alexametrics
24.3 C
Jember
Tuesday, 17 May 2022

Andai Tiga Jam Lebih Sabar, Mungkin..

Bencana yang menerjang kawasan Panti pada 2006 silam masih melekat diingatan warga. Khususnya bagi mereka yang tinggal di Desa Suci dan Kemiri. Kini, 17 tahun sudah tragedi itu berlalu. Petaka itu tak hanya menyisakan duka, tapi juga pelajaran berharga. Berikut penuturan sejumlah korban selamat.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sore itu, semilir angin di kawasan Pegunungan Argopuro seolah menghinoptis tubuh yang lelah. Sempat terpikir berhenti sejenak untuk menikmati pemandangan perkebunan karet dan kopi. Bentangan perkebunan itu seolah menyambut ketika masuk kawasan batas Desa Kemiri dan Desa Suci di Kecamatan Panti. Namun, niat tersebut urung. Ada janji yang harus ditepati.

Kendaraan terus berjalan, hingga sampai di sebuah warung di Dusun Gaplek, Desa Suci. Seorang lelaki terlihat mematung. Dia bernama Muhandari. Sesekali pria itu memandangi bunga yang berjejer di samping kanan kirinya. Tak ada senyum yang merekah dari bibirnya. “Bunganya bagus-bagus, Pak?” tanya kami. “Iya. Dulu, saya yang menanamnya,” kata Muhandari menjawab Jawa Pos Radar Jember.

Wajah Muhandari masih terlihat muram, sangat kontras dengan bunga di dekatnya yang bermekaran. Muka masamnya bukan tanpa alasan. “Inilah bunga-bunga yang ditanam untuk menghidupkan kembali tanah yang diporak-porandakan banjir bandang silam,” katanya, menyambung pembicaraan saat ditemui, pekan kemarin.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kakek 72 tahun itu sepertinya menyimpan ingatan yang begitu mendalam terhadap tragedi 17 tahun silam. Banjir yang terjadi pada pergantian tahun baru 2006 itu begitu lekat dirasakan oleh warga sekitar, termasuk Muhandari, yang menjadi salah satu korban selamat dari musibah itu.

Ia mengisahkan bagaimana petaka itu bisa begitu rekat di ingatannya, yang tak hanya dikenang sebagai musibah, tapi juga banyak kuasa Tuhan yang dinilainya tidak bisa dinalar. “Coba sampean bayangkan, pernah melihat air bah yang menerjang ketinggian? Biasanya air dari ketinggian ke bawah, ini sebaliknya. Percaya tidak?” ucap Muhandari dengan nada bertanya.

Tatapannya tiba-tiba tajam, mendongak ke samping atas, ke sebuah tempat yang berlokasi sekitar satu jam perjalanan dari tempat tinggalnya. Ternyata, tempat yang dimaksud itu adalah sumber bencana itu keluar. Air bah yang dinilainya di luar nalar. “Kejadiannya persis saat pergantian tahun. Saat itu, hujan ringan di sore hari. Tapi berlanjut sampai Isya,” katanya.

Karena rintik hujan yang berlanjut itu, salah seorang dari warga sempat meminta warga lainnya naik menuju perkampungan paling atas di kawasan tersebut. Tujuannya bukan apa, mencari selamat saja. “Ya sudah, pas setelah Isya banyak warga yang mulai ke atas agar aman. Karena khawatir sewaktu-waktu bisa ada air bah,” ungkapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sore itu, semilir angin di kawasan Pegunungan Argopuro seolah menghinoptis tubuh yang lelah. Sempat terpikir berhenti sejenak untuk menikmati pemandangan perkebunan karet dan kopi. Bentangan perkebunan itu seolah menyambut ketika masuk kawasan batas Desa Kemiri dan Desa Suci di Kecamatan Panti. Namun, niat tersebut urung. Ada janji yang harus ditepati.

Kendaraan terus berjalan, hingga sampai di sebuah warung di Dusun Gaplek, Desa Suci. Seorang lelaki terlihat mematung. Dia bernama Muhandari. Sesekali pria itu memandangi bunga yang berjejer di samping kanan kirinya. Tak ada senyum yang merekah dari bibirnya. “Bunganya bagus-bagus, Pak?” tanya kami. “Iya. Dulu, saya yang menanamnya,” kata Muhandari menjawab Jawa Pos Radar Jember.

Wajah Muhandari masih terlihat muram, sangat kontras dengan bunga di dekatnya yang bermekaran. Muka masamnya bukan tanpa alasan. “Inilah bunga-bunga yang ditanam untuk menghidupkan kembali tanah yang diporak-porandakan banjir bandang silam,” katanya, menyambung pembicaraan saat ditemui, pekan kemarin.

