alexametrics
23.4 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Akar Munculnya Pengemis Edisi Ramadan, Manfaatkan Celah Iba di Bulan Mulia.

Jelang dan saat Ramadan, jumlah pengemis cenderung meningkat. Biasanya, tak hanya mangkal di lampu merah, tapi juga pusat perbelanjaan dan tempat-tempat ibadah. Mereka seolah memanfaatkan Ramadan untuk menjual iba. Pemerintah pun terkesan melakukan pembiaran, karena nyaris tanpa ada upaya pencegahan.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, kendaraan yang berhenti di lampu merah Jalan Letjen Panjaitan, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, cukup padat. Seketika, Nur beranjak dari tempat duduknya dan langsung menyodorkan tangannya di samping mobil yang berhenti. Dia memanfaatkan betul momentum yang hanya berlangsung tak sampai dua menit itu. “Minta uang, Pak, Bu,” tuturnya.

Sesekali, dia berhasil membuat si pengemudi membuka kaca mobil dan memberinya uang recehan. Satu per satu para pengemudi ia sapa. Harapannya sama, ada tangan yang menjulur mengeluarkan sedikit cuan. Aktivitas seperti itu terus dia lakukan hingga lampu berganti ke warna hijau.

Ketika kendaraan kembali berjalan, tubuh ringkih warga Desa Sumberpinang, Kecamatan Pakusari, tersebut kembali duduk di pembatas jalan. Momen itu ia manfaatkan beristirahat, lalu kembali beraksi ketika lampu berwarna merah lagi. Begitu seterusnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Saya berangkat sejak Subuh setiap hari untuk meminta-minta,” ungkapnya, sambil mengelap keringat yang terus bercucuran di dahinya. Seolah-olah teriknya matahari sudah menjadi sahabatnya setiap hari. Saat mentari condong ke barat, itulah saatnya dia pulang. “Saya sudah lama seperti ini. Soalnya, tidak bisa lagi bekerja karena usia,” ucapnya, sembari mengingat kali pertama meminta-minta, namun tetap lupa. Jadi, dia mengaku terpaksa meminta-minta untuk mencukupi hidupnya yang sebatang kara.

Nur menambahkan, sejatinya kampus adalah tempat yang biasa dia jajaki untuk meminta uang. Dari fakultas satu ke fakultas lainnya. Namun, pandemi membuatnya harus berpindah tempat ke lampu merah. “Soalnya, tidak ada mahasiswa di kampus,” papar wanita kelahiran tahun 1950-an itu. Meski begitu, dia tidak pernah menetap di lampu merah itu saja, tapi selalu berpindah-pindah.

Naip, warga Kelurahan Wirolegi, Kecamatan Sumbersari, tidak seantusias Nur saat meminta-minta. Pria yang mengemis di lampu merah Jalan Letjen Suprapto, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, itu tidak beranjak dari tempat duduknya meski banyak kendaraan yang berhenti di depannya.

Belum lagi, dia tidak banyak berucap ketika sedang menengadahkan tangan karena suaranya sangat kecil dan berat. Dari tempatnya duduk, dia hanya mengode salah seorang pengendara yang berhenti tepat di depannya dengan mengacungkan kedua tangannya. Tangan kanan terbuka ke atas, sedangkan tangan kirinya menunjukkan recehan lima ratus rupiah. Gesekan recehan dan senyum yang dia suguhkan, diharapkan menjadi daya tarik bagi pengendara supaya mereka memberinya uang.

Soalnya saya bingung di rumah mau ngapain. Jadi, memilih untuk meminta-minta di lampu merah,” ungkapnya. Dia menyebut bahwa dirinya sempat malu saat kali pertama meminta duit ke pengendara. Takut kalau ada yang kenal. Namun kini, pria yang sudah menjadi pengemis sejak 2015 tersebut mengaku sudah terbiasa dan tak lagi malu.

Sementara Sani, pengemis yang lain, tampak kelelahan saat ditemui di sekitar lampu merah Pasar Tanjung. Ketika ditanya, dia menyatakan, dirinya baru saja berkeliling di sekitar pasar untuk meminta-minta. Sesekali, dia menyela saat Jawa Pos Radar Jember mencoba mengajaknya ngobrol. “Jangan lama-lama, tidak dapet uang saya nanti,” ucap lelaki kelahiran 1940-an itu.

Mengapa demikian? Sebab, warga Desa Sempolan, Kecamatan Silo, itu hanya berkeliling pada saat hari Minggu. Jadi, dia memanfaatkan waktu sehari itu untuk benar-benar mencari uang dengan meminta-minta. “Soalnya, istri saya butuh perawatan. Sementara uang yang saya dapatkan dari berjualan sayur tidak cukup,” ujarnya.

