alexametrics
28.7 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Sulit Cegah Peningkatan Pengemis

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Ramadan tiba, ada sebuah fenomena yang terus ada setiap masuk bulan suci ini. Dia adalah pengemis. Bahkan, jumlahnya cenderung meningkat daripada hari biasanya. Apakah menertibkan sebuah solusi jitu mengantisipasi pengemis selama Ramadan?

Plt Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Jember Widi Prasetyo mengakui, jumlah pengemis terjadi peningkatan pada Ramadan. “Jangankan Ramadan, pada hari Jumat juga cenderung meningkat. Jelang Salat Jumat itu berjejer di depan masjid jamik lama dan baru,” terangnya.

Menurut Widi, mengapa pada Ramadan cenderung ada peningkatan? Lantaran, umat muslim merasa pada bulan puasa amal kebaikannya dilipat gandakan. Karena itu, mereka banyak bersedekah tersebut, justru memunculkan pengemis baru. “Ada yang memang sebelum Ramadan jadi pengemis, tapi juga ada pengemis baru saat Ramadan saja,” terang Widi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dari pemetaan Dinsos Jember, pengemis di Jember ini mayoritas dari Jember sendiri. Asalnya dari daerah Talangsari, belakang Puskesmas Jember Kidul yang banyak. Hal itu diketahui saat razia digelar, pengemis yang terkena razia rumahnya di daerah Talangsari. “Kalau gepeng (gelandangan dan pengemis, Red) yang kena razia yang tidak punya tempat tinggal, ditempatkan di Liposos. Kalau yang punya rumah, kami pulangkan setelah diberi pembinaan,” terangnya.

Pengemis yang dirazia dan tinggal di Liposos tersebut penyebabnya ada yang tidak menemukan keluarganya ataupun tidak punya tempat tinggal. Selain itu, ada pihak keluarga tidak mampu untuk merawatnya. Widi menjelaskan, kebayakan pengemis yang terkena razia itu sebelumnya juga pernah kena razia. Artinya, meminta-minta di jalan itu adalah pekerjaan mereka.

Untuk mengatasi pengemis di Jember, kata Widi, harus bersinergi, termasuk dengan Satpol PP dan semua tokoh agama. Pria yang pernah menjabat sebagai Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik itu menambahkan, bila tokoh agama yang setiap memberikan imbauan di Khutbah Jumat, agar memberikan sedekah dihimpun oleh lembaga resmi seperti Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), maka dengan sendirinya pengemis tidak akan ada.

Sebab, orang miskin dan tidak mampu tersebut cukup menunggu di rumah untuk diberikan bantuan oleh lembaga seperti Baznas. “Kalau ini ditangani secara bersama-sama, yakin tidak ada pengemis di jalanan. Bagi yang kaya, sumbang lewat badan amil zakat. Lembaga itulah yang terjun ke rumah warga miskin. Saya yakin, itu dilakukan semuanya, kemiskinan bisa tertangani,” paparnya.

Plt Kasat Pol PP Jember M Faruq mengatakan, memang tupoksi kerja Satpol PP adalah menegakkan perda. Termasuk juga menyelenggarakan ketertiban umum dan ketenteraman. Walau Satpol PP juga bertugas menertibkan di lapangan, termasuk pengemis, tapi tidak bisa dilakukan sendiri. Melainkan harus ada hasil koordinasi dengan dinas terkait, yaitu Dinas Sosial. “Kami tidak akan bisa menertibkan sesuatu bila tidak ada surat permohonan dari dinas terkait,” terangnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Ramadan tiba, ada sebuah fenomena yang terus ada setiap masuk bulan suci ini. Dia adalah pengemis. Bahkan, jumlahnya cenderung meningkat daripada hari biasanya. Apakah menertibkan sebuah solusi jitu mengantisipasi pengemis selama Ramadan?

Plt Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Jember Widi Prasetyo mengakui, jumlah pengemis terjadi peningkatan pada Ramadan. “Jangankan Ramadan, pada hari Jumat juga cenderung meningkat. Jelang Salat Jumat itu berjejer di depan masjid jamik lama dan baru,” terangnya.

Menurut Widi, mengapa pada Ramadan cenderung ada peningkatan? Lantaran, umat muslim merasa pada bulan puasa amal kebaikannya dilipat gandakan. Karena itu, mereka banyak bersedekah tersebut, justru memunculkan pengemis baru. “Ada yang memang sebelum Ramadan jadi pengemis, tapi juga ada pengemis baru saat Ramadan saja,” terang Widi.

Dari pemetaan Dinsos Jember, pengemis di Jember ini mayoritas dari Jember sendiri. Asalnya dari daerah Talangsari, belakang Puskesmas Jember Kidul yang banyak. Hal itu diketahui saat razia digelar, pengemis yang terkena razia rumahnya di daerah Talangsari. “Kalau gepeng (gelandangan dan pengemis, Red) yang kena razia yang tidak punya tempat tinggal, ditempatkan di Liposos. Kalau yang punya rumah, kami pulangkan setelah diberi pembinaan,” terangnya.

