alexametrics
30.1 C
Jember
Saturday, 2 July 2022

Seperti Merawat Bayi, Ada yang Bicara dan Tertawa Sendiri

Aktivitas pekerja sosial yang menjadi pendamping orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan warga lanjut usia, tak banyak diketahui masyarakat. Padahal selama ini merekalah yang dengan telaten merawat penghuni Liposos di Kelurahan Kaliwates tersebut. Seperti apa kegiatannya?

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Alunan musik dangdut terdengar dari sebuah bangunan di lingkungan pondok sosial (Liposos). Suara nada yang membuat orang ingin bergoyang ini tiba-tiba tak lagi terdengar. Bising kereta api yang melintas menenggelamkan irama musik. Padahal ada beberapa orang berwajah muram yang sedari tadi menikmati alunan musik itu. Mereka adalah penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) penghuni pondok yang berada di bawah Dinas Sosial (Dinsos) Jember.

Suasana yang semula murung pagi itu seketika berubah riang. Ini setelah ada beberapa pekerja sosial yang datang ke tempat para PMKS ini. Sebagian dari mereka ada yang ODGJ, sebagian lainnya adalah lansia telantar. Tak berselang lama, beberapa orang terlihat duduk santai di depan kamar. Ada yang menyapu, berjemur, serta ada juga yang dimandikan oleh pekerja sosial. Aktivitas mereka pagi itu disesuaikan dengan perkembangan kesehatan jasmani dan rohaninya.

Beberapa dari mereka terlihat langsung sigap mengulurkan tangan saat diajak bersalaman oleh wartawan Jawa Pos Radar Jember. Sementara, beberapa penghuni Liposos lain terlihat menunggu instruksi dari pekerja sosial. Hal itu menandakan, perkembangan kesehatan mereka, baik jasmani maupun rohani, berbeda-beda.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pengelola UPT Liposos Dinsos Jember Roni Efendi menjelaskan, pekerja sosial yang selalu mendampingi ada sebanyak 15 orang. Mereka memiliki tugas masing-masing mulai dari memandikan, mengajak makan, berkomunikasi, sampai pada pelatihan-pelatihan berinteraksi dengan lingkungan.

Roni menyebut, khusus warga yang statusnya tidak bisa apa-apa, maka pekerja sosial mendampinginya secara penuh. Mereka yang kebanyakan lansia harus dimandikan ibarat bayi, disuapi, hingga keadaannya membaik. “Yang menjadi rutinitas seperti memandikan, kecuali bagi yang sudah bisa mandi sendiri. Kemudian makan, dan memberi pelatihan seperti mengajak komunikasi dan banyak lagi,” katanya.

Bagi penghuni yang statusnya tidak bisa apa-apa atau total care, maka ruangannya dibedakan dengan mereka yang sudah mulai pulih kesehatan jasmani dan rohaninya. Setiap kali mereka bermain selalu diawasi dan diberikan pembinaan. “Klien juga diajak senam sehat setiap Jumat. Kemudian ada pula tausiah atau pengajian di hari yang sama. Bahkan, juga ada rukiah dengan jadwal tertentu,” jelas Roni.

Agar para penghuni Liposos yang berlokasi di Jalan Tawes, Kaliwates, tersebut terjaga kesehatannya, tim medis juga rutin melakukan pemeriksaan dan pengobatan. Jadwal tim medis ke Liposos menurut Roni dilakukan setiap hari Kamis. Roni mengungkap, dulunya, warga yang sudah dinyatakan sehat jasmani dan rohani langsung dipulangkan ke rumahnya. Akan tetapi, hal itu kurang efektif karena banyak di antara mereka yang dipulangkan justru kembali kambuh.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Alunan musik dangdut terdengar dari sebuah bangunan di lingkungan pondok sosial (Liposos). Suara nada yang membuat orang ingin bergoyang ini tiba-tiba tak lagi terdengar. Bising kereta api yang melintas menenggelamkan irama musik. Padahal ada beberapa orang berwajah muram yang sedari tadi menikmati alunan musik itu. Mereka adalah penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) penghuni pondok yang berada di bawah Dinas Sosial (Dinsos) Jember.

Suasana yang semula murung pagi itu seketika berubah riang. Ini setelah ada beberapa pekerja sosial yang datang ke tempat para PMKS ini. Sebagian dari mereka ada yang ODGJ, sebagian lainnya adalah lansia telantar. Tak berselang lama, beberapa orang terlihat duduk santai di depan kamar. Ada yang menyapu, berjemur, serta ada juga yang dimandikan oleh pekerja sosial. Aktivitas mereka pagi itu disesuaikan dengan perkembangan kesehatan jasmani dan rohaninya.

Beberapa dari mereka terlihat langsung sigap mengulurkan tangan saat diajak bersalaman oleh wartawan Jawa Pos Radar Jember. Sementara, beberapa penghuni Liposos lain terlihat menunggu instruksi dari pekerja sosial. Hal itu menandakan, perkembangan kesehatan mereka, baik jasmani maupun rohani, berbeda-beda.