Sani mengaku, istrinya baru saja terkena kanker payudara, belum lama ini. Sekitar enam bulan lalu. Karena itu, dia mengaku terpaksa menjadi pengemis sejak akhir Oktober lalu. Dia harus naik lin kuning pada saat Subuh, lalu ke kota untuk meminta-minta. Dirinya tak lantas seharian berada di kota. “Bakda Zuhur sudah harus pulang. Kasihan istri saya sendirian,” lanjutnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, kendaraan yang berhenti di lampu merah Jalan Letjen Panjaitan, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, cukup padat. Seketika, Nur beranjak dari tempat duduknya dan langsung menyodorkan tangannya di samping mobil yang berhenti. Dia memanfaatkan betul momentum yang hanya berlangsung tak sampai dua menit itu. “Minta uang, Pak, Bu,” tuturnya.

Sesekali, dia berhasil membuat si pengemudi membuka kaca mobil dan memberinya uang recehan. Satu per satu para pengemudi ia sapa. Harapannya sama, ada tangan yang menjulur mengeluarkan sedikit cuan. Aktivitas seperti itu terus dia lakukan hingga lampu berganti ke warna hijau.

Ketika kendaraan kembali berjalan, tubuh ringkih warga Desa Sumberpinang, Kecamatan Pakusari, tersebut kembali duduk di pembatas jalan. Momen itu ia manfaatkan beristirahat, lalu kembali beraksi ketika lampu berwarna merah lagi. Begitu seterusnya.

“Saya berangkat sejak Subuh setiap hari untuk meminta-minta,” ungkapnya, sambil mengelap keringat yang terus bercucuran di dahinya. Seolah-olah teriknya matahari sudah menjadi sahabatnya setiap hari. Saat mentari condong ke barat, itulah saatnya dia pulang. “Saya sudah lama seperti ini. Soalnya, tidak bisa lagi bekerja karena usia,” ucapnya, sembari mengingat kali pertama meminta-minta, namun tetap lupa. Jadi, dia mengaku terpaksa meminta-minta untuk mencukupi hidupnya yang sebatang kara.

Nur menambahkan, sejatinya kampus adalah tempat yang biasa dia jajaki untuk meminta uang. Dari fakultas satu ke fakultas lainnya. Namun, pandemi membuatnya harus berpindah tempat ke lampu merah. “Soalnya, tidak ada mahasiswa di kampus,” papar wanita kelahiran tahun 1950-an itu. Meski begitu, dia tidak pernah menetap di lampu merah itu saja, tapi selalu berpindah-pindah.

Naip, warga Kelurahan Wirolegi, Kecamatan Sumbersari, tidak seantusias Nur saat meminta-minta. Pria yang mengemis di lampu merah Jalan Letjen Suprapto, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, itu tidak beranjak dari tempat duduknya meski banyak kendaraan yang berhenti di depannya.

Belum lagi, dia tidak banyak berucap ketika sedang menengadahkan tangan karena suaranya sangat kecil dan berat. Dari tempatnya duduk, dia hanya mengode salah seorang pengendara yang berhenti tepat di depannya dengan mengacungkan kedua tangannya. Tangan kanan terbuka ke atas, sedangkan tangan kirinya menunjukkan recehan lima ratus rupiah. Gesekan recehan dan senyum yang dia suguhkan, diharapkan menjadi daya tarik bagi pengendara supaya mereka memberinya uang.

Soalnya saya bingung di rumah mau ngapain. Jadi, memilih untuk meminta-minta di lampu merah,” ungkapnya. Dia menyebut bahwa dirinya sempat malu saat kali pertama meminta duit ke pengendara. Takut kalau ada yang kenal. Namun kini, pria yang sudah menjadi pengemis sejak 2015 tersebut mengaku sudah terbiasa dan tak lagi malu.

Sementara Sani, pengemis yang lain, tampak kelelahan saat ditemui di sekitar lampu merah Pasar Tanjung. Ketika ditanya, dia menyatakan, dirinya baru saja berkeliling di sekitar pasar untuk meminta-minta. Sesekali, dia menyela saat Jawa Pos Radar Jember mencoba mengajaknya ngobrol. “Jangan lama-lama, tidak dapet uang saya nanti,” ucap lelaki kelahiran 1940-an itu.

Mengapa demikian? Sebab, warga Desa Sempolan, Kecamatan Silo, itu hanya berkeliling pada saat hari Minggu. Jadi, dia memanfaatkan waktu sehari itu untuk benar-benar mencari uang dengan meminta-minta. “Soalnya, istri saya butuh perawatan. Sementara uang yang saya dapatkan dari berjualan sayur tidak cukup,” ujarnya.

