alexametrics
30.5 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Terpaksa Jualan Lesehan

Imbas Tersendatnya Bansos Pedagang Korban Kebakaran

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Beragam problem masih membelit pedagang Pasar Kencong Baru eks korban kebakaran. Mulai dari belum terdistribusikannya bantuan sosial (bansos), tersendatnya proses verifikasi, hingga terbitnya surat izin menempati (SIM). Terkatung-katungnya masalah tersebut berdampak ke pedagang. Bahkan, sebagian ada yang terpaksa jualan lesehan karena tak mendapatkan lapak.

Untung, pedagang makanan ringan di Pasar Kencong Baru mengatakan, dalam proses pengajuan bansos ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindang) Jember, pedagang harus melengkapi beberapa data. Oleh karena itu, paguyuban pasar mengumpulkan pedagang yang belum mendapatkan bansos untuk melewati proses verifikasi yang dilakukan. “Total ada 84 yang belum dapat bansos. Sebagian sudah terverifikasi,” katanya.

Pria yang berjualan di blok BC-6 Pasar Kencong Baru itu menambahkan, pedagang yang tidak kunjung terverifikasi Disperindag lantaran kios yang dikelola sudah pindah tangan ke anaknya. “Orang tuanya ada yang sudah pindah. Ada juga yang meninggal dunia. Jadi, anaknya yang mau meneruskan itu bingung, harus bagaimana melengkapi data untuk verifikasi,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut dia, pedagang yang belum mendapatkan bansos tersebut kondisinya memang beragam. Sebagian ada yang secara ekonomi mampu, tapi kebanyakan tidak. Bila yang ekonominya lemah, maka terpaksa pedagang tidak menempati lapak dan berdagang dengan lesehan. “Pedagang yang berjualan lesehan tersebut juga sempat disuruh masuk oleh pengelola pasar. Tapi saat pemilik toko itu buka, yang lesehan pindah atau pulang,” jelasnya.

Ada juga pedagang yang berkecukupan memilih ambil lapak dagangan di Pasar Kencong. Untung mengungkapkan, bagi pedagang yang punya uang, mereka membeli kios ke pengembang yang dikelola oleh PT. “Mereka dapat diskon. Sehingga, saat bansos keluar, akan dipotongkan,” tuturnya.

Untung mengaku, saat ini pedagang yang belum menerima bansos ibarat jatuh tertimpa tangga. Sebab, selain tak jelasnya realisasi bansos, mereka juga terdampak pandemi Covid-19. “Sekarang ini jual beli di pasar belum kembali pulih. Bila dagangan tidak laku, mau tidak mau harus keliling,” ujarnya.

Sementara itu, juru bicara pedagang Pasar Kencong Baru, Martin Alamsyah mengatakan, dalam verifikasi yang dibutuhkan adalah dokumen pedagang yaitu SIM. Namun, banyak SIM pedagang pada waktu itu turut terbakar bersama Pasar Kencong. Karena itu, untuk mendapatkan datanya, pedagang minta salinan pada waktu itu di Dinas Pasar. “Dulu masih ada Dinas Pasar. Cari salinan SIM masih ada. Sekarang Dinas Pasar tidak ada, digantikan Disperindang,” tuturnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Beragam problem masih membelit pedagang Pasar Kencong Baru eks korban kebakaran. Mulai dari belum terdistribusikannya bantuan sosial (bansos), tersendatnya proses verifikasi, hingga terbitnya surat izin menempati (SIM). Terkatung-katungnya masalah tersebut berdampak ke pedagang. Bahkan, sebagian ada yang terpaksa jualan lesehan karena tak mendapatkan lapak.

Untung, pedagang makanan ringan di Pasar Kencong Baru mengatakan, dalam proses pengajuan bansos ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindang) Jember, pedagang harus melengkapi beberapa data. Oleh karena itu, paguyuban pasar mengumpulkan pedagang yang belum mendapatkan bansos untuk melewati proses verifikasi yang dilakukan. “Total ada 84 yang belum dapat bansos. Sebagian sudah terverifikasi,” katanya.

Pria yang berjualan di blok BC-6 Pasar Kencong Baru itu menambahkan, pedagang yang tidak kunjung terverifikasi Disperindag lantaran kios yang dikelola sudah pindah tangan ke anaknya. “Orang tuanya ada yang sudah pindah. Ada juga yang meninggal dunia. Jadi, anaknya yang mau meneruskan itu bingung, harus bagaimana melengkapi data untuk verifikasi,” jelasnya.

