alexametrics
23.7 C
Jember
Sunday, 3 July 2022

Minta Pasar Hewan Dibuka Kembali

Pedagang Wadul Dewan, Tuntut Ada Solusi

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kebijakan pemerintah dalam penanganan Covid-19 dikeluhkan banyak pedagang hewan. Pasalnya, penutupan pasar hewan membuat transaksi sapi, kambing, dan domba menjadi mandek. Akibatnya, ribuan orang menjadi bingung karena minim pemasukan. Untuk itu, mereka wadul ke DPRD Jember, dan meminta agar pemerintah menyertakan solusi atas kebijakan tersebut. Jika tidak, mereka berharap tempat bertemunya transaksi hewan di sejumlah lokasi segera dioperasikan kembali.

Para pedagang menyebut, pasar hewan memang menjadi tempat berkumpulnya banyak orang. Akan tetapi, hal itu menjadi sarana untuk mendapatkan uang dari transaksi sapi, kambing, dan domba. “Kami datang ke DPRD karena penutupan pasar hewan sangat merugikan. Kami butuh solusi,” kata Ahmad One Prasetyo, Ketua Paguyuban Pedagang Hewan.

Ribuan warga dan pedagang, menurutnya, tidak bisa melakukan imbauan pemerintah seperti kerja di rumah. Sebab, para pedagang harus menawarkan dagangan hewannya kepada orang lain. Di antara cara yang selama ini paling jitu, kata dia, yakni menjual di pasar hewan. “Ada ribuan orang yang hidup bersama para pedagang. Mereka bisa dapat uang apabila terjadi transaksi hewan,” imbuh Prasetyo.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dikatakannya, jumlah pedagang hewan di Jember dengan kapasitas besar ada sekitar 300 orang yang aktif. Dari masing-masing pedagang tersebut memiliki pekerja setidaknya lima sampai sepuluh orang. Ada yang bertugas mengurus hewan, mencari rumput, dan ada pula sopir khusus yang harus antar jemput hewan ke pasar.

“Jumlah pedagang yang tidak aktif dan pedagang kecil ada ribuan. Belum lagi, jumlah warga yang ikut bekerja bersama mereka,” ungkapnya. Sementara, penghasilan pedagang dan warga yang ikut pedagang hanya didapat dari hasil transaksi hewan. Jadi, mereka mendatangi kantor wakil rakyat tersebut ingin mendapatkan solusi dari pemerintah. Kalau penutupan ini tidak disertai solusi, mereka berharap pasar hewan buka kembali.

Menurut dia, kebijakan physical distancing yang terus diimbau oleh pemerintah seharusnya juga berlaku adil. Pasar hewan ditutup, sementara pasar lain dan juga mall-mall tetap boleh beroperasi. Ratusan orang bahkan bisa dilihat secara nyata berkerumun di dalam mall-mall dan toko modern yang berdiri di Kabupaten Jember. “Harusnya pasar hewan tetap boleh buka,” pintanya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kebijakan pemerintah dalam penanganan Covid-19 dikeluhkan banyak pedagang hewan. Pasalnya, penutupan pasar hewan membuat transaksi sapi, kambing, dan domba menjadi mandek. Akibatnya, ribuan orang menjadi bingung karena minim pemasukan. Untuk itu, mereka wadul ke DPRD Jember, dan meminta agar pemerintah menyertakan solusi atas kebijakan tersebut. Jika tidak, mereka berharap tempat bertemunya transaksi hewan di sejumlah lokasi segera dioperasikan kembali.

Para pedagang menyebut, pasar hewan memang menjadi tempat berkumpulnya banyak orang. Akan tetapi, hal itu menjadi sarana untuk mendapatkan uang dari transaksi sapi, kambing, dan domba. “Kami datang ke DPRD karena penutupan pasar hewan sangat merugikan. Kami butuh solusi,” kata Ahmad One Prasetyo, Ketua Paguyuban Pedagang Hewan.

Ribuan warga dan pedagang, menurutnya, tidak bisa melakukan imbauan pemerintah seperti kerja di rumah. Sebab, para pedagang harus menawarkan dagangan hewannya kepada orang lain. Di antara cara yang selama ini paling jitu, kata dia, yakni menjual di pasar hewan. “Ada ribuan orang yang hidup bersama para pedagang. Mereka bisa dapat uang apabila terjadi transaksi hewan,” imbuh Prasetyo.

