alexametrics
31.2 C
Jember
Tuesday, 17 May 2022

Ketat meski Zona Kuning

Salat Id di Masjid Jamik Al Baitul Amien

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Rencana pelaksanaan salat Idul Fitri di Masjid Jamik Al Baitul Amien Jember tak jauh berbeda dengan Lebaran pada awal pandemi 2020 lalu. Pihak takmir masjid tetap menyiapkan sarana cuci tangan sebagai pendukung penerapan protokol kesehatan (prokes). Terlihat, beberapa wastafel lengkap dengan tandon air terpasang di halaman masjid tersebut.

“Masjid ini tetap menjalankan protokol kesehatan yang sangat ketat,” terang KH Muhammad Hasien, Ketua Yayasan Masjid Jamik Al Baitul Amien Jember. Menurut dia, penerapan prokes selama pandemi ini sudah berlangsung sejak 2020 lalu. Saat itu, Masjid Jamik Al Baitul Amien masuk menjadi salah satu kawasan yang terdampak pandemi.

Karena itu, dalam pelaksanaan ibadah salat Idul Fitri itu, lanjutnya, pihak yayasan masih tetap mewanti-wanti para jamaah agar menjalankan imbauan pemerintah tentang prokes. Misalnya, mengenakan masker, cuci tangan, serta jaga jarak. Bagi jamaah yang suhu tubunya melebihi 37,5 derajat Celsius, diminta pulang atau salat di rumah.

Mobile_AP_Rectangle 2

Hasien menambahkan, takmir juga menyediakan alat cuci tangan dan menerapkan pembatasan jumlah jamaah yang masuk ke dalam masjid. Sebab, sesuai ketentuan Satgas Covid-19, menurut dia, Masjid Baitul Amien yang masuk di Kecamatan Patrang itu, kondisi teranyar berada di zona kuning. Sehingga sangat memungkinkan untuk dilakukan salat Idul Fitri dengan menerapkan prokes dan jamaah dibatasi sebanyak 50 persen dari kapasitas masjid.

“Skemanya masih sama seperti tahun lalu. Sama-sama menerapkan prokes. Bedanya, yang hari ini berada di posisi zona kuning,” pungkas Hasien.

 

Jamaah Diprediksi Meningkat

Pada Lebaran tahun ini, jumlah jamaah yang akan mengikuti salat Id di masjid dan tempat ibadah lain diperkirakan akan meningkat. Oleh karena itu, takmir diminta lebih siaga dan disiplin menerapkan prokes. Sehingga, ritual ibadah itu tidak sampai menimbulkan klaster baru penyebaran Covid-19.

Ketua Dewan Majelis Indonesia (DMI) Balung M Nurhuda mengaku, akan banyak panitia salat Id yang kewalahan lantaran banyak yang tak memiliki alat pengecek suhu. Jika tak ada solusi, pihaknya khawatir bisa kecolongan dan merugikan banyak jamaah yang melaksanakan salat Id.

Merespons hal itu, Bupati Jember Hendy Siswanto menyarankan, agar panitia meminjam alat pengecek suhu tubuh ke sekolah terdekat. Karena sudah banyak lembaga pendidikan yang memiliki alat pendeteksi suhu tubuh tersebut. “Ada ide dari salah seorang tokoh agama supaya panitia salat Id meminjam alat pengecekan suhu di sekolah terdekat lebih dulu. Selanjutnya, kami mengimbau camat dan kades setempat supaya bisa menyediakan peralatan itu. Setidaknya, satu atau dua alat pengecek suhu,” kata Hendy.

Dia menegaskan, masyarakat tak boleh lengah meski saat ini Jember berada dalam zona kuning. Bahkan beberapa daerah sudah masuk zona hijau sehingga bisa melaksanakan salat Id berjamaah dengan kapasitas lebih banyak, yakni maksimal 50 persen dari kapasitas tempat ibadah. “Namun, harus tetap pakai masker dan jangan berkerumun,” ujarnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Rencana pelaksanaan salat Idul Fitri di Masjid Jamik Al Baitul Amien Jember tak jauh berbeda dengan Lebaran pada awal pandemi 2020 lalu. Pihak takmir masjid tetap menyiapkan sarana cuci tangan sebagai pendukung penerapan protokol kesehatan (prokes). Terlihat, beberapa wastafel lengkap dengan tandon air terpasang di halaman masjid tersebut.

“Masjid ini tetap menjalankan protokol kesehatan yang sangat ketat,” terang KH Muhammad Hasien, Ketua Yayasan Masjid Jamik Al Baitul Amien Jember. Menurut dia, penerapan prokes selama pandemi ini sudah berlangsung sejak 2020 lalu. Saat itu, Masjid Jamik Al Baitul Amien masuk menjadi salah satu kawasan yang terdampak pandemi.

Karena itu, dalam pelaksanaan ibadah salat Idul Fitri itu, lanjutnya, pihak yayasan masih tetap mewanti-wanti para jamaah agar menjalankan imbauan pemerintah tentang prokes. Misalnya, mengenakan masker, cuci tangan, serta jaga jarak. Bagi jamaah yang suhu tubunya melebihi 37,5 derajat Celsius, diminta pulang atau salat di rumah.

Hasien menambahkan, takmir juga menyediakan alat cuci tangan dan menerapkan pembatasan jumlah jamaah yang masuk ke dalam masjid. Sebab, sesuai ketentuan Satgas Covid-19, menurut dia, Masjid Baitul Amien yang masuk di Kecamatan Patrang itu, kondisi teranyar berada di zona kuning. Sehingga sangat memungkinkan untuk dilakukan salat Idul Fitri dengan menerapkan prokes dan jamaah dibatasi sebanyak 50 persen dari kapasitas masjid.