Kakek 72 tahun itu sepertinya menyimpan ingatan yang begitu mendalam terhadap tragedi 17 tahun silam. Banjir yang terjadi pada pergantian tahun baru 2006 itu begitu lekat dirasakan oleh warga sekitar, termasuk Muhandari, yang menjadi salah satu korban selamat dari musibah itu.

Ia mengisahkan bagaimana petaka itu bisa begitu rekat di ingatannya, yang tak hanya dikenang sebagai musibah, tapi juga banyak kuasa Tuhan yang dinilainya tidak bisa dinalar. “Coba sampean bayangkan, pernah melihat air bah yang menerjang ketinggian? Biasanya air dari ketinggian ke bawah, ini sebaliknya. Percaya tidak?” ucap Muhandari dengan nada bertanya.

Tatapannya tiba-tiba tajam, mendongak ke samping atas, ke sebuah tempat yang berlokasi sekitar satu jam perjalanan dari tempat tinggalnya. Ternyata, tempat yang dimaksud itu adalah sumber bencana itu keluar. Air bah yang dinilainya di luar nalar. “Kejadiannya persis saat pergantian tahun. Saat itu, hujan ringan di sore hari. Tapi berlanjut sampai Isya,” katanya.

Karena rintik hujan yang berlanjut itu, salah seorang dari warga sempat meminta warga lainnya naik menuju perkampungan paling atas di kawasan tersebut. Tujuannya bukan apa, mencari selamat saja. “Ya sudah, pas setelah Isya banyak warga yang mulai ke atas agar aman. Karena khawatir sewaktu-waktu bisa ada air bah,” ungkapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sore itu, semilir angin di kawasan Pegunungan Argopuro seolah menghinoptis tubuh yang lelah. Sempat terpikir berhenti sejenak untuk menikmati pemandangan perkebunan karet dan kopi. Bentangan perkebunan itu seolah menyambut ketika masuk kawasan batas Desa Kemiri dan Desa Suci di Kecamatan Panti. Namun, niat tersebut urung. Ada janji yang harus ditepati.

Kendaraan terus berjalan, hingga sampai di sebuah warung di Dusun Gaplek, Desa Suci. Seorang lelaki terlihat mematung. Dia bernama Muhandari. Sesekali pria itu memandangi bunga yang berjejer di samping kanan kirinya. Tak ada senyum yang merekah dari bibirnya. “Bunganya bagus-bagus, Pak?” tanya kami. “Iya. Dulu, saya yang menanamnya,” kata Muhandari menjawab Jawa Pos Radar Jember.

Wajah Muhandari masih terlihat muram, sangat kontras dengan bunga di dekatnya yang bermekaran. Muka masamnya bukan tanpa alasan. “Inilah bunga-bunga yang ditanam untuk menghidupkan kembali tanah yang diporak-porandakan banjir bandang silam,” katanya, menyambung pembicaraan saat ditemui, pekan kemarin.

Kakek 72 tahun itu sepertinya menyimpan ingatan yang begitu mendalam terhadap tragedi 17 tahun silam. Banjir yang terjadi pada pergantian tahun baru 2006 itu begitu lekat dirasakan oleh warga sekitar, termasuk Muhandari, yang menjadi salah satu korban selamat dari musibah itu.

Ia mengisahkan bagaimana petaka itu bisa begitu rekat di ingatannya, yang tak hanya dikenang sebagai musibah, tapi juga banyak kuasa Tuhan yang dinilainya tidak bisa dinalar. “Coba sampean bayangkan, pernah melihat air bah yang menerjang ketinggian? Biasanya air dari ketinggian ke bawah, ini sebaliknya. Percaya tidak?” ucap Muhandari dengan nada bertanya.

Tatapannya tiba-tiba tajam, mendongak ke samping atas, ke sebuah tempat yang berlokasi sekitar satu jam perjalanan dari tempat tinggalnya. Ternyata, tempat yang dimaksud itu adalah sumber bencana itu keluar. Air bah yang dinilainya di luar nalar. “Kejadiannya persis saat pergantian tahun. Saat itu, hujan ringan di sore hari. Tapi berlanjut sampai Isya,” katanya.

Karena rintik hujan yang berlanjut itu, salah seorang dari warga sempat meminta warga lainnya naik menuju perkampungan paling atas di kawasan tersebut. Tujuannya bukan apa, mencari selamat saja. “Ya sudah, pas setelah Isya banyak warga yang mulai ke atas agar aman. Karena khawatir sewaktu-waktu bisa ada air bah,” ungkapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/