Dikatakannya, jumlah pedagang hewan di Jember dengan kapasitas besar ada sekitar 300 orang yang aktif. Dari masing-masing pedagang tersebut memiliki pekerja setidaknya lima sampai sepuluh orang. Ada yang bertugas mengurus hewan, mencari rumput, dan ada pula sopir khusus yang harus antar jemput hewan ke pasar.

“Jumlah pedagang yang tidak aktif dan pedagang kecil ada ribuan. Belum lagi, jumlah warga yang ikut bekerja bersama mereka,” ungkapnya. Sementara, penghasilan pedagang dan warga yang ikut pedagang hanya didapat dari hasil transaksi hewan. Jadi, mereka mendatangi kantor wakil rakyat tersebut ingin mendapatkan solusi dari pemerintah. Kalau penutupan ini tidak disertai solusi, mereka berharap pasar hewan buka kembali.

Menurut dia, kebijakan physical distancing yang terus diimbau oleh pemerintah seharusnya juga berlaku adil. Pasar hewan ditutup, sementara pasar lain dan juga mall-mall tetap boleh beroperasi. Ratusan orang bahkan bisa dilihat secara nyata berkerumun di dalam mall-mall dan toko modern yang berdiri di Kabupaten Jember. “Harusnya pasar hewan tetap boleh buka,” pintanya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kebijakan pemerintah dalam penanganan Covid-19 dikeluhkan banyak pedagang hewan. Pasalnya, penutupan pasar hewan membuat transaksi sapi, kambing, dan domba menjadi mandek. Akibatnya, ribuan orang menjadi bingung karena minim pemasukan. Untuk itu, mereka wadul ke DPRD Jember, dan meminta agar pemerintah menyertakan solusi atas kebijakan tersebut. Jika tidak, mereka berharap tempat bertemunya transaksi hewan di sejumlah lokasi segera dioperasikan kembali.

Para pedagang menyebut, pasar hewan memang menjadi tempat berkumpulnya banyak orang. Akan tetapi, hal itu menjadi sarana untuk mendapatkan uang dari transaksi sapi, kambing, dan domba. “Kami datang ke DPRD karena penutupan pasar hewan sangat merugikan. Kami butuh solusi,” kata Ahmad One Prasetyo, Ketua Paguyuban Pedagang Hewan.

Ribuan warga dan pedagang, menurutnya, tidak bisa melakukan imbauan pemerintah seperti kerja di rumah. Sebab, para pedagang harus menawarkan dagangan hewannya kepada orang lain. Di antara cara yang selama ini paling jitu, kata dia, yakni menjual di pasar hewan. “Ada ribuan orang yang hidup bersama para pedagang. Mereka bisa dapat uang apabila terjadi transaksi hewan,” imbuh Prasetyo.

Dikatakannya, jumlah pedagang hewan di Jember dengan kapasitas besar ada sekitar 300 orang yang aktif. Dari masing-masing pedagang tersebut memiliki pekerja setidaknya lima sampai sepuluh orang. Ada yang bertugas mengurus hewan, mencari rumput, dan ada pula sopir khusus yang harus antar jemput hewan ke pasar.

“Jumlah pedagang yang tidak aktif dan pedagang kecil ada ribuan. Belum lagi, jumlah warga yang ikut bekerja bersama mereka,” ungkapnya. Sementara, penghasilan pedagang dan warga yang ikut pedagang hanya didapat dari hasil transaksi hewan. Jadi, mereka mendatangi kantor wakil rakyat tersebut ingin mendapatkan solusi dari pemerintah. Kalau penutupan ini tidak disertai solusi, mereka berharap pasar hewan buka kembali.

Menurut dia, kebijakan physical distancing yang terus diimbau oleh pemerintah seharusnya juga berlaku adil. Pasar hewan ditutup, sementara pasar lain dan juga mall-mall tetap boleh beroperasi. Ratusan orang bahkan bisa dilihat secara nyata berkerumun di dalam mall-mall dan toko modern yang berdiri di Kabupaten Jember. “Harusnya pasar hewan tetap boleh buka,” pintanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/