Sani mengaku, istrinya baru saja terkena kanker payudara, belum lama ini. Sekitar enam bulan lalu. Karena itu, dia mengaku terpaksa menjadi pengemis sejak akhir Oktober lalu. Dia harus naik lin kuning pada saat Subuh, lalu ke kota untuk meminta-minta. Dirinya tak lantas seharian berada di kota. “Bakda Zuhur sudah harus pulang. Kasihan istri saya sendirian,” lanjutnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu, kendaraan yang berhenti di lampu merah Jalan Letjen Panjaitan, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, cukup padat. Seketika, Nur beranjak dari tempat duduknya dan langsung menyodorkan tangannya di samping mobil yang berhenti. Dia memanfaatkan betul momentum yang hanya berlangsung tak sampai dua menit itu. “Minta uang, Pak, Bu,” tuturnya.

Sesekali, dia berhasil membuat si pengemudi membuka kaca mobil dan memberinya uang recehan. Satu per satu para pengemudi ia sapa. Harapannya sama, ada tangan yang menjulur mengeluarkan sedikit cuan. Aktivitas seperti itu terus dia lakukan hingga lampu berganti ke warna hijau.

Ketika kendaraan kembali berjalan, tubuh ringkih warga Desa Sumberpinang, Kecamatan Pakusari, tersebut kembali duduk di pembatas jalan. Momen itu ia manfaatkan beristirahat, lalu kembali beraksi ketika lampu berwarna merah lagi. Begitu seterusnya.

“Saya berangkat sejak Subuh setiap hari untuk meminta-minta,” ungkapnya, sambil mengelap keringat yang terus bercucuran di dahinya. Seolah-olah teriknya matahari sudah menjadi sahabatnya setiap hari. Saat mentari condong ke barat, itulah saatnya dia pulang. “Saya sudah lama seperti ini. Soalnya, tidak bisa lagi bekerja karena usia,” ucapnya, sembari mengingat kali pertama meminta-minta, namun tetap lupa. Jadi, dia mengaku terpaksa meminta-minta untuk mencukupi hidupnya yang sebatang kara.

Nur menambahkan, sejatinya kampus adalah tempat yang biasa dia jajaki untuk meminta uang. Dari fakultas satu ke fakultas lainnya. Namun, pandemi membuatnya harus berpindah tempat ke lampu merah. “Soalnya, tidak ada mahasiswa di kampus,” papar wanita kelahiran tahun 1950-an itu. Meski begitu, dia tidak pernah menetap di lampu merah itu saja, tapi selalu berpindah-pindah.

Naip, warga Kelurahan Wirolegi, Kecamatan Sumbersari, tidak seantusias Nur saat meminta-minta. Pria yang mengemis di lampu merah Jalan Letjen Suprapto, Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sumbersari, itu tidak beranjak dari tempat duduknya meski banyak kendaraan yang berhenti di depannya.

Belum lagi, dia tidak banyak berucap ketika sedang menengadahkan tangan karena suaranya sangat kecil dan berat. Dari tempatnya duduk, dia hanya mengode salah seorang pengendara yang berhenti tepat di depannya dengan mengacungkan kedua tangannya. Tangan kanan terbuka ke atas, sedangkan tangan kirinya menunjukkan recehan lima ratus rupiah. Gesekan recehan dan senyum yang dia suguhkan, diharapkan menjadi daya tarik bagi pengendara supaya mereka memberinya uang.

Soalnya saya bingung di rumah mau ngapain. Jadi, memilih untuk meminta-minta di lampu merah,” ungkapnya. Dia menyebut bahwa dirinya sempat malu saat kali pertama meminta duit ke pengendara. Takut kalau ada yang kenal. Namun kini, pria yang sudah menjadi pengemis sejak 2015 tersebut mengaku sudah terbiasa dan tak lagi malu.

Sementara Sani, pengemis yang lain, tampak kelelahan saat ditemui di sekitar lampu merah Pasar Tanjung. Ketika ditanya, dia menyatakan, dirinya baru saja berkeliling di sekitar pasar untuk meminta-minta. Sesekali, dia menyela saat Jawa Pos Radar Jember mencoba mengajaknya ngobrol. “Jangan lama-lama, tidak dapet uang saya nanti,” ucap lelaki kelahiran 1940-an itu.

Mengapa demikian? Sebab, warga Desa Sempolan, Kecamatan Silo, itu hanya berkeliling pada saat hari Minggu. Jadi, dia memanfaatkan waktu sehari itu untuk benar-benar mencari uang dengan meminta-minta. “Soalnya, istri saya butuh perawatan. Sementara uang yang saya dapatkan dari berjualan sayur tidak cukup,” ujarnya.

Sani mengaku, istrinya baru saja terkena kanker payudara, belum lama ini. Sekitar enam bulan lalu. Karena itu, dia mengaku terpaksa menjadi pengemis sejak akhir Oktober lalu. Dia harus naik lin kuning pada saat Subuh, lalu ke kota untuk meminta-minta. Dirinya tak lantas seharian berada di kota. “Bakda Zuhur sudah harus pulang. Kasihan istri saya sendirian,” lanjutnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/