Pengemis yang dirazia dan tinggal di Liposos tersebut penyebabnya ada yang tidak menemukan keluarganya ataupun tidak punya tempat tinggal. Selain itu, ada pihak keluarga tidak mampu untuk merawatnya. Widi menjelaskan, kebayakan pengemis yang terkena razia itu sebelumnya juga pernah kena razia. Artinya, meminta-minta di jalan itu adalah pekerjaan mereka.

Untuk mengatasi pengemis di Jember, kata Widi, harus bersinergi, termasuk dengan Satpol PP dan semua tokoh agama. Pria yang pernah menjabat sebagai Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik itu menambahkan, bila tokoh agama yang setiap memberikan imbauan di Khutbah Jumat, agar memberikan sedekah dihimpun oleh lembaga resmi seperti Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), maka dengan sendirinya pengemis tidak akan ada.

Sebab, orang miskin dan tidak mampu tersebut cukup menunggu di rumah untuk diberikan bantuan oleh lembaga seperti Baznas. “Kalau ini ditangani secara bersama-sama, yakin tidak ada pengemis di jalanan. Bagi yang kaya, sumbang lewat badan amil zakat. Lembaga itulah yang terjun ke rumah warga miskin. Saya yakin, itu dilakukan semuanya, kemiskinan bisa tertangani,” paparnya.

Plt Kasat Pol PP Jember M Faruq mengatakan, memang tupoksi kerja Satpol PP adalah menegakkan perda. Termasuk juga menyelenggarakan ketertiban umum dan ketenteraman. Walau Satpol PP juga bertugas menertibkan di lapangan, termasuk pengemis, tapi tidak bisa dilakukan sendiri. Melainkan harus ada hasil koordinasi dengan dinas terkait, yaitu Dinas Sosial. “Kami tidak akan bisa menertibkan sesuatu bila tidak ada surat permohonan dari dinas terkait,” terangnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Ramadan tiba, ada sebuah fenomena yang terus ada setiap masuk bulan suci ini. Dia adalah pengemis. Bahkan, jumlahnya cenderung meningkat daripada hari biasanya. Apakah menertibkan sebuah solusi jitu mengantisipasi pengemis selama Ramadan?

Plt Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Jember Widi Prasetyo mengakui, jumlah pengemis terjadi peningkatan pada Ramadan. “Jangankan Ramadan, pada hari Jumat juga cenderung meningkat. Jelang Salat Jumat itu berjejer di depan masjid jamik lama dan baru,” terangnya.

Menurut Widi, mengapa pada Ramadan cenderung ada peningkatan? Lantaran, umat muslim merasa pada bulan puasa amal kebaikannya dilipat gandakan. Karena itu, mereka banyak bersedekah tersebut, justru memunculkan pengemis baru. “Ada yang memang sebelum Ramadan jadi pengemis, tapi juga ada pengemis baru saat Ramadan saja,” terang Widi.

Dari pemetaan Dinsos Jember, pengemis di Jember ini mayoritas dari Jember sendiri. Asalnya dari daerah Talangsari, belakang Puskesmas Jember Kidul yang banyak. Hal itu diketahui saat razia digelar, pengemis yang terkena razia rumahnya di daerah Talangsari. “Kalau gepeng (gelandangan dan pengemis, Red) yang kena razia yang tidak punya tempat tinggal, ditempatkan di Liposos. Kalau yang punya rumah, kami pulangkan setelah diberi pembinaan,” terangnya.

Pengemis yang dirazia dan tinggal di Liposos tersebut penyebabnya ada yang tidak menemukan keluarganya ataupun tidak punya tempat tinggal. Selain itu, ada pihak keluarga tidak mampu untuk merawatnya. Widi menjelaskan, kebayakan pengemis yang terkena razia itu sebelumnya juga pernah kena razia. Artinya, meminta-minta di jalan itu adalah pekerjaan mereka.

Untuk mengatasi pengemis di Jember, kata Widi, harus bersinergi, termasuk dengan Satpol PP dan semua tokoh agama. Pria yang pernah menjabat sebagai Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik itu menambahkan, bila tokoh agama yang setiap memberikan imbauan di Khutbah Jumat, agar memberikan sedekah dihimpun oleh lembaga resmi seperti Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), maka dengan sendirinya pengemis tidak akan ada.

Sebab, orang miskin dan tidak mampu tersebut cukup menunggu di rumah untuk diberikan bantuan oleh lembaga seperti Baznas. “Kalau ini ditangani secara bersama-sama, yakin tidak ada pengemis di jalanan. Bagi yang kaya, sumbang lewat badan amil zakat. Lembaga itulah yang terjun ke rumah warga miskin. Saya yakin, itu dilakukan semuanya, kemiskinan bisa tertangani,” paparnya.

Plt Kasat Pol PP Jember M Faruq mengatakan, memang tupoksi kerja Satpol PP adalah menegakkan perda. Termasuk juga menyelenggarakan ketertiban umum dan ketenteraman. Walau Satpol PP juga bertugas menertibkan di lapangan, termasuk pengemis, tapi tidak bisa dilakukan sendiri. Melainkan harus ada hasil koordinasi dengan dinas terkait, yaitu Dinas Sosial. “Kami tidak akan bisa menertibkan sesuatu bila tidak ada surat permohonan dari dinas terkait,” terangnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/