Menurut dia, pedagang yang belum mendapatkan bansos tersebut kondisinya memang beragam. Sebagian ada yang secara ekonomi mampu, tapi kebanyakan tidak. Bila yang ekonominya lemah, maka terpaksa pedagang tidak menempati lapak dan berdagang dengan lesehan. “Pedagang yang berjualan lesehan tersebut juga sempat disuruh masuk oleh pengelola pasar. Tapi saat pemilik toko itu buka, yang lesehan pindah atau pulang,” jelasnya.

Ada juga pedagang yang berkecukupan memilih ambil lapak dagangan di Pasar Kencong. Untung mengungkapkan, bagi pedagang yang punya uang, mereka membeli kios ke pengembang yang dikelola oleh PT. “Mereka dapat diskon. Sehingga, saat bansos keluar, akan dipotongkan,” tuturnya.

Untung mengaku, saat ini pedagang yang belum menerima bansos ibarat jatuh tertimpa tangga. Sebab, selain tak jelasnya realisasi bansos, mereka juga terdampak pandemi Covid-19. “Sekarang ini jual beli di pasar belum kembali pulih. Bila dagangan tidak laku, mau tidak mau harus keliling,” ujarnya.

Sementara itu, juru bicara pedagang Pasar Kencong Baru, Martin Alamsyah mengatakan, dalam verifikasi yang dibutuhkan adalah dokumen pedagang yaitu SIM. Namun, banyak SIM pedagang pada waktu itu turut terbakar bersama Pasar Kencong. Karena itu, untuk mendapatkan datanya, pedagang minta salinan pada waktu itu di Dinas Pasar. “Dulu masih ada Dinas Pasar. Cari salinan SIM masih ada. Sekarang Dinas Pasar tidak ada, digantikan Disperindang,” tuturnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Beragam problem masih membelit pedagang Pasar Kencong Baru eks korban kebakaran. Mulai dari belum terdistribusikannya bantuan sosial (bansos), tersendatnya proses verifikasi, hingga terbitnya surat izin menempati (SIM). Terkatung-katungnya masalah tersebut berdampak ke pedagang. Bahkan, sebagian ada yang terpaksa jualan lesehan karena tak mendapatkan lapak.

Untung, pedagang makanan ringan di Pasar Kencong Baru mengatakan, dalam proses pengajuan bansos ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindang) Jember, pedagang harus melengkapi beberapa data. Oleh karena itu, paguyuban pasar mengumpulkan pedagang yang belum mendapatkan bansos untuk melewati proses verifikasi yang dilakukan. “Total ada 84 yang belum dapat bansos. Sebagian sudah terverifikasi,” katanya.

Pria yang berjualan di blok BC-6 Pasar Kencong Baru itu menambahkan, pedagang yang tidak kunjung terverifikasi Disperindag lantaran kios yang dikelola sudah pindah tangan ke anaknya. “Orang tuanya ada yang sudah pindah. Ada juga yang meninggal dunia. Jadi, anaknya yang mau meneruskan itu bingung, harus bagaimana melengkapi data untuk verifikasi,” jelasnya.

Menurut dia, pedagang yang belum mendapatkan bansos tersebut kondisinya memang beragam. Sebagian ada yang secara ekonomi mampu, tapi kebanyakan tidak. Bila yang ekonominya lemah, maka terpaksa pedagang tidak menempati lapak dan berdagang dengan lesehan. “Pedagang yang berjualan lesehan tersebut juga sempat disuruh masuk oleh pengelola pasar. Tapi saat pemilik toko itu buka, yang lesehan pindah atau pulang,” jelasnya.

Ada juga pedagang yang berkecukupan memilih ambil lapak dagangan di Pasar Kencong. Untung mengungkapkan, bagi pedagang yang punya uang, mereka membeli kios ke pengembang yang dikelola oleh PT. “Mereka dapat diskon. Sehingga, saat bansos keluar, akan dipotongkan,” tuturnya.

Untung mengaku, saat ini pedagang yang belum menerima bansos ibarat jatuh tertimpa tangga. Sebab, selain tak jelasnya realisasi bansos, mereka juga terdampak pandemi Covid-19. “Sekarang ini jual beli di pasar belum kembali pulih. Bila dagangan tidak laku, mau tidak mau harus keliling,” ujarnya.

Sementara itu, juru bicara pedagang Pasar Kencong Baru, Martin Alamsyah mengatakan, dalam verifikasi yang dibutuhkan adalah dokumen pedagang yaitu SIM. Namun, banyak SIM pedagang pada waktu itu turut terbakar bersama Pasar Kencong. Karena itu, untuk mendapatkan datanya, pedagang minta salinan pada waktu itu di Dinas Pasar. “Dulu masih ada Dinas Pasar. Cari salinan SIM masih ada. Sekarang Dinas Pasar tidak ada, digantikan Disperindang,” tuturnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/