“Skemanya masih sama seperti tahun lalu. Sama-sama menerapkan prokes. Bedanya, yang hari ini berada di posisi zona kuning,” pungkas Hasien.

 

Jamaah Diprediksi Meningkat

Pada Lebaran tahun ini, jumlah jamaah yang akan mengikuti salat Id di masjid dan tempat ibadah lain diperkirakan akan meningkat. Oleh karena itu, takmir diminta lebih siaga dan disiplin menerapkan prokes. Sehingga, ritual ibadah itu tidak sampai menimbulkan klaster baru penyebaran Covid-19.

Ketua Dewan Majelis Indonesia (DMI) Balung M Nurhuda mengaku, akan banyak panitia salat Id yang kewalahan lantaran banyak yang tak memiliki alat pengecek suhu. Jika tak ada solusi, pihaknya khawatir bisa kecolongan dan merugikan banyak jamaah yang melaksanakan salat Id.

Merespons hal itu, Bupati Jember Hendy Siswanto menyarankan, agar panitia meminjam alat pengecek suhu tubuh ke sekolah terdekat. Karena sudah banyak lembaga pendidikan yang memiliki alat pendeteksi suhu tubuh tersebut. “Ada ide dari salah seorang tokoh agama supaya panitia salat Id meminjam alat pengecekan suhu di sekolah terdekat lebih dulu. Selanjutnya, kami mengimbau camat dan kades setempat supaya bisa menyediakan peralatan itu. Setidaknya, satu atau dua alat pengecek suhu,” kata Hendy.

Dia menegaskan, masyarakat tak boleh lengah meski saat ini Jember berada dalam zona kuning. Bahkan beberapa daerah sudah masuk zona hijau sehingga bisa melaksanakan salat Id berjamaah dengan kapasitas lebih banyak, yakni maksimal 50 persen dari kapasitas tempat ibadah. “Namun, harus tetap pakai masker dan jangan berkerumun,” ujarnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Rencana pelaksanaan salat Idul Fitri di Masjid Jamik Al Baitul Amien Jember tak jauh berbeda dengan Lebaran pada awal pandemi 2020 lalu. Pihak takmir masjid tetap menyiapkan sarana cuci tangan sebagai pendukung penerapan protokol kesehatan (prokes). Terlihat, beberapa wastafel lengkap dengan tandon air terpasang di halaman masjid tersebut.

“Masjid ini tetap menjalankan protokol kesehatan yang sangat ketat,” terang KH Muhammad Hasien, Ketua Yayasan Masjid Jamik Al Baitul Amien Jember. Menurut dia, penerapan prokes selama pandemi ini sudah berlangsung sejak 2020 lalu. Saat itu, Masjid Jamik Al Baitul Amien masuk menjadi salah satu kawasan yang terdampak pandemi.

Karena itu, dalam pelaksanaan ibadah salat Idul Fitri itu, lanjutnya, pihak yayasan masih tetap mewanti-wanti para jamaah agar menjalankan imbauan pemerintah tentang prokes. Misalnya, mengenakan masker, cuci tangan, serta jaga jarak. Bagi jamaah yang suhu tubunya melebihi 37,5 derajat Celsius, diminta pulang atau salat di rumah.

Hasien menambahkan, takmir juga menyediakan alat cuci tangan dan menerapkan pembatasan jumlah jamaah yang masuk ke dalam masjid. Sebab, sesuai ketentuan Satgas Covid-19, menurut dia, Masjid Baitul Amien yang masuk di Kecamatan Patrang itu, kondisi teranyar berada di zona kuning. Sehingga sangat memungkinkan untuk dilakukan salat Idul Fitri dengan menerapkan prokes dan jamaah dibatasi sebanyak 50 persen dari kapasitas masjid.

“Skemanya masih sama seperti tahun lalu. Sama-sama menerapkan prokes. Bedanya, yang hari ini berada di posisi zona kuning,” pungkas Hasien.

 

Jamaah Diprediksi Meningkat

Pada Lebaran tahun ini, jumlah jamaah yang akan mengikuti salat Id di masjid dan tempat ibadah lain diperkirakan akan meningkat. Oleh karena itu, takmir diminta lebih siaga dan disiplin menerapkan prokes. Sehingga, ritual ibadah itu tidak sampai menimbulkan klaster baru penyebaran Covid-19.

Ketua Dewan Majelis Indonesia (DMI) Balung M Nurhuda mengaku, akan banyak panitia salat Id yang kewalahan lantaran banyak yang tak memiliki alat pengecek suhu. Jika tak ada solusi, pihaknya khawatir bisa kecolongan dan merugikan banyak jamaah yang melaksanakan salat Id.

Merespons hal itu, Bupati Jember Hendy Siswanto menyarankan, agar panitia meminjam alat pengecek suhu tubuh ke sekolah terdekat. Karena sudah banyak lembaga pendidikan yang memiliki alat pendeteksi suhu tubuh tersebut. “Ada ide dari salah seorang tokoh agama supaya panitia salat Id meminjam alat pengecekan suhu di sekolah terdekat lebih dulu. Selanjutnya, kami mengimbau camat dan kades setempat supaya bisa menyediakan peralatan itu. Setidaknya, satu atau dua alat pengecek suhu,” kata Hendy.

Dia menegaskan, masyarakat tak boleh lengah meski saat ini Jember berada dalam zona kuning. Bahkan beberapa daerah sudah masuk zona hijau sehingga bisa melaksanakan salat Id berjamaah dengan kapasitas lebih banyak, yakni maksimal 50 persen dari kapasitas tempat ibadah. “Namun, harus tetap pakai masker dan jangan berkerumun,” ujarnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/