Pengelola UPT Liposos Dinsos Jember Roni Efendi menjelaskan, pekerja sosial yang selalu mendampingi ada sebanyak 15 orang. Mereka memiliki tugas masing-masing mulai dari memandikan, mengajak makan, berkomunikasi, sampai pada pelatihan-pelatihan berinteraksi dengan lingkungan.

Roni menyebut, khusus warga yang statusnya tidak bisa apa-apa, maka pekerja sosial mendampinginya secara penuh. Mereka yang kebanyakan lansia harus dimandikan ibarat bayi, disuapi, hingga keadaannya membaik. “Yang menjadi rutinitas seperti memandikan, kecuali bagi yang sudah bisa mandi sendiri. Kemudian makan, dan memberi pelatihan seperti mengajak komunikasi dan banyak lagi,” katanya.

Bagi penghuni yang statusnya tidak bisa apa-apa atau total care, maka ruangannya dibedakan dengan mereka yang sudah mulai pulih kesehatan jasmani dan rohaninya. Setiap kali mereka bermain selalu diawasi dan diberikan pembinaan. “Klien juga diajak senam sehat setiap Jumat. Kemudian ada pula tausiah atau pengajian di hari yang sama. Bahkan, juga ada rukiah dengan jadwal tertentu,” jelas Roni.

Agar para penghuni Liposos yang berlokasi di Jalan Tawes, Kaliwates, tersebut terjaga kesehatannya, tim medis juga rutin melakukan pemeriksaan dan pengobatan. Jadwal tim medis ke Liposos menurut Roni dilakukan setiap hari Kamis. Roni mengungkap, dulunya, warga yang sudah dinyatakan sehat jasmani dan rohani langsung dipulangkan ke rumahnya. Akan tetapi, hal itu kurang efektif karena banyak di antara mereka yang dipulangkan justru kembali kambuh.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Alunan musik dangdut terdengar dari sebuah bangunan di lingkungan pondok sosial (Liposos). Suara nada yang membuat orang ingin bergoyang ini tiba-tiba tak lagi terdengar. Bising kereta api yang melintas menenggelamkan irama musik. Padahal ada beberapa orang berwajah muram yang sedari tadi menikmati alunan musik itu. Mereka adalah penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) penghuni pondok yang berada di bawah Dinas Sosial (Dinsos) Jember.

Suasana yang semula murung pagi itu seketika berubah riang. Ini setelah ada beberapa pekerja sosial yang datang ke tempat para PMKS ini. Sebagian dari mereka ada yang ODGJ, sebagian lainnya adalah lansia telantar. Tak berselang lama, beberapa orang terlihat duduk santai di depan kamar. Ada yang menyapu, berjemur, serta ada juga yang dimandikan oleh pekerja sosial. Aktivitas mereka pagi itu disesuaikan dengan perkembangan kesehatan jasmani dan rohaninya.

Beberapa dari mereka terlihat langsung sigap mengulurkan tangan saat diajak bersalaman oleh wartawan Jawa Pos Radar Jember. Sementara, beberapa penghuni Liposos lain terlihat menunggu instruksi dari pekerja sosial. Hal itu menandakan, perkembangan kesehatan mereka, baik jasmani maupun rohani, berbeda-beda.

Pengelola UPT Liposos Dinsos Jember Roni Efendi menjelaskan, pekerja sosial yang selalu mendampingi ada sebanyak 15 orang. Mereka memiliki tugas masing-masing mulai dari memandikan, mengajak makan, berkomunikasi, sampai pada pelatihan-pelatihan berinteraksi dengan lingkungan.

Roni menyebut, khusus warga yang statusnya tidak bisa apa-apa, maka pekerja sosial mendampinginya secara penuh. Mereka yang kebanyakan lansia harus dimandikan ibarat bayi, disuapi, hingga keadaannya membaik. “Yang menjadi rutinitas seperti memandikan, kecuali bagi yang sudah bisa mandi sendiri. Kemudian makan, dan memberi pelatihan seperti mengajak komunikasi dan banyak lagi,” katanya.

Bagi penghuni yang statusnya tidak bisa apa-apa atau total care, maka ruangannya dibedakan dengan mereka yang sudah mulai pulih kesehatan jasmani dan rohaninya. Setiap kali mereka bermain selalu diawasi dan diberikan pembinaan. “Klien juga diajak senam sehat setiap Jumat. Kemudian ada pula tausiah atau pengajian di hari yang sama. Bahkan, juga ada rukiah dengan jadwal tertentu,” jelas Roni.

Agar para penghuni Liposos yang berlokasi di Jalan Tawes, Kaliwates, tersebut terjaga kesehatannya, tim medis juga rutin melakukan pemeriksaan dan pengobatan. Jadwal tim medis ke Liposos menurut Roni dilakukan setiap hari Kamis. Roni mengungkap, dulunya, warga yang sudah dinyatakan sehat jasmani dan rohani langsung dipulangkan ke rumahnya. Akan tetapi, hal itu kurang efektif karena banyak di antara mereka yang dipulangkan justru kembali kambuh.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/