editor : Yerri Arintoko Aji

Foto : ANTARA/Asep Firmansyah/Zoom

Sumber Berita : Antara

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/